Minyak Dunia Turun Tajam Setelah AS dan Iran Dekati Kesepakatan

Prospek perdamaian AS dan Iran memicu koreksi harga minyak global setelah berminggu-minggu mengalami lonjakan.

- Jurnalis

Sabtu, 13 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Minyak Dunia Turun Tajam Setelah AS dan Iran Dekati Kesepakatan. (Foto: Energyintel/metrotvnews)

Minyak Dunia Turun Tajam Setelah AS dan Iran Dekati Kesepakatan. (Foto: Energyintel/metrotvnews)

Intiperistiwa.comHarga minyak dunia bergerak melemah setelah muncul kabar mengenai peluang kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat. Pelaku pasar merespons positif perkembangan diplomatik yang di nilai dapat meredakan ketegangan di Timur Tengah.

Kabar tersebut berkaitan dengan rencana pembukaan kembali Selat Hormuz. Jalur pelayaran itu selama ini menjadi urat nadi distribusi minyak global.

Harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat turun 3,2 persen. Nilainya tercatat di level US$84,88 per barel.

Sementara itu, minyak Brent sebagai acuan internasional melemah 3,4 persen. Harga Brent berada di posisi US$87,33 per barel.

Harga Mingguan Masih Terkoreksi

Secara mingguan, harga minyak telah turun sekitar 6 persen. Namun, nilainya masih mencatat kenaikan lebih dari 20 persen.

Kenaikan tersebut terjadi sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Konflik itu sebelumnya memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia.

Kini, arah pasar mulai berubah. Investor menilai peluang perdamaian dapat mengurangi risiko gangguan distribusi minyak.

Peluang Kesepakatan Di Nilai Meningkat

Seorang sumber yang juga pejabat pemerintahan Presiden AS Donald Trump menyebut peluang tercapainya kesepakatan cukup besar. Ia memperkirakan kemungkinan itu mencapai 80 persen dalam beberapa hari mendatang.

Meski demikian, ia belum berani memastikan hasil akhir perundingan. Menurutnya, proses politik di Iran melibatkan banyak pihak dengan kepentingan berbeda.

Baca Juga :  BSI Siapkan Kantor Cabang di Jeddah, Untuk Memperkuat Layanan Haji dan Umrah

“Bukan 100 persen. Sistem mereka sangat rumit,” ujarnya, di kutip dari CNBC, Sabtu (13/6/2026).

Ia juga menyebut sebagian besar pihak yang terlibat mendukung perjanjian tersebut. Namun, masih ada kelompok yang belum sepakat.

Isi Rancangan Kesepakatan Mulai Terungkap

Beberapa sumber menyebut kesepakatan tidak hanya menyangkut Selat Hormuz. Rancangan itu juga memuat sejumlah komitmen strategis.

Amerika Serikat di sebut akan mencabut blokade angkatan laut. Selain itu, Iran akan membongkar program nuklir tertentu.

Rancangan tersebut juga mencakup penghapusan uranium yang telah di perkaya. Sebagai gantinya, Iran berpeluang memperoleh insentif ekonomi.

Insentif itu baru berlaku apabila Iran mematuhi seluruh isi perjanjian. Ketentuan tersebut menjadi salah satu poin penting dalam negosiasi.

Di sisi lain, kantor berita pemerintah Iran, Mehr, melaporkan rincian berbeda. Media tersebut menyebut AS akan menarik pasukannya dari sekitar wilayah Iran.

Laporan itu juga menyebut pencabutan blokade dalam 30 hari. Selain itu, AS di kabarkan menyiapkan dana rekonstruksi sebesar US$300 miliar.

Trump Bantah Dokumen yang Beredar

Iran di sebut akan membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 30 hari. Namun, pembukaan itu tetap mengikuti pengaturan dari Teheran.

Meski begitu, Donald Trump membantah isi dokumen yang beredar luas. Ia menegaskan informasi tersebut bukan naskah resmi kesepakatan.

“Syarat-syarat yang di bocorkan Iran kepada media berita palsu tidak berkaitan dengan kesepakatan tertulis,” tulis Trump melalui Truth Social.

Baca Juga :  Arsenal Tertarik Mendatangkan Bintang Club Brugge Christos Tzolis Yang Dibanderol 40 juta euro

Trump juga meminta berbagai pihak menghentikan penyebaran informasi yang belum terverifikasi. Pernyataan itu menambah dinamika proses diplomasi.

Pakistan Sebut Perdamaian Kian Dekat

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, turut memberikan pernyataan. Pakistan selama ini berperan sebagai mediator dalam pembicaraan tersebut.

Sharif menilai ada upaya disinformasi yang bertujuan menggagalkan perdamaian. Meski demikian, ia tetap optimistis terhadap hasil perundingan.

Menurutnya, kedua negara telah menyepakati naskah akhir. Pakistan kini membantu menyelesaikan tahapan lanjutan.

“Perdamaian belum pernah sedekat ini seperti sekarang,” katanya.

Pernyataan serupa datang dari Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi. Ia menyebut nota kesepahaman semakin mendekati tahap final.

Meski demikian, Araghchi meminta publik bersabar. Ia mengimbau masyarakat tidak berspekulasi sebelum proses selesai.

AS Tegaskan Tidak Ada Dana Tunai Langsung

Wakil Presiden AS, JD Vance, juga menanggapi berbagai kabar yang beredar. Ia membantah adanya pemberian dana tunai otomatis kepada Iran.

Menurut Vance, manfaat ekonomi hanya di berikan setelah Iran memenuhi kewajibannya. Pemerintah AS tetap mengedepankan mekanisme verifikasi.

Pernyataan itu sekaligus menepis berbagai spekulasi. Dengan demikian, arah negosiasi masih bergantung pada proses finalisasi kedua pihak.

Jika kesepakatan benar-benar terwujud, pasar energi global berpotensi memasuki fase baru. Stabilitas pasokan minyak pun dapat kembali terjaga.(id/*)

Berita Terkait

Remaja Ini Pecahkan Rekor 300 Tahun, Kini Jadi Profesor Termuda Dunia
Daftar 10 Negara dengan Sistem Pendidikan Terburuk di Dunia, Bagaimana Posisi Indonesia?
5 Negara yang Berencana Pindahkan Ibu Kota, Indonesia Salah Satunya
2 Negara dengan Program Makan Bergizi Gratis Terbaik di Dunia, Sudah Berjalan Puluhan Tahun
Indonesia Masuk 10 Besar Destinasi Wisata Kuliner Terbaik Dunia 2026, Ungguli Thailand hingga Singapura
University of Silicon Valley di AS Buka Beasiswa Khusus Gamers 2026, Tertarik Mendaftar?
10 Negara Ini Tidak Memungut Pajak Penghasilan Pribadi dari Warganya, Bagaimana dengan Indonesia?
Tarif Baru Trump untuk 60 Negara Resmi Berlaku, Indonesia Kena 10%
Berita ini 1 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 3 Agustus 2026 - 23:00 WIB

Remaja Ini Pecahkan Rekor 300 Tahun, Kini Jadi Profesor Termuda Dunia

Minggu, 2 Agustus 2026 - 09:00 WIB

Daftar 10 Negara dengan Sistem Pendidikan Terburuk di Dunia, Bagaimana Posisi Indonesia?

Minggu, 2 Agustus 2026 - 07:00 WIB

5 Negara yang Berencana Pindahkan Ibu Kota, Indonesia Salah Satunya

Rabu, 29 Juli 2026 - 17:00 WIB

2 Negara dengan Program Makan Bergizi Gratis Terbaik di Dunia, Sudah Berjalan Puluhan Tahun

Selasa, 28 Juli 2026 - 07:00 WIB

Indonesia Masuk 10 Besar Destinasi Wisata Kuliner Terbaik Dunia 2026, Ungguli Thailand hingga Singapura

Berita Terbaru