Intiperistiwa.com – Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat meningkatkan langkah besar untuk memburu kelompok peretas asal Rusia. Pemerintah AS menawarkan imbalan hingga USD 10 juta atau sekitar Rp179 miliar. Skema ini masuk dalam program Rewards for Justice yang fokus pada ancaman siber asing. Selain itu, program ini menargetkan pelaku yang menyerang infrastruktur penting negara.
Pemerintah AS menilai serangan ini mengancam keamanan komunikasi pejabat penting. Karena itu, mereka membuka akses informasi publik untuk membantu pelacakan pelaku. Langkah ini memperkuat upaya penegakan hukum di ranah digital global.
Dua Kelompok Diduga Jadi Dalang Peretasan
AS menyoroti dua kelompok hacker, yaitu UNC5792 dan UNC4221. Kedua kelompok ini disebut memiliki keterkaitan dengan militer dan intelijen Rusia. Selain itu, mereka diduga menjalankan operasi siber terstruktur terhadap target bernilai tinggi.
Menurut laporan Kemenlu AS, kelompok ini telah membobol ribuan akun WhatsApp dan Signal. Targetnya meliputi pejabat pemerintah, militer, diplomat, hingga jurnalis. Dengan demikian, dampaknya meluas ke berbagai sektor strategis.
Modus Phishing Menyamar Sebagai Layanan Resmi
Pemerintah AS mengungkap metode serangan yang digunakan pelaku. Hacker menyamar sebagai tim dukungan pelanggan Signal. Mereka mengirim pesan langsung kepada target dengan alasan verifikasi akun.
Selanjutnya, pesan tersebut mengarahkan korban untuk melakukan verifikasi dua langkah palsu. Cara ini bertujuan mencuri kode cadangan milik pengguna. Jika korban mengikuti instruksi, hacker bisa mengakses akun sepenuhnya.
Selain itu, pelaku juga dapat menghubungkan perangkat mereka ke akun korban. Akibatnya, percakapan pribadi berpotensi terbaca secara ilegal. Metode ini membuat serangan sulit terdeteksi sejak awal.
AS Tegaskan Enkripsi WhatsApp dan Signal Masih Aman
Meski serangan terjadi, pemerintah AS menegaskan sistem keamanan aplikasi tetap kuat. Enkripsi WhatsApp dan Signal belum mengalami kebocoran. Oleh karena itu, masalah utama berasal dari manipulasi pengguna, bukan sistem.
Pemerintah juga memberi peringatan terkait modus resmi palsu. Tim dukungan Signal hanya menghubungi melalui email resmi perusahaan. Selain itu, mereka tidak pernah meminta kode verifikasi atau tautan pemulihan akun.
Dengan demikian, pengguna diminta tetap waspada terhadap pesan mencurigakan. Kesadaran digital menjadi kunci utama untuk mencegah serangan serupa. (iD/*)











Komentar