Intiperistiwa.com – Sejarawan Harvard Jill Lepore memperingatkan ancaman negara buatan di era AI pada masa depan. Ia membahas gagasan tersebut dalam podcast “Hard Fork” milik New York Times. Menurut Lepore, sistem itu perlahan dapat menggantikan tatanan negara tradisional. Selain itu, perubahan tersebut berpotensi mengurangi otonomi manusia dalam menentukan arah pemerintahan.
Dalam gambaran Lepore, mesin akan mengambil semakin banyak keputusan dalam sistem pemerintahan. Sementara itu, korporasi memiliki dan mengendalikan mesin serta teknologi tersebut. Kondisi itu berbeda dengan pemerintahan yang mengandalkan persetujuan masyarakat. Karena itu, Lepore menyoroti kemungkinan berkurangnya kendali manusia dalam tatanan tersebut.
Lepore menegaskan bahwa masyarakat belum sepenuhnya hidup dalam sebuah “negara buatan”. Namun, ia menilai berbagai pihak mulai membangun dan mewujudkan unsur tatanan tersebut. Ia juga menyoroti pandangan sejumlah elite berpengaruh mengenai kekuasaan mereka. Menurutnya, kelompok tersebut ingin melampaui pemerintah sah dan para pemilih yang menentukan jalannya pemerintahan.
Lepore menilai kelompok elite yang mendorong retorika tersebut tidak mengutamakan keinginan masyarakat. Selain itu, ia melihat penolakan masyarakat terhadap AI dan pembangunan pusat data sebagai bagian persoalan. detikINET mengutip pernyataannya dari Futurism pada Kamis, 27 Agustus 2026. Lepore kemudian menjelaskan pandangannya mengenai kondisi tersebut.
“Karena kenyataannya, apa yang diinginkan masyarakat adalah tidak adanya AI dan tidak adanya pusat data. Jadi, itulah krisisnya,” sebutnya.
Korporasi Semakin Menguasai Infrastruktur Digital
Lepore membahas konsep tersebut lebih jauh dalam buku terbarunya, The Rise and Fall of the Artificial State. Buku itu akan segera terbit dan mengulas gagasan mengenai negara buatan. Menurut Lepore, semakin banyak korporasi mengambil fungsi yang sebelumnya berkaitan dengan negara. Selain itu, perusahaan tersebut memiliki dan mengendalikan berbagai infrastruktur komunikasi digital.
Kondisi tersebut turut memengaruhi cara masyarakat memperoleh berita dan informasi mengenai pemilu. Korporasi juga menguasai medium yang membantu masyarakat menentukan informasi tentang pilihan politik. Dahulu, televisi dan radio memainkan peran besar dalam penyebaran informasi. Namun, media sosial kini mengambil peran yang semakin dominan.
Menurut Lepore, AI bukan satu-satunya kekuatan yang mendorong munculnya negara buatan. Namun, teknologi tersebut dapat mempercepat perubahan yang telah berlangsung. Sebagai contoh, sebagian orang bertanya kepada ChatGPT mengenai siapa yang sebaiknya mereka pilih. Mereka kemudian mengurangi interaksi dengan tetangga, pejabat setempat, atau pakar mengenai persoalan tersebut.
AI juga dapat berperan dalam penyusunan berbagai pesan politik yang masyarakat lihat. Selain itu, mesin membantu proses pengambilan keputusan pada berbagai tingkatan. Teknologi tersebut juga semakin memperkuat kemampuan pengawasan terhadap masyarakat. Sistem AI dapat memproses data dalam jumlah besar yang berbagai pihak kumpulkan dari banyak orang.
Lepore Soroti Retorika Pro-AI Silicon Valley
Lepore turut menyoroti sejumlah retorika pro-AI yang berkembang dari Silicon Valley. Salah satunya menggambarkan kecerdasan buatan sebagai perkembangan yang tidak dapat manusia hindari. Selain itu, pendukung pandangan tersebut menganggap regulasi dapat menghambat inovasi. Karena itu, mereka mendorong pemerintah mengurangi pembatasan terhadap pengembangan AI.
Retorika lain menyatakan bahwa teknologi selalu membawa kemajuan bagi demokrasi. Pandangan tersebut seolah menganggap berbagai ancaman AI terhadap demokrasi akan selesai dengan sendirinya. Namun, Lepore menolak kedua anggapan tersebut. Menurutnya, masyarakat tidak dapat menganggap kemajuan teknologi otomatis memperkuat demokrasi.
Melalui gagasan “negara buatan”, Lepore menyoroti hubungan antara teknologi, kekuasaan korporasi, dan pemerintahan. Ia menilai AI dapat mempercepat pengaruh korporasi terhadap informasi dan berbagai keputusan. Sementara itu, perkembangan tersebut dapat mengurangi ruang manusia dalam menentukan arah tatanan masyarakat. Lepore akan mengupas gagasan itu lebih mendalam melalui buku terbarunya. (iD/*)











Komentar