Intiperistiwa.com – Pada suatu malam, Khalifah Umar bin Khattab berkeliling Kota Madinah bersama Abdullah bin Zubair. Seperti biasa, Umar ingin mengetahui kondisi rakyat secara langsung.
Setelah beberapa jam berjalan, Umar merasa lelah. Ia kemudian beristirahat di dekat dinding sebuah rumah. Suasana malam saat itu sangat gelap dan sepi.
Di tengah keheningan, Umar dan Abdullah mendengar percakapan dari dalam rumah. Suara tersebut berasal dari seorang ibu dan putrinya.
Perintah Mencampur Susu dengan Air
Sang ibu meminta putrinya mencampurkan air ke dalam susu dagangan mereka. Ia berharap jumlah susu bertambah dan keuntungan meningkat.
“Campurkan air ke dalam susu yang akan kita jual. Dengan begitu, kita mendapat keuntungan lebih besar,” kata sang ibu.
Namun, putrinya langsung menolak usulan tersebut. Ia mengingat larangan yang pernah disampaikan Umar kepada masyarakat.
“Wahai Ibu, Amirul Mukminin telah melarang penjual mencampur susu dengan air,” jawab sang gadis.
Takut kepada Allah SWT
Mendengar penolakan itu, sang ibu merasa kesal. Ia lalu meyakinkan putrinya bahwa Umar tidak akan mengetahui perbuatan mereka.
“Amirul Mukminin tidak berada di sini. Ia tidak akan tahu apa yang kita lakukan,” ujarnya.
Meski demikian, sang gadis tetap mempertahankan pendiriannya. Ia menolak melakukan tindakan yang merugikan pembeli.
“Wahai Ibu, bukankah perbuatan itu tidak boleh kita lakukan karena merugikan orang lain?” katanya dengan lembut.
Ia kemudian menambahkan alasan yang lebih mendasar.
“Aku takut kepada Allah SWT. Meski khalifah tidak melihat kita, Allah SWT selalu mengetahui setiap perbuatan manusia.”
Ucapan tersebut membuat sang ibu mengurungkan niatnya. Akhirnya, mereka tidak mencampurkan air ke dalam susu yang akan dijual.
Umar Bin Khattab Kagum pada Akhlaknya
Umar menyimak seluruh percakapan itu dengan penuh perhatian. Ia melihat kejujuran dan ketakwaan yang luar biasa pada diri gadis tersebut.
Sebelum meninggalkan lokasi, Umar meminta Abdullah bin Zubair menandai rumah itu. Ia ingin mengetahui identitas keluarga tersebut.
Setibanya di rumah, Umar mengumpulkan putra-putranya. Ia kemudian mengajukan sebuah pertanyaan.
“Apakah ada di antara kalian yang ingin menikah?”
Saat itu, Ashim bin Umar menyatakan kesediaannya untuk menikah.
Menjadi Menantu Keluarga Umar
Keesokan harinya, Umar meminta Ashim mendatangi rumah gadis tersebut. Ia juga meminta putranya melamar gadis yang terkenal jujur itu.
Umar berharap Allah SWT memberikan keturunan yang baik dari pernikahan tersebut.
Ashim kemudian menikahi gadis penjual susu itu. Rumah tangga mereka berjalan dengan baik dan penuh keberkahan.
Dari pernikahan itu lahir anak-anak yang memiliki akhlak mulia. Salah satu putri mereka bernama Laila binti Ashim.
Lahirnya Seorang Pemimpin Besar
Ketika dewasa, Laila menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan. Dari pernikahan tersebut lahirlah seorang anak yang kelak dikenal luas dalam sejarah Islam.
Anak itu bernama Umar bin Abdul Aziz. Banyak ulama mengenangnya sebagai pemimpin yang adil, sederhana, dan dekat dengan rakyat.
Karena kebijaksanaan serta ketakwaannya, banyak kalangan menyebut Umar bin Abdul Aziz sebagai mujaddid atau pembaru abad pertama Hijriah.
Hikmah dari Kisah Gadis Penjual Susu
Kisah ini menunjukkan bahwa kejujuran selalu membawa kebaikan. Selain itu, ketakwaan mampu menjaga seseorang dari perbuatan yang merugikan orang lain.
Di sisi lain, Islam mengajarkan pentingnya berbakti kepada orang tua. Namun, seorang anak tetap berhak menolak perintah yang bertentangan dengan ajaran Allah SWT. Meski begitu, penolakan tersebut harus dilakukan dengan sopan, santun, dan penuh penghormatan. (id/*)










Komentar