Belajar dari Semut, Lebah, dan Kecoak, Begini Cara Mereka Mengambil Keputusan

Serangga berotak kecil ternyata mampu membuat keputusan kolektif secara efisien.

- Jurnalis

Senin, 17 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Belajar dari Semut, Lebah, dan Kecoak, Begini Cara Mereka Mengambil Keputusan. (Foto: AI)

Belajar dari Semut, Lebah, dan Kecoak, Begini Cara Mereka Mengambil Keputusan. (Foto: AI)

Intiperistiwa.com – Manusia sering menganggap kemampuan berpikirnya paling unggul dibandingkan makhluk lain. Namun, kemampuan tersebut tidak selalu menghasilkan keputusan terbaik. Dalam situasi tertentu, manusia justru bisa kesulitan menentukan pilihan yang tepat.

Menariknya, manusia dapat mempelajari cara mengambil keputusan dari berbagai jenis serangga. Contohnya terlihat pada semut, lebah madu, hingga kecoak. Meski memiliki otak sangat kecil, serangga mampu menyelesaikan masalah secara berkelompok.

Bahkan, perilaku tersebut menginspirasi berbagai metode yang manusia gunakan untuk menyelesaikan persoalan. Penerapannya mencakup transportasi, telekomunikasi, logistik, hingga perencanaan jaringan. Karena itu, cara serangga bekerja bersama menarik perhatian para peneliti.

1. Semut Menemukan Pilihan yang Paling Efisien

Menentukan pilihan terbaik tidak selalu mudah, terutama ketika tersedia terlalu banyak alternatif. Kondisi tersebut dikenal sebagai choice overload atau kelebihan pilihan. Menariknya, semut juga menghadapi persoalan serupa ketika koloninya mencari lokasi makanan.

Koloni semut membutuhkan cara efektif untuk menentukan tempat yang paling menguntungkan. Karena itu, beberapa semut meninggalkan sarang untuk mencari lokasi makanan. Mereka kemudian menjelajah secara acak agar seluruh pilihan tetap terbuka.

Selama perjalanan, semut meninggalkan jejak feromon di sepanjang jalur yang mereka lewati. Zat tersebut membantu semut lain menemukan rute yang sudah di jelajahi sebelumnya. Namun, feromon akan menguap sehingga kekuatannya terus berkurang.

Semut yang menemukan makanan melimpah dan lokasinya dekat akan kembali lebih cepat. Mereka kemudian membawa makanan sekaligus menyebarkan informasi kepada anggota koloninya. Akibatnya, semakin banyak semut mengikuti jalur yang mengarah ke sumber makanan tersebut.

Seiring waktu, semakin banyak semut melewati jalur yang sama. Mereka juga meninggalkan lebih banyak feromon di sepanjang rute tersebut. Akhirnya, jalur itu memiliki aroma feromon lebih kuat di bandingkan jalur lainnya.

Pada tahap berikutnya, koloni dapat memilih rute paling efisien tanpa kendali dari satu semut tertentu. Jalur lain perlahan kehilangan jejak feromon karena tidak banyak di gunakan. Dengan mekanisme sederhana itu, koloni akhirnya menemukan pilihan terbaik.

Dikutip dari BBC, koloni semut mampu menentukan rute paling efisien tanpa satu individu mengendalikan proses tersebut. Setiap semut hanya memiliki informasi lokal dan kemampuan terbatas. Namun, interaksi sederhana antarsemut mampu menghasilkan keputusan kolektif yang kompleks.

Baca Juga :  Gerhana Matahari Total Terlama Akan Terjadi 2 Agustus 2027 , Bisakah Dilihat dari Indonesia?

Marco Dorigo, co-director laboratorium kecerdasan buatan di Université Libre de Bruxelles, Belgia, menjelaskan mekanisme tersebut. Menurutnya, sistem itu menunjukkan keputusan kolektif dapat muncul tanpa kendali terpusat. Setiap individu cukup menjalankan peran sederhana dalam kelompok.

Konsep tersebut kemudian menginspirasi ant colony optimisation, sebuah metode algoritmik untuk memecahkan berbagai persoalan. Manusia menggunakannya dalam penjadwalan, telekomunikasi, transportasi, hingga logistik. Algoritma itu bahkan membantu perencanaan jaringan kereta api.

Dorigo juga mengembangkan AntNET untuk mengoptimalkan pergerakan informasi dalam jaringan komunikasi. Sistem tersebut mengambil inspirasi dari cara semut menemukan jalur paling efisien. Dengan demikian, perilaku serangga ikut mendorong perkembangan teknologi pemecahan masalah.

2. Lebah Madu Mengambil Keputusan Secara Demokratis

Lebah madu juga memiliki sistem pengambilan keputusan yang menarik ketika mencari lokasi sarang baru. Beberapa lebah pencari meninggalkan sarang untuk memeriksa sejumlah lokasi potensial. Mereka kemudian membawa informasi tersebut kembali kepada koloninya.

Berbeda dari semut, lebah tidak meninggalkan jejak feromon untuk menyampaikan informasi. Sebaliknya, mereka menggunakan gerakan tubuh yang di kenal sebagai waggle dance. Tarian tersebut membantu lebah lain memahami kualitas lokasi yang di temukan.

Melalui tarian itu, lebah menyampaikan berbagai informasi penting mengenai lokasi tersebut. Informasinya mencakup keamanan, jarak, ukuran, arah, hingga posisi tempat. Semakin baik lokasinya, semakin kuat dan lama tarian yang di lakukan.

Lebah pencari lain kemudian mengikuti informasi tersebut untuk melakukan pemeriksaan. Mereka bisa mengonfirmasi lokasi sebelumnya atau mencari alternatif lain. Setelah kembali, mereka kembali menyampaikan informasi melalui tarian.

Lambat laun, satu lokasi akan memperoleh dukungan dari semakin banyak lebah. Ketika jumlah pendukung mencapai kuorum, koloni menentukan pilihan bersama. Setelah itu, seluruh koloni bergerak menuju lokasi yang telah mereka pilih.

Mekanisme tersebut sekilas menyerupai pengambilan keputusan demokratis pada manusia. Berbagai pilihan terlebih dahulu di uji dan informasi di kumpulkan. Kemudian, koloni menentukan pilihan berdasarkan dukungan yang terkumpul.

3. Kecoak Menunjukkan Pentingnya Keberagaman

Keputusan kelompok juga dapat menghadapi tantangan ketika banyak individu memiliki karakter berbeda. Dalam kelompok manusia, individu dominan terkadang dapat mengarahkan diskusi. Kondisi tersebut bahkan bisa membuat suara anggota lain kurang terdengar.

Baca Juga :  Justin Bieber dan BTS Siap Ramaikan Halftime Show Final Piala Dunia 2026

Namun, penelitian terhadap kecoak menunjukkan hasil yang menarik. Perbedaan karakter individu justru dapat membantu kelompok mengambil keputusan lebih cepat. Sebagian kecoak lebih berani dan aktif menjelajah, sedangkan lainnya lebih hati-hati.

Isaac Planas-Sitjà, asisten profesor di Tokyo Metropolitan University, Jepang, meneliti perilaku tersebut. Ia menggunakan simulasi komputer untuk mempelajari cara kecoak menentukan tempat berlindung. Salah satu contoh simulasi menggunakan lokasi gelap sebagai tempat perlindungan.

Planas-Sitjà membuat beberapa model dengan tingkat keberagaman perilaku berbeda. Model pertama menggunakan kelompok dengan karakter individu yang sama. Model lainnya memiliki sedikit perbedaan hingga variasi karakter yang tinggi.

Hasil penelitian menunjukkan kelompok dengan perilaku seragam tidak menggambarkan kondisi nyata dengan baik. Sebaliknya, kelompok dengan karakter lebih beragam mengambil keputusan secara lebih cepat. Perbedaan perilaku memicu lebih banyak interaksi sosial dalam kelompok.

“Saya sangat terkejut. Saya memperkirakan akan melihat beberapa tren, tetapi bukan pola yang begitu jelas dan berulang,” kata Planas-Sitjà di kutip dari BBC.

Menurut Planas-Sitjà, kelompok yang seluruh anggotanya terlalu berani menghadapi masalah berbeda. Mereka terus bergerak sehingga sulit menentukan tempat berlindung. Sebaliknya, kelompok yang terlalu pemalu bisa cepat menetap di lokasi tertentu.

Namun, kelompok yang terlalu berhati-hati juga menghadapi risiko lain. Mereka dapat memilih tempat berlindung yang kurang baik karena terlalu cepat berhenti menjelajah. Karena itu, keseimbangan karakter menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan.

Pelajaran dari Kecerdasan Kolektif Serangga

Ketiga contoh tersebut menunjukkan bahwa kemampuan individu bukan satu-satunya faktor penting. Semut mengandalkan interaksi sederhana untuk menemukan rute paling efisien. Lebah mengumpulkan informasi sebelum menentukan lokasi bersama.

Sementara itu, kecoak menunjukkan manfaat keberagaman perilaku dalam kelompok. Variasi karakter dapat mendorong interaksi dan mempercepat keputusan. Dengan begitu, kerja sama tidak selalu berarti semua anggota harus memiliki perilaku sama.

Pada akhirnya, kecerdasan kolektif muncul dari interaksi berbagai individu. Setiap anggota mungkin memiliki informasi dan kemampuan terbatas. Namun, kelompok dapat menghasilkan solusi lebih baik melalui mekanisme yang sederhana.

Karena itu, perilaku semut, lebah, dan kecoak terus menarik perhatian dunia sains dan teknologi. Berbagai mekanisme tersebut bahkan telah menginspirasi algoritma untuk menyelesaikan persoalan manusia. (iD/*)

Berita Terkait

Tabung LPG Mudah Meledak? Kenali Penyebab dan Cara Mencegah Kebocoran LPG
Cara Cek Nilai Tanah Online lewat BHUMI ATR/BPN, Ini Langkahnya
Cara Menghemat Listrik di Rumah, 7 Kebiasaan Sederhana yang Bisa Dicoba
Cara Mendapatkan Kartu Nikah Digital Lewat Simkah, Ini Syarat dan Langkahnya
Mau Beli iPhone? Cek Garansinya dengan 4 Cara Mudah Ini
KPR Rumah Lunas? Jangan Lupa Urus Roya, Ini Syarat dan Biayanya
Jangan Asal Simpan! 5 Buah Ini Rusak Jika Dibekukan
Panduan Pindah BPJS Mandiri ke BPJS PBI Agar Iuran Gratis
Berita ini 23 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Tabung LPG Mudah Meledak? Kenali Penyebab dan Cara Mencegah Kebocoran LPG

Selasa, 20 Oktober 2026 - 19:00 WIB

Cara Cek Nilai Tanah Online lewat BHUMI ATR/BPN, Ini Langkahnya

Minggu, 18 Oktober 2026 - 13:00 WIB

Cara Menghemat Listrik di Rumah, 7 Kebiasaan Sederhana yang Bisa Dicoba

Selasa, 13 Oktober 2026 - 19:00 WIB

Cara Mendapatkan Kartu Nikah Digital Lewat Simkah, Ini Syarat dan Langkahnya

Minggu, 11 Oktober 2026 - 19:00 WIB

Mau Beli iPhone? Cek Garansinya dengan 4 Cara Mudah Ini

Berita Terbaru