Intiperistiwa.com – Perbincangan mengenai mi instan kembali ramai di media sosial. Topik ini muncul setelah sebuah unggahan di platform X membandingkan kebiasaan konsumsi mi instan di Indonesia dengan Jepang dan Korea Selatan.
Dalam unggahan tersebut, pengguna media sosial mempertanyakan alasan mi instan sering dianggap kurang sehat di Indonesia. Padahal, masyarakat Jepang dan Korea Selatan diketahui cukup sering mengonsumsi mi instan sebagai bagian dari menu harian mereka.
Unggahan itu menarik perhatian publik dan memicu berbagai tanggapan. Banyak warganet kemudian mempertanyakan apakah perbedaan tersebut berasal dari kandungan mi instan atau faktor lainnya.
Perbedaan Bukan pada Mi Instannya
Ahli gizi Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Toto Sudargo, menjelaskan bahwa faktor utama terletak pada budaya makan masyarakat. Menurutnya, Jepang dan Korea Selatan memiliki pola konsumsi karbohidrat yang berbeda dengan Indonesia.
Di kedua negara tersebut, masyarakat tidak hanya mengandalkan nasi sebagai sumber energi. Mereka juga menjadikan mi, kentang, roti, bihun, dan berbagai sumber karbohidrat lain sebagai makanan utama sehari-hari.
Karena itu, mi di Jepang dan Korea Selatan sering berperan sebagai pengganti nasi. Sementara itu, masyarakat Indonesia umumnya masih menempatkan nasi sebagai sumber karbohidrat utama.
Toto menjelaskan bahwa perbedaan budaya makan inilah yang membentuk kebiasaan konsumsi mi di masing-masing negara. Dengan kata lain, persoalannya tidak semata-mata berasal dari produk mi instan itu sendiri.
Mi Instan Selalu Dilengkapi Sayur dan Protein
Menurut Toto, kandungan mi instan yang beredar di Indonesia, Jepang, dan Korea Selatan sebenarnya tidak jauh berbeda. Namun, cara penyajiannya menunjukkan perbedaan yang cukup mencolok.
Masyarakat Jepang dan Korea Selatan umumnya mengonsumsi mi bersama berbagai pelengkap bergizi. Mereka menambahkan sayuran, daging, telur, ikan, atau sumber protein lainnya dalam satu porsi makanan.
Karena itu, kebutuhan nutrisi menjadi lebih seimbang. Tubuh tidak hanya menerima karbohidrat, tetapi juga memperoleh vitamin, mineral, serat, dan protein.
Sebaliknya, sebagian masyarakat Indonesia masih mengonsumsi mi instan tanpa tambahan makanan bergizi lainnya. Akibatnya, asupan nutrisi menjadi kurang lengkap dan tidak seimbang.
Toto menilai mi instan tetap dapat menjadi pilihan sumber karbohidrat. Namun, masyarakat perlu melengkapinya dengan lauk dan sayuran agar kebutuhan gizi harian tetap terpenuhi.
Kandungan Natrium Tetap Menjadi Perhatian
Meski populer di berbagai negara, mi instan tetap mengandung natrium dalam jumlah cukup tinggi. Jika seseorang mengonsumsinya secara berlebihan, risiko tekanan darah tinggi dapat meningkat.
Namun, masyarakat Jepang dan Korea Selatan biasanya menyeimbangkan konsumsi natrium dengan asupan sayur dan buah. Kebiasaan tersebut membantu menjaga pola makan tetap lebih sehat.
Selain itu, banyak produk mi di kedua negara sudah menyediakan tambahan sayuran atau daging dalam kemasannya. Dengan demikian, konsumen memperoleh menu yang lebih lengkap dalam satu sajian.
Sementara itu, sebagian masyarakat Indonesia masih mengonsumsi mi instan secara praktis tanpa tambahan nutrisi pendukung. Bahkan, sebagian anak mengonsumsi mi secara kurang tepat.
Toto menyoroti kebiasaan mengonsumsi mi tanpa proses pengolahan yang benar. Menurutnya, praktik tersebut dapat mengurangi kualitas konsumsi dan tidak mendukung pola makan sehat.
Kimchi Menjadi Pendamping Mi Instan di Korea Selatan
Saat mengunjungi Korea Selatan, Toto menemukan kebiasaan menarik dalam pola makan masyarakat setempat. Mereka hampir selalu menyajikan sayuran saat mengonsumsi mi instan.
Salah satu pelengkap yang paling sering hadir ialah kimchi. Makanan fermentasi khas Korea Selatan itu mengandung berbagai nutrisi dan menjadi bagian penting dalam menu harian.
Masyarakat Korea Selatan juga gemar mengombinasikan mi dengan ikan, daging, dan aneka sayuran. Karena itu, mereka memperoleh asupan serat dan protein dalam jumlah cukup.
Menurut Toto, kebiasaan makan sayur di Korea Selatan tergolong sangat tinggi. Faktor tersebut ikut membantu menjaga keseimbangan nutrisi meski mereka cukup sering mengonsumsi mi instan.
Gaya Hidup Aktif Jadi Faktor Penting
Selain pola makan, gaya hidup juga berperan besar dalam menjaga kesehatan masyarakat Jepang dan Korea Selatan. Toto menilai warga di kedua negara memiliki aktivitas fisik yang relatif tinggi.
Mereka terbiasa berjalan kaki untuk berbagai keperluan sehari-hari. Banyak orang berjalan menuju halte, stasiun, tempat kerja, atau pusat perbelanjaan.
Aktivitas tersebut membantu tubuh membakar kalori secara konsisten. Karena itu, risiko penumpukan energi berlebih menjadi lebih rendah.
Sebaliknya, sebagian masyarakat Indonesia lebih sering menggunakan kendaraan pribadi untuk perjalanan jarak dekat. Kebiasaan tersebut membuat aktivitas fisik harian menjadi lebih sedikit.
Pada akhirnya, dampak konsumsi mi instan tidak hanya ditentukan oleh jenis makanannya. Pola makan seimbang, konsumsi sayuran, serta gaya hidup aktif menjadi faktor yang sangat menentukan kondisi kesehatan seseorang. (id/*)










Komentar