Heboh! Fisikawan Klaim Temukan ‘Lokasi Tuhan’ di Alam Semesta

Michael Guillén memakai istilah “lokasi Tuhan” sebagai metafora untuk menjelaskan batas alam semesta teramati.

- Jurnalis

Rabu, 12 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Heboh! Fisikawan Klaim Temukan ‘Lokasi Tuhan’ di Alam Semesta. (Foto:  Instagram-voxarea)

Heboh! Fisikawan Klaim Temukan ‘Lokasi Tuhan’ di Alam Semesta. (Foto: Instagram-voxarea)

Intiperistiwa.com – Pernyataan unik seorang fisikawan memicu perhatian setelah membahas “lokasi Tuhan” di alam semesta. Fisikawan sekaligus penulis sains Dr. Michael Guillén menyebut lokasinya berada di tepi alam semesta teramati. Ia mengaitkan istilah tersebut dengan batas wilayah yang dapat manusia amati dari Bumi. Namun, Guillén tidak bermaksud menyampaikan pernyataan teologis melalui penjelasan tersebut.

Guillén kemudian menjelaskan perkiraan jarak lokasi itu dari Bumi. Menurutnya, jaraknya mencapai sekitar 439 miliar triliun kilometer. Angka tersebut setara dengan kira-kira 46 miliar tahun cahaya. “Jika ingin membayangkan di mana Tuhan berada, itu ada di tepi alam semesta yang dapat kita amati,” ujarnya.

Pernyataan tersebut ia sampaikan untuk menggambarkan konsep kosmologi yang sangat abstrak. Karena itu, pembaca tidak perlu memaknainya sebagai penemuan Tuhan secara harfiah. Guillén justru mengarahkan pembahasan pada keterbatasan pengamatan manusia. IFL Science mengutip pernyataannya pada Selasa (11/8/2026).

Bukan Pernyataan Teologis

Guillén menegaskan bahwa istilah “lokasi Tuhan” hanya berfungsi sebagai metafora. Ia memakai istilah tersebut untuk memudahkan pemahaman mengenai batas alam semesta teramati. “Ini bukan klaim teologis, melainkan cara menggambarkan batas dari apa yang bisa kita amati,” ujarnya. Dengan demikian, pembahasannya berfokus pada kosmologi dan kemampuan manusia mengamati ruang angkasa.

Baca Juga :  Menteri PU Optimis, 93 Sekolah Rakyat Bakalan Selesai Akhir Juni ini

Dalam konteks tersebut, “lokasi Tuhan” merujuk pada garis batas pengetahuan manusia tentang alam semesta. Batas alam semesta teramati muncul karena cahaya bergerak dengan kecepatan terbatas. Manusia hanya dapat menerima informasi dari cahaya yang sudah mencapai Bumi. Oleh sebab itu, kemampuan pengamatan manusia tidak mencakup seluruh wilayah alam semesta.

Mengapa Alam Semesta Memiliki Batas Pengamatan?

Big Bang terjadi sekitar 13,8 miliar tahun lalu dan mengawali perkembangan alam semesta. Sejak itu, cahaya dari berbagai wilayah terus bergerak melintasi ruang angkasa. Namun, hanya cahaya dari wilayah tertentu yang sudah mencapai Bumi. Akibatnya, manusia hanya dapat mengamati bagian alam semesta yang informasinya sudah tiba.

Di sisi lain, alam semesta terus mengembang sejak masa awal tersebut. Perluasan ruang membuat objek yang terlihat manusia kini berada jauh lebih jauh. Jaraknya bahkan melampaui perhitungan sederhana berdasarkan perjalanan cahaya. “Karena ruang terus mengembang, apa yang kita lihat sekarang jauh melampaui jarak sederhana yang kita bayangkan,” ujarnya.

Baca Juga :  Update Harga Emas Hari Ini, Minggu 07 Juni 2026

Perluasan alam semesta turut menjelaskan angka sekitar 46 miliar tahun cahaya tersebut. Angka itu menggambarkan jarak dalam konteks alam semesta teramati. Jadi, angka tersebut tidak sekadar menunjukkan usia cahaya yang mencapai Bumi. Kosmologi juga memperhitungkan perubahan jarak akibat pemuaian ruang.

Masih Ada Wilayah di Luar Batas Pengamatan

Di luar batas alam semesta teramati, ilmuwan meyakini masih terdapat galaksi dan struktur kosmik lainnya. Akan tetapi, teknologi manusia saat ini belum dapat mengamati wilayah tersebut. Cahaya dari objek-objek itu belum pernah mencapai Bumi. Karena itu, manusia belum memperoleh informasi langsung mengenai kondisi di luar batas tersebut.

Konsep alam semesta teramati menjadi bagian penting dalam kosmologi modern. Konsep tersebut sekaligus memperlihatkan keterbatasan manusia dalam memahami alam semesta secara menyeluruh. Pada akhirnya, Guillén tidak mengklaim menemukan Tuhan secara harfiah. Ia menggunakan metafora tersebut untuk menggambarkan sejauh mana manusia mampu melihat dan memahami alam semesta. (iD/*)

Berita Terkait

IGIC 2026 di Masjid Istiqlal Perkuat Solidaritas Palestina dan Perdamaian Dunia
Di Indonesia Ikan Nila Banyak Dicari, tapi Spesies Ini Jadi Ancaman di Negara Tetangga, Ada Apa?
Gurun Mesir Ternyata Pernah Jadi Laut, Fosil Hiu Purba Ungkap Kehidupan Jutaan Tahun Lalu
Kylian Mbappe Masuk Daftar 26 Target Jaringan Kriminal di Prancis, Diduga Jadi Sasaran Penculikan
Pulau Misterius di Danau Williston Sempat Hilang, Muncul Lagi 32 Kilometer dari Lokasi Awal
Banjir Bandang Dahsyat di Nepal Terjadi Tanpa Hujan Deras, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Karhutla Dunia Hanguskan 112,3 Juta Hektare Lahan, Negara Mana yang Paling Terdampak?
Ethel Caterham Genap 117 Tahun, Orang Tertua di Dunia yang Masih Hidup
Berita ini 29 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 07:00 WIB

IGIC 2026 di Masjid Istiqlal Perkuat Solidaritas Palestina dan Perdamaian Dunia

Sabtu, 19 September 2026 - 19:00 WIB

Di Indonesia Ikan Nila Banyak Dicari, tapi Spesies Ini Jadi Ancaman di Negara Tetangga, Ada Apa?

Minggu, 6 September 2026 - 11:00 WIB

Gurun Mesir Ternyata Pernah Jadi Laut, Fosil Hiu Purba Ungkap Kehidupan Jutaan Tahun Lalu

Jumat, 4 September 2026 - 21:00 WIB

Kylian Mbappe Masuk Daftar 26 Target Jaringan Kriminal di Prancis, Diduga Jadi Sasaran Penculikan

Kamis, 3 September 2026 - 23:00 WIB

Pulau Misterius di Danau Williston Sempat Hilang, Muncul Lagi 32 Kilometer dari Lokasi Awal

Berita Terbaru