Anak Terlambat Bicara? Kenali Tanda Speech Delay dan Cara Tepat Mengatasinya

Orang tua perlu mengenali gejala speech delay sejak dini agar anak mendapat penanganan yang tepat.

- Jurnalis

Rabu, 15 Juli 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Anak Terlambat Bicara? Kenali Tanda Speech Delay dan Cara Tepat Mengatasinya. (Foto: tappytoesnursery)

Anak Terlambat Bicara? Kenali Tanda Speech Delay dan Cara Tepat Mengatasinya. (Foto: tappytoesnursery)

Intiperistiwa.com – Kemampuan berbicara pada anak menjadi salah satu tahapan penting dalam tumbuh kembang anak. Namun, sebagian anak mengalami keterlambatan berbicara atau speech delay. Kondisi ini dapat menghambat kemampuan anak berkomunikasi. Karena itu, orang tua perlu mengenali tanda-tandanya sejak dini.

Speech delay dapat muncul karena berbagai penyebab. Gangguan pendengaran menjadi salah satu penyebab yang cukup sering terjadi. Selain itu, kelainan struktur mulut maupun gangguan saraf juga dapat memengaruhi kemampuan berbicara anak. Oleh sebab itu, pemeriksaan sejak awal sangat membantu proses penanganan.

Tanda Speech Delay pada Anak

Perkembangan kemampuan berbicara setiap anak memang berbeda. Meski demikian, orang tua tetap perlu memahami tahapan perkembangan sesuai usia. Dengan begitu, orang tua dapat mengenali keterlambatan lebih cepat.

Anak berusia dua tahun umumnya menguasai sekitar 50 kosakata. Selain itu, anak biasanya mulai menggabungkan dua kata menjadi kalimat sederhana, seperti “aku lapar”. Sementara itu, anak berusia tiga tahun umumnya sudah mampu menyusun kalimat berisi tiga hingga empat kata.

Orang tua sebaiknya segera memperhatikan beberapa tanda berikut jika muncul pada anak.

  • Jarang berbicara atau meniru ucapan orang lain.
  • Tidak merespons saat seseorang memanggil namanya.
  • Menghindari kontak mata ketika berbicara.
  • Kesulitan menyebut nama benda di sekitarnya.
  • Belum mampu menggabungkan dua atau tiga kata.
  • Sulit mengikuti perintah sederhana.
  • Lebih sering memakai gestur daripada berbicara saat meminta sesuatu.

Jika anak menunjukkan beberapa tanda tersebut, segera konsultasikan kepada dokter anak. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan sesuai kondisi anak. Apabila diperlukan, dokter akan menyarankan terapi wicara sebagai bagian dari penanganan.

Baca Juga :  Argentina vs Yordania Piala Dunia 2026: Messi Kembali Cetak Gol, Argentina Menang 3-1

Cara Membantu Anak Mengatasi Speech Delay

Terapi wicara menjadi salah satu langkah penting dalam penanganan speech delay. Namun, orang tua juga dapat memberikan stimulasi setiap hari di rumah. Selain itu, kebiasaan sederhana dapat membantu meningkatkan kemampuan berbicara anak.

1. Sering Mengajak Anak Berbicara

Libatkan anak dalam berbagai percakapan setiap hari. Selain itu, ceritakan aktivitas yang sedang dilakukan dengan kalimat sederhana. Dengan demikian, anak akan lebih mudah mengenali kosakata baru.

Misalnya, jelaskan kegiatan saat mengganti pakaian atau menyiapkan makanan. Kemudian, ajak anak merespons meski hanya menggunakan satu kata. Karena itu, anak memperoleh kesempatan untuk melatih kemampuan berbicara.

2. Membacakan Buku Cerita

Bacakan buku cerita bergambar sejak usia dini. Selain menyenangkan, kegiatan ini memperkaya kosakata anak. Selanjutnya, minta anak menyebut nama tokoh atau benda dalam gambar.

Pilih buku dengan gambar menarik sesuai kesukaan anak. Dengan begitu, anak lebih tertarik mengikuti cerita. Akibatnya, kemampuan berbicara berkembang secara bertahap.

3. Tanggapi Ucapan Anak dengan Benar

Berikan respons positif setiap kali anak berbicara. Namun, gunakan pengucapan yang benar saat menanggapi ucapannya. Dengan demikian, anak mendengar contoh penggunaan bahasa yang tepat.

Misalnya, anak mengatakan “ikat baju”. Kemudian, orang tua dapat menjawab, “Iya, Bunda akan mengancingkan bajumu.” Cara ini membantu anak memahami kosakata yang benar.

4. Kenalkan Nama Benda di Sekitar

Ajarkan nama benda yang sering digunakan setiap hari. Selain itu, sebutkan nama benda saat anak menunjuknya. Dengan begitu, anak akan menghubungkan benda dengan kosakatanya.

Baca Juga :  Kamar Mandi Bau? Coba 4 Bahan Alami Ini agar Tetap Segar Tanpa Pewangi Kimia

Lakukan kegiatan ini secara berulang. Selanjutnya, minta anak menirukan kata yang didengarnya. Cara tersebut membantu memperkaya perbendaharaan kata anak.

5. Beri Anak Kesempatan Memilih

Ajukan pertanyaan sederhana yang menawarkan dua pilihan. Misalnya, tanyakan, “Kamu mau apel atau jeruk?” Kemudian, dorong anak menjawab menggunakan kata, bukan hanya menunjuk.

Cara ini melatih keberanian anak berbicara. Selain itu, anak belajar mengungkapkan keinginannya melalui kata-kata. Karena itu, kemampuan komunikasi terus berkembang.

6. Batasi Penggunaan Gawai

Penggunaan gawai berlebihan dapat mengurangi kesempatan anak berbicara. Beberapa penelitian juga menunjukkan hubungan antara durasi penggunaan gawai dan keterlambatan bicara. Oleh sebab itu, orang tua perlu membatasi waktu penggunaan gawai.

Batasi penggunaan gawai sekitar satu jam setiap hari. Selanjutnya, ajak anak bermain atau berbincang bersama keluarga. Dengan demikian, anak memperoleh lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi.

Kapan Harus Berkonsultasi ke Dokter?

Perkembangan kemampuan berbicara setiap anak memang tidak selalu sama. Ada anak yang berbicara lebih cepat, tetapi ada juga yang memerlukan waktu lebih lama. Meski demikian, orang tua tetap perlu memantau setiap tahap perkembangannya.

Jika keterlambatan berbicara terus berlanjut atau muncul beberapa tanda speech delay, segera temui dokter anak. Selanjutnya, dokter akan memastikan penyebab keterlambatan tersebut. Dengan begitu, anak dapat memperoleh penanganan yang sesuai sedini mungkin. (iD/*)

Berita Terkait

Kulit Telur Rebus Susah Dikupas? Coba Metode 10-5-10 yang Sedang Viral
MPLS Ramah 2026 Segera Dimulai, Begini Cara Daftar Cek Kesehatan Gratis untuk Siswa Baru
Riset Terbaru Ungkap Durasi Jalan Kaki yang Efektif, Risiko Penyakit Jantung Bisa Turun Drastis
Program MBG Kembali Disalurkan Mulai 13 Juli 2026, BGN Pastikan Distribusi Berjalan Lancar
Masih Sering Masukkan Makanan Panas ke Kulkas? Ketahui Risikonya Sebelum Terlambat
Banyak yang Tidak Tahu! Ternyata Makan Labu Siam Terlalu Banyak Bisa Memicu Efek Samping
Waspada! Wabah Salmonella di 14 Negara Eropa Diduga Berasal dari Mie Instan Rasa Ayam
Kecerdasan Anak Lebih Diwarisi dari Ibu atau Ayah? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:00 WIB

Kulit Telur Rebus Susah Dikupas? Coba Metode 10-5-10 yang Sedang Viral

Rabu, 15 Juli 2026 - 11:00 WIB

Anak Terlambat Bicara? Kenali Tanda Speech Delay dan Cara Tepat Mengatasinya

Selasa, 14 Juli 2026 - 11:00 WIB

MPLS Ramah 2026 Segera Dimulai, Begini Cara Daftar Cek Kesehatan Gratis untuk Siswa Baru

Senin, 13 Juli 2026 - 23:00 WIB

Riset Terbaru Ungkap Durasi Jalan Kaki yang Efektif, Risiko Penyakit Jantung Bisa Turun Drastis

Senin, 13 Juli 2026 - 20:00 WIB

Program MBG Kembali Disalurkan Mulai 13 Juli 2026, BGN Pastikan Distribusi Berjalan Lancar

Berita Terbaru