Apakah Sawit Bisa Menggantikan Hutan? Pakar Jelaskan Fakta dan Dampaknya

Pakar menjelaskan perbedaan fungsi hutan dan sawit setelah Kemenhut mengungkap kasus karhutla untuk perkebunan.

- Jurnalis

Sabtu, 29 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Apakah Sawit Bisa Menggantikan Hutan? Pakar Jelaskan Fakta dan Dampaknya. (Foto: pkt-group)

Apakah Sawit Bisa Menggantikan Hutan? Pakar Jelaskan Fakta dan Dampaknya. (Foto: pkt-group)

Intiperistiwa.com – Kementerian Kehutanan mengungkap sejumlah kasus kebakaran hutan dan lahan dalam laporan terbarunya. Laporan per 24 Agustus 2026 mencatat pelaku sengaja membakar kawasan untuk menanam kelapa sawit. Temuan itu kembali memunculkan pertanyaan apakah sawit bisa menggantikan hutan dari sisi fungsi alaminya. Sementara itu, sejumlah akademisi menegaskan bahwa kebun sawit dan hutan memiliki karakter ekologis berbeda.

Kemenhut menemukan salah satu kasus di Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling, Kabupaten Kampar, Riau. Penyidik menetapkan tiga tersangka dalam perkara pembukaan kawasan hutan melalui pembakaran. Para pelaku kemudian berencana menggunakan kawasan tersebut untuk tanaman kelapa sawit. Selain itu, penyidik menemukan dugaan jual beli lahan dalam kawasan hutan.

Ketiga tersangka menjalankan peran berbeda dalam perkara tersebut. Seorang tersangka mengelola lahan, sedangkan tersangka lain menjadi perantara jual beli kawasan hutan. Sementara itu, tersangka ketiga berperan sebagai kepala kampung. Kemenhut mencantumkan temuan tersebut dalam laporan resminya.

Kasus kebakaran juga muncul di Mempawah dan Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Dalam perkara tersebut, penyidik menetapkan pihak korporasi sebagai tersangka. Selain itu, kasus kebakaran di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, juga menyeret pihak korporasi. Kemenhut memasukkan seluruh kasus tersebut dalam laporan penanganan karhutla.

Pembukaan lahan sawit melalui pembakaran turut mendapat sorotan dari WWF Australia. Organisasi tersebut menyebut ekspansi sawit telah menghancurkan hamparan luas hutan hujan. Akibatnya, gajah, orang utan, dan harimau kehilangan habitat di kawasan hutan. WWF juga menyebut kondisi tersebut memaksa masyarakat adat meninggalkan tanah kelahirannya.

WWF menyoroti dampak lain dari penebangan dan pembakaran kawasan hutan. “Penebangan dan pembakaran pohon juga memperburuk perubahan iklim,” tulis WWF Australia. Karena itu, perubahan kawasan hutan menjadi perkebunan membawa konsekuensi lebih luas. Dampaknya mencakup habitat satwa, masyarakat adat, hingga kondisi iklim.

Baca Juga :  Komdigi Tutup Celah Aktivasi Nomor HP Pakai NIK Orang Lain, Kini Wajib Verifikasi Wajah

Sawit Bisa Menggantikan Hutan? Ini Penjelasan Pakar

Dosen ekologi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Dr Santhyami, S Si, M Si, membahas perbedaan sawit dan hutan. Menurutnya, kelapa sawit tidak dapat menggantikan fungsi alami hutan. Tanaman sawit memiliki karakter berbeda dari berbagai pohon dalam ekosistem hutan. Karena itu, keduanya juga memiliki kemampuan berbeda dalam mengelola air.

Santhyami menjelaskan lahan sawit tidak menyediakan rongga cukup bagi masuknya air dan udara. Akibatnya, air hujan tidak dapat langsung meresap dengan baik ke tanah. Sawit juga tidak menyimpan atau mengikat air sebaik sejumlah pohon kayu. Ia memberi contoh pohon meranti, pulai, dan berbagai jenis pohon lainnya.

Menurut Santhyami, kebun sawit juga tidak memiliki keanekaragaman hayati seperti hutan alami. Budidaya sawit menggunakan pola monokultur, sedangkan hutan memiliki beragam jenis tumbuhan. Selain itu, hutan mempunyai lapisan pepohonan dengan ketinggian berbeda. Keragaman tersebut menyediakan habitat bagi berbagai flora dan fauna.

Lapisan pepohonan dalam hutan memberikan ruang hidup berbeda bagi setiap satwa. Beberapa burung menempati lapisan pohon paling tinggi. Sementara itu, burung lain hidup pada lapisan tengah bersama berbagai fauna lainnya. Mamalia juga memanfaatkan bagian hutan sesuai kebutuhan masing-masing.

Hutan Menyimpan Karbon Lebih Besar

Perbedaan lain terlihat pada kemampuan menyerap dan menyimpan karbon. Hutan memiliki kemampuan menyerap serta menyimpan karbon jauh lebih besar daripada perkebunan sawit. Dr Ir Lis Noer Aini, SP, M Si, dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menjelaskan kondisi tersebut. Menurutnya, sebagian karbon pada kebun sawit dapat kembali terlepas ke atmosfer.

Lis menjelaskan pelepasan karbon ke udara dapat meningkatkan gas rumah kaca. Selain itu, ia mengaitkan deforestasi dengan peningkatan pemanasan global. Pembukaan hutan untuk perkebunan sawit juga mempercepat kerusakan ekosistem secara luas. Karena itu, perubahan fungsi kawasan membutuhkan perhatian terhadap dampak lingkungan.

Baca Juga :  Tak Perlu Datang ke Bank, Begini Cara Aktivasi Rekening PIP 2026

“Hutan adalah sistem kehidupan, sementara sawit merupakan sistem produksi,” kata Lis. Ia menilai kedua sistem tetap dapat berjalan seimbang. Namun, pemerintah dan pelaku usaha harus mematuhi aturan tata ruang serta lingkungan. Dengan demikian, kegiatan produksi tidak mengabaikan fungsi kehidupan dalam ekosistem hutan.

Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof Bambang Hero Saharjo, juga menyoroti persoalan tersebut. Menurutnya, penyamaan sawit dengan pohon hutan merupakan kesalahan yang berbahaya. Pandangan itu dapat mengacaukan pengertian mengenai deforestasi. Bahkan, kebun sawit bisa dianggap setara dengan hutan jika pemaknaan tersebut terus berkembang.

Bambang juga mengingatkan risiko ketika masyarakat menganggap kebun sawit sebagai penghijauan. Menurutnya, pandangan tersebut dapat membenarkan perubahan fungsi kawasan hutan. Selain itu, kondisi itu dapat memengaruhi penilaian lingkungan dalam AMDAL dan KLHS. Ia juga menyoroti kemungkinan munculnya deforestasi terselubung.

Menurut Bambang, penyamaan kebun sawit dengan hutan bertentangan dengan kejujuran ilmiah. Pandangan tersebut juga mengabaikan prinsip kehati-hatian dalam menjaga lingkungan. Karena itu, kepentingan ekologis dan generasi mendatang perlu mendapat perhatian. Penjelasan para akademisi menunjukkan bahwa sawit tidak memiliki fungsi ekologis yang sama dengan hutan.

Laporan Kemenhut dan pandangan para pakar menunjukkan perbedaan mendasar antara perkebunan sawit dan ekosistem hutan. Hutan menopang keanekaragaman hayati, menyimpan air, serta menyerap karbon dalam kapasitas lebih besar. Sementara itu, kebun sawit menjalankan fungsi utama sebagai sistem produksi. Karena itu, pertanyaan sawit bisa menggantikan hutan tidak dapat lepas dari perbedaan fungsi tersebut. (iD/*)

Berita Terkait

Mulai 15 September, Beli BBM Subsidi Tertentu Wajib Tunjukkan STNK, Begini Aturannya
Pemerintah Siapkan Skema Bansos Baru, Apa Saja yang Akan Berubah?
Daftar Harga BBM Pertamina se-Indonesia 1 September 2026, Pertamax Turbo dan Dex Series Naik
9 Ulama Terpilih Jadi Anggota AHWA Muktamar ke-35 NU, Siap Tentukan Rais ‘Aam PBNU
DPR Soroti Data Desil DTSEN, Ketidakakuratan Bisa Hambat KIP Kuliah
Verrel Bramasta Masuk Komisi I DPR, Gantikan Slamet Ariyadi
Aturan Pembelian LPG 3 Kg Akan Berubah, Pemerintah Pakai Data DTSEN
RUU Perampasan Aset Dikebut, Ditargetkan Sah Desember 2026
Berita ini 14 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 13:00 WIB

Mulai 15 September, Beli BBM Subsidi Tertentu Wajib Tunjukkan STNK, Begini Aturannya

Jumat, 4 September 2026 - 09:00 WIB

Pemerintah Siapkan Skema Bansos Baru, Apa Saja yang Akan Berubah?

Selasa, 1 September 2026 - 11:00 WIB

Daftar Harga BBM Pertamina se-Indonesia 1 September 2026, Pertamax Turbo dan Dex Series Naik

Senin, 31 Agustus 2026 - 07:00 WIB

9 Ulama Terpilih Jadi Anggota AHWA Muktamar ke-35 NU, Siap Tentukan Rais ‘Aam PBNU

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 15:00 WIB

Apakah Sawit Bisa Menggantikan Hutan? Pakar Jelaskan Fakta dan Dampaknya

Berita Terbaru

Air Dispenser Panas Semua? Kenali Penyebab dan Cara Memperbaikinya. (Gambar: Ilustrasi AI)

Tips & Trik

Air Dispenser Panas Semua? Kenali Penyebab dan Cara Memperbaikinya

Minggu, 6 Sep 2026 - 15:00 WIB