Remaja 18 Tahun Alami Gangguan Pendengaran Usai Dengarkan Jangkrik Selama 4 Jam

Suara jangkrik ternyata bisa mengganggu pendengaran jika terdengar keras dalam waktu lama.

- Jurnalis

Selasa, 11 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Remaja 18 Tahun Alami Gangguan Pendengaran Usai Dengarkan Jangkrik Selama 4 Jam. (Foto: ist-thestraitstimes/sulteng.pikiran-rakyat)

Remaja 18 Tahun Alami Gangguan Pendengaran Usai Dengarkan Jangkrik Selama 4 Jam. (Foto: ist-thestraitstimes/sulteng.pikiran-rakyat)

Intiperistiwa.com – Seorang remaja 18 tahun di China mengalami gangguan pendengaran sementara. Kondisi tersebut muncul setelah dia mendengar suara jangkrik selama beberapa jam. Remaja bernama Yang itu tinggal di Ningbo, Zhejiang, China. Shandian News melaporkan, Yang mengalami kejadian tersebut saat berkemah pada awal Juli.

Saat berada di hutan pada siang hari, Yang mendengar suara jangkrik yang sangat keras. Namun, dia tetap berada di lokasi tanpa menggunakan pelindung telinga. Selama empat jam, dia terus terpapar suara jangkrik dari lingkungan sekitar. Kemudian, dia mulai merasakan perubahan pada kondisi telinganya.

Pada malam hari, Yang merasakan telinganya penuh dan seperti mengalami pembengkakan. Selain itu, dia mulai kesulitan mendengar suara dengan frekuensi tinggi. Beberapa suara seperti kicauan burung terdengar lebih sulit bagi Yang. Bahkan, dia kesulitan mendengar notifikasi dari ponselnya.

Dokter Temukan Gangguan Pendengaran Sementara

Yang kemudian memeriksakan kondisi telinganya kepada dokter. Mengutip SCMP, dokter mendiagnosis Yang mengalami gangguan pendengaran sementara akibat paparan kebisingan. Setelah menjalani perawatan medis, kondisi pendengarannya kembali normal. Dia juga menghindari lingkungan bising selama 14 hari untuk membantu proses pemulihan.

Dokter senior Departemen Otolaringologi RS Afiliasi No. 1 Ningbo University, Li Ji, menjelaskan kondisi tersebut. Menurut Li, banyak pasien mengalami paparan suara jangkrik setiap musim panas. Karena itu, masyarakat perlu memahami risiko suara alam terhadap kesehatan telinga. Li menilai sebagian orang masih keliru menganggap suara alam selalu aman bagi pendengaran.

“Banyak orang keliru percaya bahwa suara alam tidak berbahaya bagi telinga mereka,” kata Li.

Li menjelaskan, suara seekor jangkrik mencapai sekitar 70 desibel. Tingkat tersebut tidak menimbulkan bahaya bagi telinga manusia. Namun, suara jangkrik dalam kelompok dapat mencapai 85 desibel. Angka tersebut menjadi ambang ketika kebisingan mulai memicu kerusakan pendengaran.

Baca Juga :  KPK Bongkar Dugaan Pungli Izin Tinggal WNA, Terungkap Tarif Izin hingga Rp1,5 Juta

Suara Keras Bisa Mengganggu Sel Rambut Koklea

Li juga menjelaskan dampak paparan suara keras terhadap bagian dalam telinga. Menurutnya, suara keras dapat mengiritasi sel rambut pada koklea dalam waktu relatif singkat. Kondisi tersebut dapat memicu edema pada sel rambut koklea. Biasanya, sel tersebut dapat pulih setelah seseorang menjauhi lingkungan bising selama satu hingga dua minggu.

“Sel-sel rambut di koklea dapat mengalami edema akibat iritasi dari suara keras dalam durasi yang relatif singkat. Biasanya, sel-sel tersebut pulih setelah menghindari lingkungan yang bising dan beristirahat selama 1-2 minggu,” kata Li.

Namun, paparan kebisingan juga dapat menimbulkan dampak lebih serius. Jika sel rambut mengalami nekrosis, tubuh tidak dapat meregenerasi sel tersebut. Akibatnya, gangguan pendengaran dapat menjadi permanen dan tidak dapat pulih. Dalam kondisi tersebut, pasien dapat membutuhkan alat bantu dengar untuk mendukung fungsi pendengarannya.

“Namun, jika sel-sel rambut mengalami nekrosis, sel-sel tersebut tidak dapat beregenerasi. Gangguan pendengaran yang dihasilkan bersifat permanen dan tidak dapat dipulihkan, sehingga pasien harus bergantung pada alat bantu dengar untuk membantu pendengaran,” tambahnya.

Paparan Jangkrik dalam Jangka Panjang Juga Berisiko

Li kemudian menceritakan kasus lain yang melibatkan seorang tukang kebun berusia lebih dari 60 tahun. Pria bernama Liu itu memangkas pohon setiap hari selama periode Juni hingga Agustus. Dia menjalani pekerjaan tersebut selama 12 tahun terakhir. Selama bekerja, Liu terus terpapar suara jangkrik yang sangat mengganggu dalam waktu lama.

Baca Juga :  Daftar Destinasi Wisata Termahal di Dunia 2026, Biaya Liburan Bisa Tembus Rp27 Juta per Hari

Paparan tersebut akhirnya memengaruhi kondisi pendengaran Liu. Dia mengalami telinga berdenging dan kesulitan mengikuti percakapan bernada rendah. Menurut Li, Liu mengalami gangguan pendengaran permanen akibat paparan kebisingan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa durasi paparan turut memengaruhi risiko gangguan pendengaran.

Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan lingkungan dengan tingkat kebisingan tinggi. Penggunaan pelindung telinga dapat membantu mengurangi paparan suara keras dalam situasi tertentu. Selain itu, seseorang sebaiknya segera menjauh dari sumber suara jika mulai merasakan gangguan pendengaran. Pemeriksaan medis juga penting ketika keluhan telinga tidak segera membaik.

Kisah Yang menunjukkan bahwa suara alam juga dapat menimbulkan risiko tertentu. Sementara itu, kasus Liu memperlihatkan dampak paparan kebisingan dalam jangka panjang. Oleh sebab itu, masyarakat perlu menjaga telinga ketika beraktivitas dalam lingkungan bising. (iD/*)

Berita Terkait

Ciri-ciri Ginjal Bermasalah yang Perlu Diwaspadai, dari Urine Berubah hingga Kaki Bengkak
Mimpi Saat Demam Terasa Aneh dan Menakutkan? Pakar Jelaskan Penyebabnya
Pasta Gigi SLS atau Non-SLS, Mana yang Lebih Baik untuk Gigi dan Mulut?
Mau Iuran BPJS Ditanggung Pemerintah? Ini Syarat dan Cara Pindah dari BPJS Mandiri ke PBI
Kencing Tak Tuntas Jangan Diabaikan, Dokter Ingatkan Dampaknya terhadap Fungsi Ginjal
Waktu Tidur Ideal Tak Selalu 8 Jam, Studi Ungkap Kebutuhan Tiap Orang Berbeda-beda
BPJS Kesehatan dan Asuransi Komersial Kini Bisa Dipakai Bersamaan, Begini Mekanismenya
2 Rumah Sakit, 21 Puskesmas, dan 1 Labkesda di Kerinci Berstatus BLUD, Layanan Lebih Fleksibel
Berita ini 13 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 22:00 WIB

Ciri-ciri Ginjal Bermasalah yang Perlu Diwaspadai, dari Urine Berubah hingga Kaki Bengkak

Kamis, 10 September 2026 - 19:00 WIB

Mimpi Saat Demam Terasa Aneh dan Menakutkan? Pakar Jelaskan Penyebabnya

Kamis, 10 September 2026 - 11:00 WIB

Pasta Gigi SLS atau Non-SLS, Mana yang Lebih Baik untuk Gigi dan Mulut?

Senin, 7 September 2026 - 13:00 WIB

Mau Iuran BPJS Ditanggung Pemerintah? Ini Syarat dan Cara Pindah dari BPJS Mandiri ke PBI

Minggu, 6 September 2026 - 07:00 WIB

Kencing Tak Tuntas Jangan Diabaikan, Dokter Ingatkan Dampaknya terhadap Fungsi Ginjal

Berita Terbaru