Intiperistiwa.com – Malware ToxicPanda 2.0 kini mengancam para pengguna ponsel Android. Peneliti pertama kali mendeteksi pendahulu trojan perbankan ini beberapa tahun lalu. Sebelumnya, versi awal lebih banyak menargetkan pengguna di wilayah Eropa. Namun, varian terbaru memperluas jangkauan operasi dan membawa kemampuan serangan yang lebih berbahaya.
Peneliti keamanan siber Zimperium menemukan peningkatan kemampuan peretasan pada ToxicPanda 2.0. Malware ini membawa mekanisme pencurian PIN yang menyasar lebih dari 140 aplikasi perbankan dan mata uang kripto. Sebanyak 349 lembaga keuangan di 16 negara menggunakan aplikasi yang masuk dalam sasaran tersebut. Selain itu, peretas menambahkan 167 perintah jarak jauh baru pada malware ini.
Bisa Curi PIN dan Kendalikan Ponsel
Perintah jarak jauh tersebut memberi peretas kemampuan untuk mengambil alih ponsel korban secara diam-diam. Penjahat siber kemudian dapat mengendalikan perangkat tanpa sepengetahuan pemiliknya. Selain itu, malware mengincar PIN yang pengguna pakai untuk membuka aplikasi perbankan. PIN tersebut dapat membantu peretas mengotorisasi transfer dan menguras isi rekening korban.
ToxicPanda 2.0 dapat menyusup ke ponsel Android melalui berbagai modus. Salah satu taktiknya memakai aplikasi bodong dan layar instalasi palsu. Melalui cara tersebut, peretas menjebak pengguna agar memberikan hak akses layanan VPN. Selanjutnya, malware memakai akses itu untuk memblokir komunikasi perangkat dengan Google Play dan Google Play Services.
Trojan ini juga mengeksploitasi fitur Aksesibilitas bawaan Android untuk mengambil kendali perangkat. Setelah memperoleh akses, malware dapat menyimulasikan rangkaian ketukan pada layar ponsel. Selain itu, ToxicPanda 2.0 mampu mengaktifkan Developer Options secara otomatis. Kemudian, malware mengakses perangkat melalui fitur Wireless Debugging.
Setelah masuk ke sistem, trojan menampilkan laman tiruan yang menyerupai aplikasi perbankan asli. Peretas memakai laman tersebut untuk memancing pengguna memasukkan PIN. Pada saat bersamaan, perintah jarak jauh mencari akses ke kredensial layar kunci. Selain itu, malware mengincar berbagai data sensitif lain pada perangkat korban.
Waspadai APK dari Sumber Tidak Tepercaya
Tidak ada sistem operasi yang sepenuhnya bebas dari celah keamanan. Namun, Android memberi pengguna kebebasan memasang aplikasi dari luar toko resmi. Peretas sering memanfaatkan fleksibilitas tersebut untuk menyamarkan aplikasi berbahaya sebagai perangkat lunak legal. Karena itu, pengguna perlu berhati-hati saat memperoleh file APK dari sumber tidak tepercaya.
ToxicPanda 2.0 sangat mengandalkan manipulasi untuk mendapatkan izin akses perangkat. Oleh karena itu, kewaspadaan pengguna menjadi pertahanan utama menghadapi ancaman tersebut. Pengguna sebaiknya tidak sembarangan mengunduh file APK dari sumber yang meragukan. Selain itu, pengguna perlu memeriksa setiap permintaan izin sebelum memberikan akses kepada aplikasi baru.
Perangkat Android modern kerap memberi peringatan ketika aplikasi meminta izin berisiko. Namun, pengguna tetap perlu mencurigai permintaan akses yang tidak sesuai dengan fungsi aplikasi. Misalnya, aplikasi biasa tiba-tiba meminta akses VPN atau Aksesibilitas tanpa alasan fungsi yang jelas. detikINET mengutip Phone Arena mengenai ancaman tersebut pada Sabtu, 22 Agustus 2026. (iD/*)
FAQ
Apa itu ToxicPanda 2.0?
ToxicPanda 2.0 merupakan varian terbaru dari trojan perbankan yang menyerang perangkat Android. Peneliti mendeteksi pendahulunya beberapa tahun lalu. Namun, versi terbaru membawa jangkauan operasi lebih luas. Malware tersebut juga menambah kemampuan untuk mencuri PIN dan mengendalikan perangkat.
Apa saja yang menjadi sasaran ToxicPanda 2.0?
ToxicPanda 2.0 menyasar lebih dari 140 aplikasi perbankan dan mata uang kripto. Aplikasi tersebut digunakan oleh 349 lembaga keuangan di 16 negara. Selain itu, malware mengincar PIN dan kredensial layar kunci. Peretas juga dapat mencari berbagai data sensitif dari perangkat korban.
Bagaimana ToxicPanda 2.0 masuk ke ponsel Android?
Peretas dapat memakai aplikasi bodong dan layar instalasi palsu untuk menjebak pengguna. Modus tersebut mendorong pengguna memberikan akses VPN. Selain itu, malware mengeksploitasi fitur Aksesibilitas bawaan Android. ToxicPanda 2.0 kemudian dapat mengakses perangkat melalui fitur Wireless Debugging.
Bagaimana cara mengurangi risiko serangan ToxicPanda 2.0?
Pengguna sebaiknya menghindari file APK dari sumber yang tidak tepercaya. Selain itu, pengguna perlu memeriksa izin yang aplikasi minta. Permintaan akses VPN atau Aksesibilitas dari aplikasi biasa perlu mendapat perhatian khusus. Pengguna juga harus berhati-hati ketika menemukan layar instalasi yang mencurigakan.











Komentar