Sedekah Hijau Jadi Jalan Baru Umat Islam Menjaga Bumi

Oleh Royhan Mubarok, Pendiri Nurrohim Foundation

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 6 Juni 2026 - 06:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Sedekah Hijau Jadi Jalan Baru Umat Islam Menjaga Bumi. (Foto: IA)

Sedekah Hijau Jadi Jalan Baru Umat Islam Menjaga Bumi. (Foto: IA)

Intiperistiwa.com – Perubahan iklim terus memicu kekhawatiran dunia. Suhu bumi meningkat dan kualitas udara semakin menurun. Selain itu, kerusakan alam muncul hampir di berbagai wilayah.

Hutan terus menyusut akibat pembukaan lahan besar-besaran. Sungai juga menghadapi pencemaran yang semakin parah. Sementara itu, bencana ekologis datang silih berganti tanpa jeda panjang.

Indonesia ikut menghadapi kondisi tersebut. Kebakaran hutan, banjir bandang, dan longsor semakin sering terjadi. Bahkan, banyak daerah mulai mengalami krisis air bersih.

Sebagian besar kerusakan lingkungan muncul akibat aktivitas manusia. Banyak pihak mengejar keuntungan ekonomi tanpa memperhatikan keseimbangan alam. Akibatnya, daya dukung lingkungan terus melemah.

Berbagai solusi sebenarnya sudah bermunculan. Pemerintah memperketat aturan lingkungan dan mendorong teknologi hijau. Di sisi lain, komunitas masyarakat juga mulai aktif mengampanyekan pelestarian alam.

Namun, persoalan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan teknologi. Krisis ekologis juga berhubungan dengan moral dan kesadaran manusia. Ketika manusia memandang alam sebagai objek eksploitasi, kerusakan sulit dihindari.

Islam Mengajarkan Tanggung Jawab Ekologis

Islam mengajarkan hubungan harmonis antara manusia dan alam. Al-Qur’an menempatkan manusia sebagai khalifah di bumi. Karena itu, manusia wajib menjaga dan memakmurkan lingkungan.

Pandangan tersebut berbeda dengan pola pikir eksploitatif modern. Islam tidak menganggap manusia sebagai penguasa mutlak alam. Sebaliknya, manusia hanya menerima amanah dari Allah Swt.

Kesadaran tersebut melahirkan konsep ekoteologi Islam. Konsep ini menghubungkan keimanan dengan tanggung jawab ekologis. Dengan begitu, menjaga lingkungan menjadi bagian dari ibadah.

Kerusakan alam juga memiliki dimensi spiritual. Saat manusia merusak lingkungan, manusia mengkhianati amanah Tuhan. Sebaliknya, pelestarian alam mencerminkan bentuk ketaatan kepada-Nya.

Baca Juga :  Dua Jemaah Haji Asal Indonesia Meninggal Saat Pulang

Memahami Kembali Makna Sedekah

Banyak umat Islam memahami sedekah sebagai bantuan sosial. Misalnya, santunan anak yatim atau bantuan pendidikan. Selain itu, masyarakat juga sering mengaitkannya dengan pembangunan masjid.

Semua bentuk bantuan tersebut tentu sangat mulia. Namun, sedekah sebenarnya memiliki makna yang lebih luas. Islam mendorong seluruh bentuk kebaikan yang memberi manfaat.

Al-Qur’an menjelaskan bahwa infaq menghadirkan kemaslahatan bagi kehidupan. Sementara itu, sedekah tidak hanya berbentuk materi. Setiap tindakan bermanfaat juga memiliki nilai ibadah.

Rasulullah SAW pernah menjelaskan pentingnya menanam pohon. Pohon yang dimanfaatkan manusia atau hewan bernilai sedekah. Karena itu, aktivitas ekologis juga memiliki pahala berkelanjutan.

Pesan tersebut membuka pemahaman baru bagi umat Islam. Menanam pohon bukan sekadar kegiatan lingkungan. Aktivitas itu juga menjadi bentuk pengabdian kepada Allah Swt.

Sedekah Hijau Mulai Berkembang

Dari pemahaman tersebut, lahirlah konsep sedekah hijau atau eco-sadaqah. Gerakan ini mengarahkan filantropi Islam untuk menjaga lingkungan hidup. Selain itu, gerakan tersebut mulai berkembang di sejumlah negara Muslim.

Sedekah hijau memiliki banyak bentuk nyata. Masyarakat dapat menanam pohon untuk penghijauan. Selain itu, lembaga sosial juga bisa membangun sumur air bersih.

Program konservasi hutan dan mangrove juga termasuk sedekah hijau. Pengelolaan sampah berbasis masyarakat pun memiliki dampak besar. Bahkan, energi terbarukan bagi pesantren dapat mendukung keberlanjutan lingkungan.

Semua program tersebut memberi manfaat jangka panjang. Pohon yang ditanam hari ini bisa bertahan puluhan tahun. Sementara itu, sumur air bersih mampu membantu ribuan warga.

Karena itu, sedekah hijau sangat dekat dengan konsep sedekah jariyah. Manfaatnya terus mengalir selama alam tetap memberikan kehidupan.

Baca Juga :  Pesawat Latih T-34 Taiwan Jatuh Saat Latihan, Dua Pilot Tewas

Potensi Besar Filantropi Islam

Indonesia memiliki potensi filantropi Islam yang sangat besar. Dana zakat, infaq, sedekah, dan wakaf terus meningkat setiap tahun. Potensi tersebut dapat mendukung pelestarian lingkungan nasional.

Bayangkan jika ribuan masjid memiliki program sedekah pohon. Bayangkan pula jika lembaga zakat aktif memulihkan sungai tercemar. Langkah tersebut tentu membawa dampak besar bagi lingkungan.

Pesantren dan madrasah juga bisa mengambil peran penting. Energi bersih dapat membantu mengurangi pencemaran lingkungan. Selain itu, pendidikan ekologis dapat membentuk generasi lebih peduli alam.

Filantropi Islam tidak hanya membantu masyarakat miskin. Gerakan tersebut juga dapat menjaga keseimbangan bumi. Dengan begitu, manfaatnya terasa bagi generasi mendatang.

Menjadikan Lingkungan Sebagai Ibadah

Islam sebenarnya sudah memiliki fondasi kuat mengenai lingkungan. Al-Qur’an dan Sunnah mengajarkan tanggung jawab terhadap alam. Namun, tantangan terbesar terletak pada pelaksanaannya.

Kesadaran ekologis perlu hadir dalam pendidikan Islam. Dakwah masjid juga perlu membahas pentingnya menjaga lingkungan. Selain itu, lembaga filantropi harus mulai mendukung program berkelanjutan.

Masyarakat perlu memandang pelestarian alam sebagai bagian dari ibadah. Sebab, bumi bukan warisan yang bebas dihabiskan. Bumi merupakan titipan untuk generasi berikutnya.

Karena itu, infaq dan sedekah tidak hanya membantu manusia lapar. Sedekah juga dapat menghidupkan kembali lingkungan yang rusak. Bahkan, sedekah hijau bisa menjadi langkah kecil menyelamatkan bumi.

Di tengah krisis lingkungan yang semakin berat, manusia perlu memberi ruang bagi alam pulih kembali. Mungkin, itulah sedekah paling penting hari ini. (id/*)

Berita Terkait

Arab Saudi menganugerahi Malaysia Sebagai Penyelenggara Haji Terbaik 2026
Dua Jemaah Haji Asal Indonesia Meninggal Saat Pulang
Indonesia Belum Raih Labbaytum Award, Ini Penyebabnya
Kisah Kejujuran Gadis Penjual Susu dan Khalifah Umar bin Khattab
Ramadan: A Month of Spiritual Reflection, Devotion, and Charity
Berita ini 0 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 06:00 WIB

Sedekah Hijau Jadi Jalan Baru Umat Islam Menjaga Bumi

Jumat, 5 Juni 2026 - 17:00 WIB

Arab Saudi menganugerahi Malaysia Sebagai Penyelenggara Haji Terbaik 2026

Jumat, 5 Juni 2026 - 09:00 WIB

Dua Jemaah Haji Asal Indonesia Meninggal Saat Pulang

Jumat, 5 Juni 2026 - 06:00 WIB

Indonesia Belum Raih Labbaytum Award, Ini Penyebabnya

Kamis, 4 Juni 2026 - 06:00 WIB

Kisah Kejujuran Gadis Penjual Susu dan Khalifah Umar bin Khattab

Berita Terbaru

Sedekah Hijau Jadi Jalan Baru Umat Islam Menjaga Bumi. (Foto: IA)

Khasanah

Sedekah Hijau Jadi Jalan Baru Umat Islam Menjaga Bumi

Sabtu, 6 Jun 2026 - 06:00 WIB

Ilistrasi VCGamers Tampung 25 Ribu UMKM Digital. (Foto: IA)

Game

VCGamers Tampung 25 Ribu UMKM Digital

Jumat, 5 Jun 2026 - 23:00 WIB