Melihat Orang Lain Ketakutan, Benarkah Kita Bisa Ikut Takut? Ini Faktanya

Penelitian menunjukkan bahwa manusia dapat mempelajari rasa takut melalui pengamatan. Amigdala, empati, dan pengalaman ikut memengaruhi respons tersebut.

- Jurnalis

Selasa, 20 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Melihat Orang Lain Ketakutan, Benarkah Kita Bisa Ikut Takut? Ini Faktanya. (Foto: hellosehat)

Melihat Orang Lain Ketakutan, Benarkah Kita Bisa Ikut Takut? Ini Faktanya. (Foto: hellosehat)

Intiperistiwa.com — Pernahkah jantung Anda berdebar kencang atau telapak tangan berkeringat menjelang wawancara kerja? Rasa gugup itu terkadang bertambah ketika Anda melihat orang lain menunjukkan ketakutan. Situasi tersebut menggambarkan bagaimana reaksi orang lain dapat memengaruhi perasaan kita. Psikolog Arash Javanbakht dari Wayne State University menjelaskan bahwa manusia dapat mempelajari rasa takut melalui pengamatan. Artinya, seseorang tidak selalu membutuhkan pengalaman buruk secara langsung untuk mengenali suatu situasi sebagai ancaman. Namun, pengaruh tersebut tidak membuat semua orang memberikan respons yang sama. Pengalaman, kondisi biologis, dan tingkat empati dapat membentuk reaksi setiap individu.

Dalam artikel Popular Science yang menjadi rujukan sumber pada Jumat (16/10/2026), Javanbakht menjelaskan peran rasa takut dalam kehidupan sosial. Sejumlah penelitian juga menelusuri aktivitas otak dan respons tubuh ketika seseorang mengamati ketakutan orang lain. Studi dalam jurnal Social Cognitive and Affective Neuroscience pada 1 Maret 2007 menemukan bahwa pengamatan dapat membantu seseorang mempelajari rasa takut tanpa mengalami peristiwa yang sama secara langsung. Penelitian lain dalam jurnal PLOS ONE menunjukkan bahwa isyarat kimia dari keringat orang yang mengalami stres emosional dapat memengaruhi aktivitas amigdala. Meski demikian, temuan tersebut tidak berarti rasa takut selalu berpindah secara otomatis. Sebaliknya, penelitian ini membantu menjelaskan bagaimana manusia mengenali ancaman melalui lingkungan sosial.

Bagaimana Rasa Takut Menular melalui Pengamatan?

Javanbakht menjelaskan bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang mempelajari banyak hal melalui interaksi dengan orang lain. Kemampuan tersebut juga membantu manusia mengenali kemungkinan bahaya tanpa harus mengalaminya sendiri.

“Kita (manusia) adalah makhluk sosial yang belajar dari orang lain. Rasa takut harus menular. Sistem rasa takut bersifat primitif dan sebagian besar berkembang dengan mempertimbangkan ancaman fisik,” kata Javanbakht, sebagaimana dikutip dalam sumber berita.

Ketika seseorang melihat orang lain bereaksi terhadap ancaman, ia dapat menghubungkan situasi tersebut dengan kemungkinan bahaya. Karena itu, ekspresi wajah, perilaku, dan reaksi tubuh orang lain dapat memengaruhi cara seseorang menilai keadaan.

Sebagai contoh, seseorang yang melihat kandidat lain merasa takut menjelang wawancara kerja mungkin ikut merasa cemas. Namun, respons tersebut tidak selalu muncul karena orang yang melihatnya bisa memiliki pengalaman atau pemahaman berbeda terhadap situasi yang sama.

Studi terhadap 11 peserta menunjukkan peran pengamatan

Penelitian yang terbit dalam jurnal Social Cognitive and Affective Neuroscience pada 1 Maret 2007 mengkaji proses manusia mempelajari rasa takut melalui pengamatan sosial. Peneliti melibatkan 11 peserta dalam analisis akhir untuk mengamati reaksi seseorang terhadap sengatan listrik.

Dalam eksperimen tersebut, peneliti menayangkan video seseorang yang menerima sengatan listrik ketika menyentuh kotak dengan warna tertentu. Ekspresi orang tersebut menunjukkan ketidaknyamanan setiap kali ia menerima sengatan.

Selanjutnya, peneliti meminta para peserta mengikuti pengujian dengan kotak berwarna serupa. Peneliti tidak memberikan sengatan listrik kepada peserta selama tahap pengujian tersebut. Pada saat yang sama, peneliti merekam aktivitas otak menggunakan functional magnetic resonance imaging (fMRI) dan mengukur respons tubuh, termasuk perubahan konduktivitas kulit.

Baca Juga :  Asap Karhutla Tak Hanya Mengganggu Paru, IDAI Soroti Risiko bagi Kecerdasan dan Mental Anak

Hasilnya, peserta menunjukkan respons takut yang lebih kuat terhadap warna yang sebelumnya mereka kaitkan dengan sengatan listrik. Padahal, mereka tidak mengalami sengatan secara langsung selama pengujian.

Peneliti juga menemukan aktivitas amigdala ketika peserta mengamati reaksi orang lain dan menjalani tes. Selain amigdala, beberapa area otak yang berkaitan dengan pemrosesan emosi dan sensasi tubuh, termasuk insula anterior, menunjukkan aktivitas selama proses pembelajaran tersebut.

Temuan ini menunjukkan bahwa seseorang dapat mempelajari rasa takut melalui pengamatan. Meski demikian, jumlah peserta yang relatif kecil membuat kita perlu berhati-hati ketika menerapkan hasilnya kepada seluruh populasi.

Keringat saat Stres Juga Dapat Memengaruhi Respons Otak

Penelitian lain yang terbit dalam jurnal PLOS ONE menguji apakah isyarat kimia dari keringat manusia dapat menyampaikan informasi tentang stres emosional. Untuk keperluan penelitian, peneliti mengumpulkan sampel keringat dari orang yang akan melakukan terjun payung dan orang yang berlari di atas treadmill.

Para peneliti kemudian meminta kelompok peserta lain menghirup kapas yang mengandung sampel keringat tersebut. Peneliti menggunakan pemindaian otak untuk mengamati respons terhadap masing-masing sampel.

Hasilnya, peserta menunjukkan peningkatan aktivitas amigdala ketika menghirup sampel keringat dari orang yang mengalami stres emosional menjelang terjun payung. Peneliti tidak menemukan respons yang sama terhadap sampel dari orang yang melakukan latihan fisik sebagai pembanding.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa isyarat kimia dari stres emosional dapat memengaruhi pemrosesan informasi terkait ancaman. Namun, hasil itu tidak membuktikan bahwa setiap orang akan merasakan ketakutan yang sama hanya dengan mencium keringat orang lain.

Dengan demikian, manusia dapat menangkap isyarat ketakutan melalui lebih dari satu jalur. Pengamatan visual, reaksi orang lain, dan kemungkinan isyarat kimia dapat ikut memengaruhi respons tubuh serta penilaian terhadap suatu situasi.

Faktor Biologis, Pengalaman, dan Empati Memengaruhi Rasa Takut

Tidak semua orang merespons situasi menegangkan dengan cara yang sama. Javanbakht menjelaskan bahwa faktor biologis, pengalaman hidup, dan tingkat empati ikut membentuk respons seseorang terhadap ketakutan orang lain.

Orang yang lebih peka terhadap emosi orang lain mungkin merasakan kecemasan lebih kuat ketika menyaksikan situasi menegangkan. Sebaliknya, orang yang memahami kondisi tersebut berdasarkan pengetahuan atau pengalaman tertentu mungkin menilai ancamannya secara berbeda.

Misalnya, seorang ahli yang memahami perilaku ular berbisa dapat memberikan respons lebih tenang daripada orang yang tidak memiliki pengetahuan serupa. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman dan pemahaman seseorang dapat memengaruhi cara mereka menafsirkan ancaman.

Javanbakht juga menyinggung kemungkinan hubungan antara trauma dan perubahan ekspresi gen yang berkaitan dengan respons stres. Ia menyampaikan pernyataan berikut:

Baca Juga :  Benjolan di Leher Jangan Diabaikan, Bisa Jadi Tanda Kanker Tiroid

“Mereka yang pernah mengalami bencana atau perang, gen anak-anak mereka telah berubah menjadi lebih siap untuk merasa takut,” tutur Javanbakht.

Pernyataan tersebut memerlukan konteks ilmiah yang memadai sebelum pembaca menarik kesimpulan tentang pewarisan trauma. Bahan sumber tidak merinci penelitian yang mendasari kutipan itu, sehingga redaksi tidak dapat menyimpulkan bahwa semua anak penyintas bencana atau perang mewarisi rasa takut secara langsung melalui gen.

Karena itu, pembaca perlu membedakan pembelajaran rasa takut melalui pengamatan dari pengaruh pengalaman traumatis terhadap respons stres. Kedua hal tersebut berkaitan dengan cara manusia menghadapi ancaman, tetapi tidak selalu melibatkan mekanisme yang sama.

Apakah Rasa Takut Selalu Berdampak Buruk?

Rasa takut tidak selalu membawa dampak negatif. Dalam situasi tertentu, respons tersebut membantu manusia mengenali bahaya dan meningkatkan kewaspadaan.

Sebagai contoh, seseorang dapat belajar menghindari situasi berbahaya setelah menyaksikan pengalaman buruk orang lain. Dengan cara itu, pengamatan dapat memberikan informasi tentang risiko tanpa mengharuskan seseorang mengalami bahaya secara langsung.

Namun, rasa takut juga dapat muncul dalam situasi yang sebenarnya tidak mengancam keselamatan fisik, seperti berbicara di depan umum atau menjalani wawancara kerja. Dalam kondisi tersebut, reaksi orang lain dapat memperkuat kecemasan seseorang.

Oleh sebab itu, rasa takut yang muncul ketika melihat orang lain panik tidak otomatis menunjukkan kelemahan. Respons tersebut dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran sosial yang membantu manusia memahami lingkungan. (iD/*)


FAQ

1. Benarkah rasa takut bisa menular?

Ya, manusia dapat mempelajari rasa takut melalui pengamatan terhadap reaksi orang lain. Namun, tidak semua orang menunjukkan respons yang sama karena pengalaman, kondisi biologis, dan empati turut memengaruhi reaksi mereka.

2. Apa peran amigdala dalam rasa takut?

Amigdala merupakan bagian otak yang berperan dalam pemrosesan ancaman dan pembelajaran rasa takut. Penelitian tahun 2007 menemukan aktivitas amigdala ketika peserta mengamati pengalaman menakutkan orang lain dan menjalani pengujian berikutnya.

3. Apakah seseorang harus mengalami kejadian buruk untuk merasa takut?

Tidak. Penelitian tentang pembelajaran sosial menunjukkan bahwa seseorang dapat mengembangkan respons takut melalui pengamatan, meskipun ia tidak mengalami kejadian yang sama secara langsung.

4. Apakah keringat orang yang mengalami stres bisa memengaruhi orang lain?

Penelitian dalam jurnal PLOS ONE menemukan peningkatan aktivitas amigdala ketika peserta menghirup sampel keringat dari orang yang mengalami stres emosional. Namun, temuan tersebut tidak membuktikan bahwa setiap orang pasti mengalami ketakutan yang sama.

5. Mengapa orang memberikan respons takut yang berbeda?

Pengalaman, faktor biologis, pengetahuan, dan empati dapat memengaruhi cara seseorang menilai ancaman. Karena itu, orang yang menghadapi situasi serupa belum tentu merasakan ketakutan dengan intensitas yang sama.

Berita Terkait

Asap Karhutla Tak Hanya Mengganggu Paru, IDAI Soroti Risiko bagi Kecerdasan dan Mental Anak
Hb Rendah? Ini 5 Cara Menaikkan Hemoglobin Sesuai Penyebabnya
5 Cara Mencegah Influenza A, dari Vaksinasi hingga Cuci Tangan
Katarak di Usia Muda: Kenali Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Mau Tetap Sehat di Usia Lanjut? Mulai dengan 5 Kebiasaan Makan Ini
Screen Time Tinggi: 3 Dampak pada Kesehatan dan Cara Mengatasinya
Kemenkes Siapkan 3 Perubahan Layanan BPJS Kesehatan
Dinkes Kerinci Gelar Updating Simatneo dan MPDN, Perkuat Data Ibu dan Bayi serta Pantau Capaian CKG
Berita ini 11 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:00 WIB

Asap Karhutla Tak Hanya Mengganggu Paru, IDAI Soroti Risiko bagi Kecerdasan dan Mental Anak

Selasa, 20 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Melihat Orang Lain Ketakutan, Benarkah Kita Bisa Ikut Takut? Ini Faktanya

Senin, 19 Oktober 2026 - 07:00 WIB

Hb Rendah? Ini 5 Cara Menaikkan Hemoglobin Sesuai Penyebabnya

Minggu, 18 Oktober 2026 - 19:00 WIB

5 Cara Mencegah Influenza A, dari Vaksinasi hingga Cuci Tangan

Selasa, 13 Oktober 2026 - 07:00 WIB

Katarak di Usia Muda: Kenali Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Berita Terbaru