Menkeu Prediksi Harga Pertamax Akan Turun, Inflasi Bakal Mereda dalam Beberapa Bulan

Penurunan Harga Minyak Dunia Dinilai Mampu Mengurangi Tekanan Inflasi

- Jurnalis

Kamis, 2 Juli 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Menkeu Prediksi Harga Pertamax Akan Turun, Inflasi Bakal Mereda dalam Beberapa Bulan. (Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/investor)

Menkeu Prediksi Harga Pertamax Akan Turun, Inflasi Bakal Mereda dalam Beberapa Bulan. (Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/investor)

Intiperistiwa.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis harga Pertamax akan mengikuti penurunan harga minyak dunia. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi mengurangi tekanan inflasi dalam beberapa bulan mendatang. Karena itu, masyarakat berpeluang menikmati harga bahan bakar yang lebih rendah.

Harga minyak dunia sebelumnya sempat menembus lebih dari US$100 per barel. Lonjakan itu terjadi setelah konflik melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu kekhawatiran pasar. Namun, harga minyak kini mulai bergerak turun sehingga membuka peluang penyesuaian harga bahan bakar nonsubsidi.

Saat ini, minyak mentah Brent diperdagangkan di kisaran US$72,08 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada pada level sekitar US$68,89 per barel. Penurunan tersebut menjadi sinyal positif bagi pergerakan harga energi di dalam negeri.

Menkeu Yakin Harga Pertamax Akan Menyesuaikan

Purbaya menyampaikan keyakinannya bahwa harga Pertamax akan turun secara bertahap. Menurutnya, penyesuaian itu akan mengikuti pergerakan harga minyak dunia. Dengan demikian, tekanan terhadap inflasi diperkirakan ikut berkurang.

“Harga minyak dunia sudah turun perlahan. Saya yakin harga Pertamax juga akan turun secara bertahap mengikuti harga minyak dunia. Karena itu, tekanan inflasi akan segera berkurang,” ujar Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Rabu (1/7/2026).

Baca Juga :  Harga Emas Antam Hari Ini Kembali Naik, Buyback Ikut Melonjak, Simak Daftar Lengkapnya

Ia menjelaskan bahwa kenaikan inflasi belakangan lebih banyak dipengaruhi faktor sementara. Kenaikan harga pangan dan energi menjadi penyebab utama. Selain itu, ia memperkirakan tekanan tersebut akan mereda ketika harga komoditas kembali stabil.

Inflasi Inti Masih Tetap Terkendali

Purbaya menilai kondisi inflasi inti masih berada dalam batas yang aman. Inflasi inti tercatat sebesar 2,76 persen. Angka tersebut menunjukkan permintaan masyarakat belum mengalami lonjakan yang berlebihan.

Menurutnya, kenaikan inflasi saat ini lebih dipicu fluktuasi harga pangan, minyak, dan bahan bakar. Oleh karena itu, tekanan tersebut diperkirakan hanya bersifat sementara. Ia meyakini kondisi itu akan membaik dalam beberapa bulan mendatang.

“Inflasi inti masih berada di level 2,76 persen. Jadi, kenaikan inflasi bukan berasal dari permintaan yang terlalu tinggi. Harga pangan, minyak, dan BBM yang berfluktuasi menjadi penyebab utamanya,” jelas Purbaya.

Baca Juga :  Harga Emas Antam Hari Ini 27 Juni 2026 Stabil, Cek Daftar Lengkapnya

BPS Catat Inflasi Juni 2026 Mencapai 0,44 Persen

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi sebesar 0,44 persen secara bulanan pada Juni 2026. Selain itu, inflasi tahunan mencapai 3,34 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender tercatat sebesar 1,79 persen.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan kenaikan inflasi terlihat dari peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK). Nilai IHK naik dari 111,40 pada Mei menjadi 111,89 pada Juni 2026. Data tersebut mencerminkan kenaikan harga sejumlah kelompok barang dan jasa.

“Pada Juni 2026 terjadi inflasi sebesar 0,44 persen secara bulanan. Indeks Harga Konsumen meningkat dari 111,40 menjadi 111,89. Secara tahunan inflasi mencapai 3,34 persen, sedangkan inflasi tahun kalender sebesar 1,79 persen,” kata Ateng dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Pemerintah kini terus memantau perkembangan harga energi dan pangan. Selain itu, penurunan harga minyak dunia diharapkan membantu menjaga stabilitas inflasi. Jika tren tersebut berlanjut, daya beli masyarakat berpeluang ikut menguat pada paruh kedua 2026. (iD/*)

Berita Terkait

Gen Z Sulit Dapat Kerja, Pekerjaan Dianggap Kuno Ini Ternyata Menjanjikan di Masa Depan
Daftar 10 Negara Paling Makmur di Asia 2026, Indonesia Peringkat Berapa?
Siap-Siap Pertalite Bakal Dibatasi, Cek Kelompok yang Terancam Kehilangan Subsidi
Dolar AS Melemah Pagi Ini, Rupiah Menguat 0,49 Persen
Harga Sawit Sumut Turun Tipis, TBS Usia Produktif Kini Rp3.962,27 per Kg
Harga Sawit Jambi Naik Lagi, TBS Tembus Rp3.941 per Kg Jelang Awal Agustus 2026
Harga Emas Antam Hari Ini 23 Juli 2026 Naik Tajam, Buyback Pegadaian Ikut Melonjak
Promo Indomaret Hari Ini 18 Juli 2026, Minyak Goreng hingga Produk Segar Diskon Besar
Berita ini 12 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 09:00 WIB

Gen Z Sulit Dapat Kerja, Pekerjaan Dianggap Kuno Ini Ternyata Menjanjikan di Masa Depan

Jumat, 14 Agustus 2026 - 11:00 WIB

Daftar 10 Negara Paling Makmur di Asia 2026, Indonesia Peringkat Berapa?

Kamis, 13 Agustus 2026 - 19:00 WIB

Siap-Siap Pertalite Bakal Dibatasi, Cek Kelompok yang Terancam Kehilangan Subsidi

Senin, 10 Agustus 2026 - 11:00 WIB

Dolar AS Melemah Pagi Ini, Rupiah Menguat 0,49 Persen

Jumat, 31 Juli 2026 - 13:00 WIB

Harga Sawit Sumut Turun Tipis, TBS Usia Produktif Kini Rp3.962,27 per Kg

Berita Terbaru

Air Dispenser Panas Semua? Kenali Penyebab dan Cara Memperbaikinya. (Gambar: Ilustrasi AI)

Tips & Trik

Air Dispenser Panas Semua? Kenali Penyebab dan Cara Memperbaikinya

Minggu, 6 Sep 2026 - 15:00 WIB