Intiperistiwa.com – Sejumlah perusahaan teknologi di Korea Selatan menghadirkan inovasi baru untuk membantu keluarga mengenang orang tercinta. Selain itu, layanan tersebut memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membuat video digital. Teknologi AI Bisa Hidupkan Orang Meninggal Lewat Video kini menjadi tren dan menarik perhatian masyarakat karena mampu menghadirkan kembali wajah serta suara mendiang.
Salah satu pengguna layanan tersebut ialah Lee Geon Hui (28), seorang pekerja kantoran. Ia memesan video AI sebagai hadiah untuk ayahnya. Sebab, sang ayah telah lama merindukan kakek Lee yang meninggal akibat kecelakaan sebelum Lee lahir. Selanjutnya, Lee menulis sendiri naskah, lalu perusahaan teknologi Vaice mengubahnya menjadi video digital.
Video tersebut menampilkan sosok digital sang kakek. Sosok itu menyampaikan permintaan maaf kepada putranya atas perlakuan pada masa lalu. Selain itu, sosok tersebut mengungkapkan rasa bangga terhadap kehidupan anaknya saat ini. Lee mengaku merasa puas setelah melihat reaksi sang ayah.
“Awalnya ayah saya berkata tidak akan menonton videonya. Namun setelah menontonnya, dia menangis. Saat itu saya merasa puas,” kata Lee.
Teknologi AI Bisa Hidupkan Orang Meninggal Lewat Video Kian Diminati
Fenomena tersebut terus berkembang di Korea Selatan. Sementara itu, sejumlah startup mulai menawarkan layanan serupa kepada masyarakat. Bahkan, beberapa acara televisi menghadirkan versi AI artis dan aktor yang telah meninggal dunia. Meski demikian, perkembangan teknologi tersebut tetap memunculkan pro dan kontra.
Sebagian masyarakat menilai AI membantu mereka mengenang orang tercinta. Namun, sebagian lainnya mengkhawatirkan dampak etika serta psikologisnya. Menurut pakar AI dari Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST), Yong Man Ro, teknologi tersebut memiliki dua sisi. Ia menjelaskan AI dapat menghadirkan pengalaman budaya baru sekaligus membawa tantangan yang belum pernah manusia hadapi.
“Seiring AI menjadi bagian dari kehidupan manusia, teknologi ini dapat menghadirkan pengalaman budaya baru sekaligus menimbulkan tantangan yang belum pernah kita hadapi sebelumnya,” ujarnya.
CEO Vaice, Jeongu Won, mengatakan perusahaannya melayani sekitar 300 pelanggan setiap bulan. Sebagian besar pelanggan berusia 40 hingga 50 tahun. Mereka ingin membuat video AI dari orang tua yang telah meninggal. Selain itu, beberapa pelanggan menghadirkan kembali sosok kakek atau nenek sebagai hadiah untuk ayah maupun ibu mereka.
Perusahaan hanya memerlukan beberapa foto dan sampel suara singkat milik almarhum. Selanjutnya, tim Vaice membuat video berdurasi tiga hingga lima menit. Perusahaan mematok tarif mulai 390 dollar AS atau sekitar Rp7 juta. Won mengatakan sebagian besar pelanggan menulis sendiri isi pesan dalam video tersebut.
Pesan tersebut umumnya berisi ungkapan kasih sayang kepada keluarga. Selain itu, banyak pelanggan menyampaikan penyesalan atas konflik yang belum selesai. Sebagian pelanggan juga menambahkan doa bagi keluarga yang mereka tinggalkan. Karena itu, banyak keluarga memutar video AI saat peringatan kematian maupun perayaan hari besar bersama keluarga.
Pakar Dorong Pemerintah Segera Menyusun Regulasi
Meski sebagian masyarakat menerima teknologi tersebut, sejumlah pakar tetap mengingatkan potensi persoalan etika. Profesor emeritus Fakultas Hukum Universitas Kyung Hee, Choung Wan, meminta pemerintah segera menyusun regulasi. Menurutnya, aturan tersebut harus melindungi martabat serta hak orang yang telah meninggal. Selain itu, regulasi perlu mengatur pemanfaatan teknologi AI secara lebih jelas.
Choung menilai seseorang berhak menentukan sikap semasa hidup. Karena itu, perusahaan tidak boleh membuat versi AI apabila orang tersebut pernah menyatakan penolakan. Selain itu, pemerintah perlu mengatur batas penggunaan komersial wajah maupun suara seseorang setelah meninggal.
Kekhawatiran lain muncul dari pengembangan griefbot atau deathbot. Teknologi tersebut memungkinkan keluarga melakukan percakapan dua arah dengan sosok digital orang yang telah meninggal. Sementara itu, beberapa startup mulai bereksperimen mengembangkan teknologi tersebut.
Menurut Choung, proses berduka yang sehat membantu seseorang menerima kenyataan kehilangan orang tercinta. Namun, interaksi berkelanjutan dengan sosok AI yang tampak hidup dapat menghambat proses tersebut. Di sisi lain, CEO Vaice mengaku masih berhati-hati mengembangkan chatbot AI semacam itu. Ia menilai percakapan langsung berpotensi memunculkan persoalan etika yang lebih kompleks. KompasTekno menghimpun informasi tersebut dari The Star pada Sabtu (25/7/2026). (iD/*)











Komentar