Intiperistiwa.com – Bencana alam sering mengganggu jaringan telekomunikasi. Akibatnya, masyarakat kesulitan berkomunikasi ketika membutuhkan bantuan. Namun, China kini menghadirkan solusi baru untuk mengatasi persoalan tersebut.
Pemerintah China meluncurkan Sistem operator seluler darurat nasional. Sistem ini memungkinkan pengguna tetap terhubung saat bencana terjadi. Karena itu, masyarakat masih dapat mengakses layanan komunikasi meski jaringan utama mengalami gangguan.
Pusat Dukungan Komunikasi Darurat di bawah Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China (MIIT) mengembangkan sistem tersebut. Sejumlah operator seluler di China juga ikut mendukung implementasinya.
Menurut laporan China Global Television Network (CGTN), teknologi ini menawarkan kemampuan lintas operator. Dengan demikian, pengguna dapat terhubung ke jaringan lain secara otomatis saat kondisi darurat.
Tetap Bisa Telepon dan Internetan
Saat banjir, gempa bumi, atau tanah longsor merusak jaringan lokal, pengguna tidak perlu mengganti kartu SIM. Mereka juga tidak perlu menggunakan perangkat baru.
Dalam kondisi darurat, ponsel akan mendeteksi jaringan alternatif yang tersedia. Selanjutnya, perangkat langsung terhubung ke jaringan bernama National Emergency Communication.
Jaringan tersebut berfungsi layaknya operator seluler darurat milik pemerintah. Melalui jaringan itu, pengguna tetap bisa menelepon, mengirim SMS, dan mengakses internet seluler.
Kemampuan ini menjadi nilai utama sistem baru tersebut. Sebab, komunikasi sering menjadi kebutuhan paling penting saat bencana melanda.
Satu Jaringan untuk Semua Operator
Pemerintah China membangun platform ini dengan perangkat base station yang mendukung berbagai operator. Karena itu, satu perangkat dapat melayani banyak pelanggan sekaligus.
Sistem tersebut mendukung operator besar seperti China Telecom, China Mobile, dan China Unicom. Selain itu, platform ini memastikan komunikasi tetap berjalan bagi masyarakat dan petugas penyelamat.
Pemerintah merancang teknologi tersebut agar layanan komunikasi tetap tersedia di wilayah terdampak. Dengan begitu, koordinasi penanganan bencana dapat berlangsung lebih cepat.
Terhubung dengan Drone dan Kendaraan Khusus
Platform ini tidak hanya mengandalkan menara komunikasi konvensional. Sistem tersebut juga terhubung dengan berbagai perangkat darurat.
Petugas dapat mengoperasikan base station berbasis drone untuk menjangkau daerah terisolasi. Selain itu, mereka dapat menggunakan perangkat komunikasi portabel di lapangan.
Pemerintah juga menyiapkan base station pada kendaraan operasional. Bahkan, beberapa sistem komunikasi dapat di tempatkan di kapal.
Setelah konfigurasi selesai, petugas dapat mengaktifkan seluruh perangkat dalam waktu singkat. Karena itu, respons darurat dapat berlangsung lebih cepat saat bencana besar terjadi.
Menurut otoritas China, sistem terpadu ini meningkatkan fleksibilitas operasional. Selain itu, teknologi tersebut memperkuat koordinasi saat jaringan konvensional tidak berfungsi.
Dukung Strategi Penanggulangan Bencana
Peluncuran jaringan komunikasi darurat ini menjadi bagian dari rencana modernisasi tanggap darurat China periode 2026–2030. Dewan Negara China atau State Council memasukkan program tersebut dalam strategi nasional.
Melalui kebijakan itu, pemerintah ingin mengubah pendekatan penanggulangan bencana. Jika sebelumnya fokus pada penanganan setelah kejadian, kini pemerintah lebih mengutamakan pencegahan risiko sejak awal.
China juga menargetkan peningkatan kemampuan mitigasi bencana dan keselamatan kerja. Selain itu, pemerintah memperkuat sistem tanggap darurat berbasis teknologi modern.
Pemerintah menargetkan kemajuan besar pada 2030. Melalui langkah tersebut, China berharap kemampuan respons darurat, terutama di tingkat daerah, dapat meningkat secara signifikan.
Dengan jaringan baru ini, masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk tetap terhubung saat keadaan darurat. Karena itu, proses penyelamatan dan koordinasi bantuan dapat berjalan lebih efektif ketika bencana terjadi. (id/*)










Komentar