Terobsesi Hidup Abadi, Bryan Johnson ‘Kloning’ Diri Lewat Eksperimen Baby Bryan

Bryan Johnson membuat Baby Bryan dari sel punca hasil rekayasa dan menyimpannya dalam cawan petri.

- Jurnalis

Rabu, 5 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ingin Hidup Abadi, Miliarder Ini ‘Kloning’ Diri Jadi Bayi. (Foto: Instagram @cretivox/sumutpos.jawapos)

Ingin Hidup Abadi, Miliarder Ini ‘Kloning’ Diri Jadi Bayi. (Foto: Instagram @cretivox/sumutpos.jawapos)

Intiperistiwa.com – Miliarder teknologi sekaligus biohacker Bryan Johnson kembali menarik perhatian lewat eksperimen Baby Bryan. Pria yang terkenal dengan ambisinya melawan penuaan itu mengaku telah “mengkloning” dirinya sendiri dalam bentuk bayi. Namun, Johnson tidak menciptakan bayi manusia sungguhan melalui eksperimen tersebut. Ia justru mengembangkan kumpulan sel punca hasil rekayasa yang kini hidup dalam cawan petri.

Johnson mengumumkan eksperimen tersebut melalui akun X miliknya pada 21 Juli 2026. Saat itu, ia menggunakan gaya dramatis ketika memperkenalkan versi bayi dari dirinya sendiri. “Saya baru saja mengkloning diri saya… sebagai bayi yang baru lahir,” tulis Johnson. Pernyataan tersebut kemudian memicu perdebatan di antara para pengikutnya.

Sebagian pengikut menganggap eksperimen itu sebagai langkah berani dalam penelitian umur panjang. Namun, sebagian lainnya menilai Johnson sudah melangkah terlalu jauh. “Midlife crisis-nya bahkan berlari lebih cepat dari jadwal,” canda seorang netizen. Sementara itu, pengguna lain mendukung Johnson dan mendorong eksperimen serupa untuk kemajuan teknologi masa depan.

Baby Bryan Menggunakan Teknologi iPSC

Johnson membuat Baby Bryan menggunakan teknologi induced pluripotent stem cell atau iPSC. Dalam proses tersebut, peneliti mengambil sel dewasa dari darah Johnson. Kemudian, mereka memprogram ulang sel tersebut menjadi sel punca dengan karakteristik menyerupai sel embrio. Sel itu memiliki kemampuan berkembang menjadi beragam jenis sel dan jaringan tubuh.

Secara teori, iPSC dapat membantu peneliti mempelajari penyakit dan menguji berbagai obat. Selain itu, teknologi tersebut dapat membantu pengembangan jaringan dengan kecocokan genetik pemilik sel. Karena berasal dari tubuhnya sendiri, Johnson menyebut Baby Bryan sebagai versi biologis dirinya saat masih sangat muda. Namun, sel tersebut belum membentuk bayi atau organisme manusia secara utuh.

“Baby Bryan ini tinggal di cawan petri untuk sementara,” kata Johnson. Ia berharap sel tersebut kelak dapat membantu menumbuhkan darah, jaringan, bahkan organ. Johnson juga ingin menghasilkan organ atau jaringan yang identik secara genetik dengan tubuhnya. Selanjutnya, ia berharap hasil tersebut dapat membantu memperbaiki tubuhnya ketika menua.

Baca Juga :  COLORFUL Kenalkan iGame M15 dan M16 Origo, Laptop Gaming Premium dengan Dukungan AI dan RTX 5070

“Dengan klon ini, saya bisa menjadi ‘blood boy’ saya sendiri, menguji terapi pada klon, menumbuhkan organ untuk transplantasi, mengembangkan pengobatan baru, dan menyuntikkan sel-sel muda,” paparnya. Meski begitu, Johnson masih menjalankan seluruh ambisi tersebut dalam tahap eksperimental. Para ilmuwan masih menghadapi tantangan kompleks untuk menghasilkan organ manusia utuh dari sel iPSC. Selain itu, mereka juga harus memastikan organ tersebut aman sebelum menjalani transplantasi.

Diagnosis Penyakit Autoimun Mendorong Eksperimen Baby Bryan

Eksperimen Baby Bryan muncul setelah Johnson mendapat diagnosis autoimmune gastritis atau AIG. Penyakit kronis tersebut membuat sistem kekebalan tubuh menyerang sel pada lapisan lambung. Akibatnya, kondisi itu dapat mengganggu produksi asam lambung dan penyerapan nutrisi. Gangguan tersebut terutama dapat memengaruhi penyerapan zat besi dan vitamin B12.

Dalam jangka panjang, pasien perlu menjalani pemantauan karena AIG dapat meningkatkan risiko komplikasi tertentu. Hingga kini, belum ada pengobatan yang benar-benar dapat menyembuhkan AIG. Penanganan umumnya berfokus pada pemenuhan nutrisi dan pengendalian gejala. Selain itu, pasien juga perlu memantau kondisi lambung secara berkala.

Alih-alih menganggap diagnosis tersebut sebagai kabar buruk, Johnson justru menyebutnya sebagai salah satu hal terbaik. Menurutnya, kondisi tersebut mendorong dirinya mencari pendekatan baru. Ia ingin memahami tubuhnya sekaligus mencari cara untuk memperbaikinya. Karena itu, Johnson kemudian menjalankan eksperimen yang mengarah pada Baby Bryan.

Teknologi iPSC Meraih Hadiah Nobel

Teknologi iPSC yang Johnson gunakan sebenarnya bukan penemuan baru. Ilmuwan Jepang Shinya Yamanaka memelopori penelitian tersebut melalui kajian tentang sel punca. Ia berhasil menunjukkan bahwa ilmuwan dapat memprogram ulang sel dewasa menjadi sel pluripoten. Temuan itu kemudian mengantarkan Yamanaka meraih Nobel Fisiologi atau Kedokteran pada 2012.

Kini, para peneliti terus mempelajari teknologi iPSC untuk berbagai kebutuhan medis. Mereka menggunakannya untuk mempelajari penyakit dan menguji kandidat obat. Selain itu, peneliti juga mengembangkan teknologi tersebut untuk terapi regeneratif. Johnson melihat peluang besar dari kombinasi sel punca, kecerdasan buatan, dan penelitian DNA.

Johnson percaya kombinasi tersebut dapat membuka jalan untuk mengatasi penyakit yang saat ini belum dapat disembuhkan. Namun, eksperimen seperti Baby Bryan juga memunculkan pertanyaan mengenai keamanan dan batas etika. Sel yang telah melalui proses pemrograman ulang membutuhkan pengujian yang sangat ketat. Sebab, sel tersebut berisiko mengalami pertumbuhan tidak terkendali atau membentuk tumor.

Baca Juga :  One UI 9 Segera Meluncur, Cek Daftar HP Samsung yang Berpeluang Kebagian Android 17

Bryan Johnson Mulai Mempertanyakan Eksperimennya

Beberapa hari setelah memperkenalkan Baby Bryan, Johnson justru mulai mempertanyakan langkahnya sendiri. Ia mengaku memikirkan kembali perjalanan ekstremnya dalam mengejar umur panjang. “Saya sudah berpikir-pikir, apakah saya sudah terlalu jauh dengan urusan longevity ini,” tulisnya di X pada 29 Juli. Pernyataan itu kembali memunculkan beragam tanggapan dari pengguna media sosial.

Sebagian pengguna menyarankan Johnson menetapkan target yang lebih realistis. Mereka, misalnya, menyarankan target hidup sehat hingga usia 115 atau 120 tahun. Sebaliknya, pengguna lain meminta Johnson tetap melanjutkan eksperimen tersebut. Perbedaan tanggapan itu menunjukkan beragam pandangan terhadap ambisinya memperpanjang usia.

Johnson memang terkenal menjalani rutinitas ketat untuk memperlambat penuaan. Ia bangun sekitar pukul 05.00 dan berolahraga setiap hari. Selain itu, ia menjalani sauna serta terapi cahaya merah dalam rutinitasnya. Ia juga menerapkan perawatan kulit secara terperinci.

Selanjutnya, Johnson mengonsumsi berbagai suplemen dan obat resep. Ia juga memantau banyak indikator kesehatan dalam rutinitas hariannya. Selain itu, ia membatasi waktu makan sebelum siang. Rutinitas tersebut menjadi bagian dari upayanya memperlambat proses penuaan.

Salah satu eksperimennya yang paling kontroversial melibatkan transfusi plasma darah dari putranya. Saat itu, putranya masih berusia remaja. Namun, Johnson kemudian menghentikan eksperimen tersebut setelah tidak menemukan manfaat yang dapat diukur. Keputusan itu menjadi salah satu bagian kontroversial dari perjalanan Johnson mengejar umur panjang.

Kini, Baby Bryan menjadi babak terbaru dalam ambisinya menaklukkan penuaan. Belum ada kepastian apakah kumpulan sel tersebut akan menghasilkan terobosan medis. Sebaliknya, eksperimen itu juga berpotensi menjadi eksperimen kontroversial berikutnya. Namun, Johnson tampaknya belum berniat menghentikan ambisinya membuat tubuh manusia bertahan selama mungkin.(iD/*)

Berita Terkait

Apakah Jaringan 5G Bikin Kuota Cepat Habis dan Baterai Boros? Ini Faktanya
Casio A1000SP-7 Meluncur, Jam Digital Retro dengan Bodi Full-Metal
Winamp Player Comeback 2027, Siapkan Aplikasi Musik Baru dengan Deezer
Daftar Negara dengan Internet Tercepat dan Terlambat di Dunia 2026
Tecno Pamerkan HP Tanpa Bezel di IFA 2026, Layarnya Benar-Benar Full
Samsung Galaxy S26 FE Segera Meluncur, Cek Bocoran Harga dan Spesifikasinya
Dosen Sisipkan Kata Rahasia Saat Ujian, 32 Mahasiswa Ketahuan Pakai AI
Xiaomi 18 Pro dan 18 Pro Max Segera Rilis Global, Akankah Masuk Indonesia?
Berita ini 7 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Kamis, 6 Agustus 2026 - 17:00 WIB

Apakah Jaringan 5G Bikin Kuota Cepat Habis dan Baterai Boros? Ini Faktanya

Kamis, 6 Agustus 2026 - 13:00 WIB

Casio A1000SP-7 Meluncur, Jam Digital Retro dengan Bodi Full-Metal

Rabu, 5 Agustus 2026 - 21:00 WIB

Winamp Player Comeback 2027, Siapkan Aplikasi Musik Baru dengan Deezer

Rabu, 5 Agustus 2026 - 19:00 WIB

Terobsesi Hidup Abadi, Bryan Johnson ‘Kloning’ Diri Lewat Eksperimen Baby Bryan

Selasa, 4 Agustus 2026 - 17:00 WIB

Daftar Negara dengan Internet Tercepat dan Terlambat di Dunia 2026

Berita Terbaru