Orang Korea dan Jepang Makan Mi Instan Setiap Hari, Mengapa di Indonesia Sering Dianggap Tidak Sehat?

Pakar gizi menjelaskan perbedaan pola makan dan gaya hidup yang memengaruhi dampak konsumsi mi instan.

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 6 Juni 2026 - 17:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Orang Korea dan Jepang Makan Mi Instan Setiap Hari, Mengapa di Indonesia Sering Dianggap Tidak Sehat? (Foto: iStock)

Orang Korea dan Jepang Makan Mi Instan Setiap Hari, Mengapa di Indonesia Sering Dianggap Tidak Sehat? (Foto: iStock)

Intiperistiwa.com – Perbincangan mengenai mi instan kembali ramai di media sosial. Topik ini muncul setelah sebuah unggahan di platform X membandingkan kebiasaan konsumsi mi instan di Indonesia dengan Jepang dan Korea Selatan.

Dalam unggahan tersebut, pengguna media sosial mempertanyakan alasan mi instan sering dianggap kurang sehat di Indonesia. Padahal, masyarakat Jepang dan Korea Selatan diketahui cukup sering mengonsumsi mi instan sebagai bagian dari menu harian mereka.

Unggahan itu menarik perhatian publik dan memicu berbagai tanggapan. Banyak warganet kemudian mempertanyakan apakah perbedaan tersebut berasal dari kandungan mi instan atau faktor lainnya.

Perbedaan Bukan pada Mi Instannya

Ahli gizi Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Toto Sudargo, menjelaskan bahwa faktor utama terletak pada budaya makan masyarakat. Menurutnya, Jepang dan Korea Selatan memiliki pola konsumsi karbohidrat yang berbeda dengan Indonesia.

Di kedua negara tersebut, masyarakat tidak hanya mengandalkan nasi sebagai sumber energi. Mereka juga menjadikan mi, kentang, roti, bihun, dan berbagai sumber karbohidrat lain sebagai makanan utama sehari-hari.

Karena itu, mi di Jepang dan Korea Selatan sering berperan sebagai pengganti nasi. Sementara itu, masyarakat Indonesia umumnya masih menempatkan nasi sebagai sumber karbohidrat utama.

Toto menjelaskan bahwa perbedaan budaya makan inilah yang membentuk kebiasaan konsumsi mi di masing-masing negara. Dengan kata lain, persoalannya tidak semata-mata berasal dari produk mi instan itu sendiri.

Mi Instan Selalu Dilengkapi Sayur dan Protein

Menurut Toto, kandungan mi instan yang beredar di Indonesia, Jepang, dan Korea Selatan sebenarnya tidak jauh berbeda. Namun, cara penyajiannya menunjukkan perbedaan yang cukup mencolok.

Baca Juga :  Secret WAG Juara FFWS SEA 2026 Spring, Tiga Tim Indonesia Kantongi Tiket EWC 2026

Masyarakat Jepang dan Korea Selatan umumnya mengonsumsi mi bersama berbagai pelengkap bergizi. Mereka menambahkan sayuran, daging, telur, ikan, atau sumber protein lainnya dalam satu porsi makanan.

Karena itu, kebutuhan nutrisi menjadi lebih seimbang. Tubuh tidak hanya menerima karbohidrat, tetapi juga memperoleh vitamin, mineral, serat, dan protein.

Sebaliknya, sebagian masyarakat Indonesia masih mengonsumsi mi instan tanpa tambahan makanan bergizi lainnya. Akibatnya, asupan nutrisi menjadi kurang lengkap dan tidak seimbang.

Toto menilai mi instan tetap dapat menjadi pilihan sumber karbohidrat. Namun, masyarakat perlu melengkapinya dengan lauk dan sayuran agar kebutuhan gizi harian tetap terpenuhi.

Kandungan Natrium Tetap Menjadi Perhatian

Meski populer di berbagai negara, mi instan tetap mengandung natrium dalam jumlah cukup tinggi. Jika seseorang mengonsumsinya secara berlebihan, risiko tekanan darah tinggi dapat meningkat.

Namun, masyarakat Jepang dan Korea Selatan biasanya menyeimbangkan konsumsi natrium dengan asupan sayur dan buah. Kebiasaan tersebut membantu menjaga pola makan tetap lebih sehat.

Selain itu, banyak produk mi di kedua negara sudah menyediakan tambahan sayuran atau daging dalam kemasannya. Dengan demikian, konsumen memperoleh menu yang lebih lengkap dalam satu sajian.

Sementara itu, sebagian masyarakat Indonesia masih mengonsumsi mi instan secara praktis tanpa tambahan nutrisi pendukung. Bahkan, sebagian anak mengonsumsi mi secara kurang tepat.

Toto menyoroti kebiasaan mengonsumsi mi tanpa proses pengolahan yang benar. Menurutnya, praktik tersebut dapat mengurangi kualitas konsumsi dan tidak mendukung pola makan sehat.

Baca Juga :  Wanita dari Taiwan Alami Sembelit Selama 23 Tahun, Hasil Rontgen Ungkap Kondisi Usus yang Tidak Biasa

Kimchi Menjadi Pendamping Mi Instan di Korea Selatan

Saat mengunjungi Korea Selatan, Toto menemukan kebiasaan menarik dalam pola makan masyarakat setempat. Mereka hampir selalu menyajikan sayuran saat mengonsumsi mi instan.

Salah satu pelengkap yang paling sering hadir ialah kimchi. Makanan fermentasi khas Korea Selatan itu mengandung berbagai nutrisi dan menjadi bagian penting dalam menu harian.

Masyarakat Korea Selatan juga gemar mengombinasikan mi dengan ikan, daging, dan aneka sayuran. Karena itu, mereka memperoleh asupan serat dan protein dalam jumlah cukup.

Menurut Toto, kebiasaan makan sayur di Korea Selatan tergolong sangat tinggi. Faktor tersebut ikut membantu menjaga keseimbangan nutrisi meski mereka cukup sering mengonsumsi mi instan.

Gaya Hidup Aktif Jadi Faktor Penting

Selain pola makan, gaya hidup juga berperan besar dalam menjaga kesehatan masyarakat Jepang dan Korea Selatan. Toto menilai warga di kedua negara memiliki aktivitas fisik yang relatif tinggi.

Mereka terbiasa berjalan kaki untuk berbagai keperluan sehari-hari. Banyak orang berjalan menuju halte, stasiun, tempat kerja, atau pusat perbelanjaan.

Aktivitas tersebut membantu tubuh membakar kalori secara konsisten. Karena itu, risiko penumpukan energi berlebih menjadi lebih rendah.

Sebaliknya, sebagian masyarakat Indonesia lebih sering menggunakan kendaraan pribadi untuk perjalanan jarak dekat. Kebiasaan tersebut membuat aktivitas fisik harian menjadi lebih sedikit.

Pada akhirnya, dampak konsumsi mi instan tidak hanya ditentukan oleh jenis makanannya. Pola makan seimbang, konsumsi sayuran, serta gaya hidup aktif menjadi faktor yang sangat menentukan kondisi kesehatan seseorang. (id/*)

Berita Terkait

Tidak Semua Operasi Ditanggung BPJS Kesehatan, Berikut Daftarnya
Makan Telur Setiap Hari, Sehat atau Berbahaya? Ini Penjelasan Lengkapnya
Shakira Comeback di Album Piala Dunia 2026, FIFA Siapkan Album Spektakuler
Arab Saudi menganugerahi Malaysia Sebagai Penyelenggara Haji Terbaik 2026
Dua Jemaah Haji Asal Indonesia Meninggal Saat Pulang
Indonesia Belum Raih Labbaytum Award, Ini Penyebabnya
Kolesterol Tinggi Sering Tidak Disadari, Hati-hati Berujung Stroke-Jantung
Wanita dari Taiwan Alami Sembelit Selama 23 Tahun, Hasil Rontgen Ungkap Kondisi Usus yang Tidak Biasa
Berita ini 2 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 17:00 WIB

Orang Korea dan Jepang Makan Mi Instan Setiap Hari, Mengapa di Indonesia Sering Dianggap Tidak Sehat?

Sabtu, 6 Juni 2026 - 13:00 WIB

Tidak Semua Operasi Ditanggung BPJS Kesehatan, Berikut Daftarnya

Jumat, 5 Juni 2026 - 22:00 WIB

Makan Telur Setiap Hari, Sehat atau Berbahaya? Ini Penjelasan Lengkapnya

Jumat, 5 Juni 2026 - 21:00 WIB

Shakira Comeback di Album Piala Dunia 2026, FIFA Siapkan Album Spektakuler

Jumat, 5 Juni 2026 - 17:00 WIB

Arab Saudi menganugerahi Malaysia Sebagai Penyelenggara Haji Terbaik 2026

Berita Terbaru