UGM Kembangkan Riset AI untuk Skrining Kanker Serviks, Sampel Urine Jadi Salah Satu Gagasan

Riset AI UGM berangkat dari persoalan masyarakat, termasuk mencari metode skrining kanker serviks yang lebih mudah.

- Jurnalis

Minggu, 16 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

UGM Kembangkan Riset AI untuk Skrining Kanker Serviks, Sampel Urine Jadi Salah Satu Gagasan. (Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan)

UGM Kembangkan Riset AI untuk Skrining Kanker Serviks, Sampel Urine Jadi Salah Satu Gagasan. (Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan)

Intiperistiwa.com – Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan riset kecerdasan buatan atau AI berdasarkan persoalan nyata masyarakat. Salah satu fokusnya menyangkut pencarian metode skrining kanker serviks yang lebih mudah diakses. Karena itu, peneliti tidak hanya melihat perkembangan teknologi sebagai dasar menentukan arah riset.

Rektor UGM Prof. Ova Emilia menyampaikan hal tersebut saat peluncuran UGM Indosat NVIDIA AI Technology Center (NVAITC). Kegiatan itu berlangsung di UGM, Sleman, pada Kamis (13/8/2026). Menurut Ova, kebutuhan masyarakat justru menjadi salah satu dasar dalam menentukan pengembangan produk dan riset AI.

“Kalau produk apa, saya kira tergantung dari tantangannya dan isu atau masalah,” kata Ova.

Selain itu, Ova menyoroti rendahnya cakupan pemeriksaan kanker serviks di Indonesia. Menurut dia, rasa malu menjadi salah satu faktor yang membuat masyarakat enggan menjalani pemeriksaan. Kondisi tersebut kemudian mendorong munculnya gagasan untuk mencari metode pemeriksaan yang lebih mudah.

“Coverage di Indonesia itu hanya kurang dari 3 persen orang yang cek, artinya karena malu,” ujarnya.

Sampel Urine Jadi Salah Satu Gagasan

Berangkat dari persoalan tersebut, Ova menyebut peneliti mencari cara agar masyarakat tidak merasa malu saat menjalani pemeriksaan. Karena itu, muncul gagasan untuk menggunakan jenis sampel lain dalam proses skrining kanker serviks. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membuat proses pemeriksaan lebih mudah bagi masyarakat.

“Artinya kan kita harus mencari di mana caranya supaya orang enggak perlu dalam posisi malu pada saat melakukan ini. Terus akhirnya terpikirkan, ‘Oh, berarti kita ambil sampel yang lain’,” jelasnya.

Salah satu gagasan yang muncul ialah penggunaan sampel urine untuk pemeriksaan. Ova kemudian menganalogikan metode tersebut dengan pengambilan urine saat seseorang menjalani tes kehamilan. Dengan pendekatan itu, peneliti mencoba mencari alternatif pemeriksaan yang lebih mudah dilakukan.

“Sampel menggunakan sampel kencing seperti orang kalau cek hamil, misalnya kayak gitu. Artinya itu kan suatu terobosan,” jelasnya.

Menurut Ova, gagasan tersebut menunjukkan hubungan antara persoalan masyarakat dan arah penelitian. Para praktisi serta peneliti kemudian mencari pendekatan teknologi untuk menjawab persoalan tersebut. Dengan demikian, kebutuhan nyata dapat menjadi pemicu lahirnya ide penelitian baru.

“Ide-ide seperti itu muncul dari para praktisi, para periset, ‘Kenapa kok ada kayak gini?’” ujarnya.

UGM Dorong Peneliti Cari Solusi

Ova menegaskan bahwa manajemen UGM tidak menentukan seluruh arah riset AI secara sepihak. UGM menyediakan payung penelitian sebagai landasan pengembangan riset ke depan. Sementara itu, peneliti dan mahasiswa mendapat dorongan untuk mencari solusi berdasarkan persoalan yang mereka hadapi.

“Kita mempunyai semacam payung-payung penelitian apa yang perlu kita lakukan ke depan. Dan itu kita akan mendukung kebijakan dari pemerintah, kebutuhan apa yang dilakukan, itu yang menjadi prioritas kita,” tuturnya.

Selain itu, UGM mendorong peneliti dan mahasiswa agar menyesuaikan penelitian dengan kebutuhan masyarakat. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengembangkan riset berdasarkan masalah yang nyata. Karena itu, pengembangan AI di UGM tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga kebutuhan yang muncul di masyarakat.

“Kita mendorong peneliti, researcher, mahasiswa supaya melakukan penelitian sesuai dengan apa yang kita hadapi, masalah yang dihadapi,” imbuhnya.

Pengembangan riset tersebut menunjukkan upaya UGM mengarahkan AI untuk menjawab persoalan masyarakat. Selanjutnya, gagasan seperti penggunaan sampel urine menjadi salah satu pendekatan yang muncul dalam pencarian metode skrining kanker serviks. UGM pun terus mendorong peneliti dan mahasiswa mengembangkan riset sesuai kebutuhan yang mereka hadapi. (iD/*)

Baca Juga :  Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, Hampir 200 Juta Warga Terancam Suhu 35 Derajat Celsius

Berita Terkait

Waspada! Malware Hirudo Mengincar Aplikasi M-Banking, Bisa Curi PIN dan Kuras Saldo Rekening
Lupa Alamat Gmail? Ini 3 Cara Melihat Email Sendiri di HP
Badan Intelijen Bagikan Tips agar HP Tak Dibajak, Rekening Tak Dikuras
151 Hadiah Kendaraan Menanti! Telkomsel Gelar Undian Bagi-Bagi Bahagia, Ini Cara Ikutnya
Komdigi Soroti Kuota Internet Hangus, Ini Skema Perlindungan dari Telkomsel, Indosat, dan XLSMART
Penemu Roket Berbahan Bakar Cair Pertama dan Sejarah Lahirnya Roket Modern
Chat Tak Lagi Harus Instan, Aplikasi Pesan Lambat dengan Merpati Digital Mulai Dilirik Gen Z
Cara Nonton Video di Yandex Tanpa VPN, Ini Panduan dan Tips Amannya
Berita ini 16 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 22:00 WIB

Waspada! Malware Hirudo Mengincar Aplikasi M-Banking, Bisa Curi PIN dan Kuras Saldo Rekening

Selasa, 20 Oktober 2026 - 16:00 WIB

Lupa Alamat Gmail? Ini 3 Cara Melihat Email Sendiri di HP

Minggu, 18 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Badan Intelijen Bagikan Tips agar HP Tak Dibajak, Rekening Tak Dikuras

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 21:00 WIB

151 Hadiah Kendaraan Menanti! Telkomsel Gelar Undian Bagi-Bagi Bahagia, Ini Cara Ikutnya

Kamis, 15 Oktober 2026 - 22:00 WIB

Komdigi Soroti Kuota Internet Hangus, Ini Skema Perlindungan dari Telkomsel, Indosat, dan XLSMART

Berita Terbaru