Banjir Bandang Dahsyat di Nepal Terjadi Tanpa Hujan Deras, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Ilmuwan menduga longsoran batu dan es dari Himalaya memicu rangkaian banjir besar di wilayah Rasuwa.

- Jurnalis

Jumat, 28 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Banjir Bandang Dahsyat di Nepal Terjadi Tanpa Hujan Deras, Apa yang Sebenarnya Terjadi? (Foto: Navesh Chitrakar/REUTERS/kumparan)

Banjir Bandang Dahsyat di Nepal Terjadi Tanpa Hujan Deras, Apa yang Sebenarnya Terjadi? (Foto: Navesh Chitrakar/REUTERS/kumparan)

Intiperistiwa.comBanjir bandang dahsyat menerjang wilayah Rasuwa, Nepal, pada Rabu, 26 Agustus 2026. Awalnya, sejumlah pihak menduga gempa bumi memicu bencana tersebut. Namun, ilmuwan kini mengarahkan perhatian pada longsoran batu dan es dari kawasan Himalaya. Temuan awal tersebut membuka pertanyaan mengenai penyebab banjir bandang Nepal yang terjadi tanpa hujan deras.

Analisis awal yang ChosunBiz muat menunjukkan batuan dan es runtuh dari lereng pegunungan Himalaya. Selanjutnya, material tersebut masuk ke aliran sungai dalam jumlah besar. Pergerakan itu kemudian memicu gelombang air, lumpur, serta material longsoran menuju wilayah hilir. Karena itu, ilmuwan menyoroti fenomena rock-ice avalanche sebagai dugaan utama.

International Centre for Integrated Mountain Development atau ICIMOD juga memberikan penilaian awal yang sejalan. Peneliti ICIMOD menduga longsoran batu-es memasuki Sungai Lhende. Kemudian, material tersebut membendung sungai dan memicu rangkaian banjir ke wilayah hilir. Dengan demikian, analisis awal semakin mengarah pada longsoran sebagai pemicu pertama bencana.

Getaran Sempat Mengarah pada Dugaan Gempa

Kebingungan mengenai penyebab bencana bermula sekitar pukul 08.37 waktu setempat. Saat itu, sistem pemantauan seismik merekam getaran dari kawasan tersebut. US Geological Survey atau USGS awalnya mengidentifikasi sinyal itu sebagai gempa bermagnitudo 4,4. Namun, USGS kemudian menganalisis ulang gelombang seismik dan mengoreksi informasi awalnya.

Analisis lanjutan menunjukkan pergerakan longsoran menghasilkan sinyal energi tersebut. Jadi, gempa bumi bukan sumber getaran berdasarkan hasil pemeriksaan tambahan USGS. Massa batu dan es dalam jumlah besar menghasilkan getaran ketika meluncur menuruni pegunungan. Karena itu, sistem seismik sempat membaca sinyal tersebut seperti aktivitas gempa.

Temuan tersebut mengubah dugaan awal mengenai urutan peristiwa. Gempa tidak terbukti lebih dahulu memicu longsoran dalam analisis itu. Sebaliknya, longsoran sendiri menghasilkan sinyal seismik yang menyerupai gempa. Selanjutnya, ilmuwan menelusuri bagaimana material tersebut memengaruhi sistem sungai di bawahnya.

Baca Juga :  Indonesia Belum Raih Labbaytum Award, Ini Penyebabnya

Longsoran Batu dan Es Memicu Efek Berantai

Dalam fenomena rock-ice avalanche, batu dan es dari pegunungan tinggi dapat runtuh secara bersamaan. Massa besar kemudian meluncur ke bagian lebih rendah dengan membawa material lain. Selain itu, material dapat bercampur dengan air, es mencair, sedimen, dan material sungai. Campuran tersebut kemudian membentuk aliran yang lebih cair dan memiliki daya rusak besar.

Dalam kasus Nepal, ilmuwan menduga longsoran masuk ke sistem Sungai Lhende. Proses tersebut kemudian memperbesar volume serta kekuatan aliran menuju wilayah hilir. Sementara itu, NDRRMA Nepal ikut menganalisis citra satelit untuk menelusuri sumber material. Penilaian awal mereka menunjukkan salju dan batu runtuh sekitar 20 kilometer dari pos perbatasan Rasuwagadhi.

Material kemudian masuk ke Sungai Rende dan mengalir menuju Sungai Trishuli. Longsoran besar dapat mendorong air sekaligus membentuk bendungan alami sementara. Selanjutnya, bendungan tersebut dapat pecah atau material dapat terus bergerak menuju hilir. Kondisi itu kemudian dapat menghasilkan gelombang air dan lumpur dengan daya rusak tinggi.

Efek berantai menjadi salah satu faktor yang membuat peristiwa tersebut berbahaya. Longsoran tidak hanya membawa batu dan es menuju sistem sungai. Selain itu, material dapat mengubah volume, arah, dan kecepatan aliran secara tiba-tiba. Karena itu, banjir dapat berkembang cepat meski wilayah tersebut tidak mengalami hujan sebelumnya.

Ahli hidrologi University of Texas San Antonio Hatim Sharif menyoroti ketiadaan hujan sebelum kejadian. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu hal paling mencolok dalam peristiwa ini. Sistem peringatan banjir biasanya mengandalkan sejumlah indikator yang berkaitan dengan hujan. Karena itu, bencana semacam ini dapat menghadirkan tantangan besar bagi sistem peringatan.

“Hal itu pada dasarnya menggagalkan hampir semua sistem peringatan banjir operasional di dunia,” sebutnya seperti dikutip dari ChosunBiz. Sharif juga menggambarkan campuran air dan lumpur yang bergerak cepat seperti “beton cair”. Menurutnya, seseorang sangat sulit menghindari aliran tersebut setelah melihatnya dari jarak dekat. Gambaran tersebut menunjukkan bagaimana rangkaian bencana dapat berkembang dengan sangat cepat.

Baca Juga :  Tarif Baru Trump untuk 60 Negara Resmi Berlaku, Indonesia Kena 10%

Danau Gletser Masih Masuk Kajian

Para ilmuwan juga masih mempertimbangkan kemungkinan keterlibatan danau gletser dalam memperbesar banjir. Profesor geologi Tribhuvan University Ranjan Kumar Dahal membahas kemungkinan tersebut. Namun, peneliti belum mengetahui danau mana yang mungkin terlibat. Karena itu, mereka terus meneliti hubungan antara longsoran dan sistem gletser.

Menurut Dahal, banjir sebesar itu dapat melibatkan longsoran salju besar dan glacial lake outburst flood atau GLOF. Artinya, satu faktor mungkin belum cukup menjelaskan seluruh rangkaian peristiwa. Namun, analisis awal semakin mengurangi dugaan bahwa hujan deras menjadi pemicu utama. Sementara itu, peneliti masih memeriksa setiap kemungkinan sebelum membuat kesimpulan akhir.

Fenomena rock-ice avalanche juga menarik perhatian dalam kajian perubahan kondisi pegunungan tinggi. Penelitian Communications Earth & Environment sebelumnya membahas longsoran batu-es di Nepal. Kajian tersebut menunjukkan suhu lebih tinggi dapat meningkatkan pencairan salju. Selanjutnya, air hasil pencairan dapat melumasi material dan meningkatkan mobilitas longsoran.

Meski begitu, ilmuwan belum dapat menyimpulkan perubahan iklim sebagai penyebab langsung banjir Nepal 2026. Mereka masih menyelidiki penyebab spesifik bencana di Rasuwa. Namun, kejadian tersebut memperlihatkan bagaimana satu gangguan pegunungan dapat memicu rangkaian bencana. Rangkaian itu mencakup longsoran, gangguan sungai, banjir, serta aliran lumpur menuju wilayah hilir.

Karena itu, pemantauan bahaya di Himalaya perlu mencakup lebih dari sekadar gempa dan hujan. Sistem juga perlu memperhatikan longsoran, gletser, dan danau gletser dalam satu pemantauan multi-bencana. Sementara itu, ilmuwan terus menelusuri rangkaian lengkap penyebab banjir bandang di Rasuwa. Analisis awal sejauh ini paling kuat mengarah pada longsoran batu dan es sebagai pemicu utama. (iD/*)

Berita Terkait

Gurun Mesir Ternyata Pernah Jadi Laut, Fosil Hiu Purba Ungkap Kehidupan Jutaan Tahun Lalu
Kylian Mbappe Masuk Daftar 26 Target Jaringan Kriminal di Prancis, Diduga Jadi Sasaran Penculikan
Pulau Misterius di Danau Williston Sempat Hilang, Muncul Lagi 32 Kilometer dari Lokasi Awal
Karhutla Dunia Hanguskan 112,3 Juta Hektare Lahan, Negara Mana yang Paling Terdampak?
Ethel Caterham Genap 117 Tahun, Orang Tertua di Dunia yang Masih Hidup
China Bangun Lift Kaca 288 Meter di Tebing, Perjalanan Anak Sekolah Kini Hanya 30 Menit
Daftar 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia, Jakarta Berada di Posisi Berapa?
Bukan Presiden atau Raja, Ini Lima Negara dengan Sistem Kepemimpinan Unik di Dunia
Berita ini 16 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 11:00 WIB

Gurun Mesir Ternyata Pernah Jadi Laut, Fosil Hiu Purba Ungkap Kehidupan Jutaan Tahun Lalu

Jumat, 4 September 2026 - 21:00 WIB

Kylian Mbappe Masuk Daftar 26 Target Jaringan Kriminal di Prancis, Diduga Jadi Sasaran Penculikan

Kamis, 3 September 2026 - 23:00 WIB

Pulau Misterius di Danau Williston Sempat Hilang, Muncul Lagi 32 Kilometer dari Lokasi Awal

Jumat, 28 Agustus 2026 - 19:00 WIB

Banjir Bandang Dahsyat di Nepal Terjadi Tanpa Hujan Deras, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Rabu, 26 Agustus 2026 - 17:00 WIB

Karhutla Dunia Hanguskan 112,3 Juta Hektare Lahan, Negara Mana yang Paling Terdampak?

Berita Terbaru