Harga Minyak Dunia Melonjak, Ketegangan Iran-AS Kembali Picu Kekhawatiran Pasokan

Kekhawatiran pasokan melalui Selat Hormuz mendorong harga minyak ke level tertinggi dalam beberapa pekan.

- Jurnalis

Senin, 13 Juli 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Harga Minyak Dunia Melonjak, Ketegangan Iran-AS Kembali Picu Kekhawatiran Pasokan. (Foto: REUTERS/Eli Hartman/detik)

Harga Minyak Dunia Melonjak, Ketegangan Iran-AS Kembali Picu Kekhawatiran Pasokan. (Foto: REUTERS/Eli Hartman/detik)

Intiperistiwa.com – Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Senin, 13 Juli 2026. Kenaikan itu mengikuti meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Akibatnya, pelaku pasar kembali mencermati keamanan pasokan energi global. Selain itu, perhatian investor tertuju pada Selat Hormuz sebagai jalur utama perdagangan minyak.

Data Refinitiv menunjukkan harga minyak Brent kontrak September mencapai US$79,27 per barel pada pukul 09.30 WIB. Angka itu naik 4,29 persen dibandingkan penutupan Jumat di US$76,01 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate mencapai US$74,54 per barel. Nilai tersebut meningkat 4,38 persen dari posisi sebelumnya US$71,41 per barel.

Brent Sentuh Level Tertinggi

Kenaikan tersebut membawa harga Brent ke level tertinggi sejak pertengahan Juni. Selain itu, Brent menguat sekitar 10,8 persen dibandingkan awal Juli. Saat itu, Brent berada di US$71,57 per barel. Sementara itu, WTI mencatat kenaikan sekitar 8,7 persen dari posisi awal bulan di US$68,58 per barel.

Reuters melaporkan meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah selama akhir pekan. Iran memperluas serangan ke Qatar dan Uni Emirat Arab. Di sisi lain, Amerika Serikat kembali melancarkan serangan ke Iran. Karena itu, risiko gangguan pasokan energi dari kawasan Teluk semakin meningkat.

Selat Hormuz Jadi Sorotan Pasar

Investor terus memantau kondisi Selat Hormuz. Jalur tersebut menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Selain itu, rute itu menjadi salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka bagi lalu lintas komersial.

Baca Juga :  Bupati Monadi Hadiri Kenduri Sko Tigo Luhah Belui 2026

Namun, Iran sebelumnya menyatakan telah menutup jalur tersebut. Pemerintah Iran mengambil langkah itu setelah kapal melintasi rute yang tidak mendapat persetujuan. Selanjutnya, serangan terhadap kapal tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar. Oleh karena itu, pelaku industri terus memantau perkembangan di kawasan.

Data Kpler menunjukkan hanya enam kapal melintasi Selat Hormuz pada Minggu. Jumlah itu menjadi yang terendah dalam lima pekan terakhir. Selain itu, penurunan aktivitas pelayaran memperbesar kekhawatiran distribusi minyak global. Akibatnya, sentimen pasar kembali bergerak ke arah negatif.

Pasokan Global Masih Menghadapi Tantangan

Meski harga minyak melonjak, kenaikannya belum menyamai lonjakan saat puncak konflik sebelumnya. Analis menilai pasar masih melihat kondisi terkini sebagai eskalasi gencatan senjata yang rapuh. Karena itu, pelaku pasar belum menganggap kesepakatan damai benar-benar berakhir.

International Energy Agency merilis laporan bulanan pada Jumat lalu. Laporan itu mencatat pasokan minyak global meningkat 4,1 juta barel per hari. Peningkatan tersebut mengikuti kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran pada Juni. Namun, pasokan itu masih lebih rendah 9,4 juta barel per hari dibandingkan sebelum perang.

Baca Juga :  Program 3 Juta Rumah Dipermudah, Syarat Domisili KTP Segera Dihapus

Minyak Iran Kehilangan Daya Saing

Iran kini menghadapi tantangan baru dalam pasar ekspor minyak. Reuters melaporkan volume minyak Iran di laut terus bertambah. Selain itu, Iran meningkatkan ekspor selama masa perdamaian sementara. Namun, pembeli utama di China mulai memilih minyak dari Irak, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Kilang independen di Provinsi Shandong membeli sekitar 16 juta hingga 20,5 juta barel minyak. Pembelian tersebut berasal dari tiga negara Timur Tengah. Selain itu, transaksi itu menjadi pembelian minyak non-sanksi terbesar sejak konflik dimulai. Pergeseran tersebut mengurangi daya saing minyak Iran.

Kargo dari Irak, Abu Dhabi, dan negara Teluk menawarkan diskon US$5 hingga US$8 per barel terhadap Brent. Sebaliknya, minyak Iran hanya menawarkan diskon US$2 hingga US$3 per barel. Bahkan, seorang pedagang senior menyebut minyak Iran sebagai yang termahal di kawasan. Oleh karena itu, minat pembeli terus melemah.

Data Kpler menunjukkan impor minyak Iran oleh China mencapai 556 ribu barel per hari bulan ini. Angka tersebut menjadi yang terendah sejak Januari 2023. Sementara itu, ketegangan di Selat Hormuz terus membayangi perdagangan energi global. Karena itu, pelaku pasar masih mengantisipasi risiko geopolitik dalam waktu dekat. (iD/*)

Berita Terkait

Pemerintah Siapkan CNG 3 Kg sebagai Alternatif LPG pada 2027
Sudah Pensiun? Ini 12 Ide Usaha Sampingan yang Bisa Dikerjakan dari Rumah
IGIC 2026 di Masjid Istiqlal Perkuat Solidaritas Palestina dan Perdamaian Dunia
Rekening Gratis Rp50 Ribu untuk Warga 17 Tahun, Siapa yang Dapat dan Kapan Berjalan?
7 Merek Rokok Tertua di Indonesia, Ada yang Masih Bertahan hingga Kini
Mau Coba Bisnis Barang Impor? 8 Produk Ini Laku Keras di Indonesia, dari Gadget hingga Fashion
Tertarik Terjun ke Bisnis Pertanian? Ini 10 Usaha Pertanian Modern yang Menjanjikan dan Layak Dicoba
Di Indonesia Ikan Nila Banyak Dicari, tapi Spesies Ini Jadi Ancaman di Negara Tetangga, Ada Apa?
Berita ini 16 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 07:00 WIB

Pemerintah Siapkan CNG 3 Kg sebagai Alternatif LPG pada 2027

Senin, 28 September 2026 - 16:00 WIB

Sudah Pensiun? Ini 12 Ide Usaha Sampingan yang Bisa Dikerjakan dari Rumah

Senin, 28 September 2026 - 07:00 WIB

IGIC 2026 di Masjid Istiqlal Perkuat Solidaritas Palestina dan Perdamaian Dunia

Kamis, 24 September 2026 - 22:00 WIB

Rekening Gratis Rp50 Ribu untuk Warga 17 Tahun, Siapa yang Dapat dan Kapan Berjalan?

Selasa, 22 September 2026 - 13:00 WIB

7 Merek Rokok Tertua di Indonesia, Ada yang Masih Bertahan hingga Kini

Berita Terbaru