Afrika Bangun Tembok Hijau Sepanjang 8.000 Km, Proyek Raksasa Ini Bukan Terbuat dari Batu

Great Green Wall menjadi proyek restorasi lingkungan terbesar untuk menahan perluasan Gurun Sahara dan memperkuat ketahanan pangan.

- Jurnalis

Minggu, 5 Juli 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Afrika Bangun Tembok Hijau Sepanjang 8.000 Km, Proyek Raksasa Ini Bukan Terbuat dari Batu. (Foto: Fb@Purworejoku)

Afrika Bangun Tembok Hijau Sepanjang 8.000 Km, Proyek Raksasa Ini Bukan Terbuat dari Batu. (Foto: Fb@Purworejoku)

Intiperistiwa.com – Afrika menjalankan proyek lingkungan berskala raksasa melalui Great Green Wall atau Tembok Hijau Besar. Proyek ini memanfaatkan jutaan pohon, bukan batu bata. Selain itu, jalurnya membentang sekitar 8.000 kilometer melintasi benua tersebut. Inisiatif ini menghubungkan Senegal di pesisir Samudra Atlantik hingga Djibouti di tepi Laut Merah.

Great Green Wall tidak hanya mengandalkan penanaman pohon. Sebaliknya, negara-negara peserta memulihkan hutan, padang rumput, lahan pertanian, dan kawasan rawa. Sementara itu, mereka juga memperbaiki wilayah yang mengalami kerusakan akibat kekeringan, penggundulan hutan, serta perubahan iklim. Karena itu, proyek ini membawa manfaat yang jauh lebih luas daripada sekadar penghijauan.

Upaya Menahan Perluasan Gurun Sahara

African Union menggagas Great Green Wall pada 2007. Selanjutnya, berbagai negara Afrika bergabung untuk menjalankan program tersebut. Mereka ingin menahan perluasan Gurun Sahara yang terus mengancam kawasan Sahel. Wilayah semi-kering itu membentang tepat di bagian selatan gurun terbesar di dunia.

Selama puluhan tahun, kawasan Sahel menghadapi kekeringan berkepanjangan dan erosi tanah. Selain itu, hasil pertanian terus menurun akibat kondisi lingkungan yang memburuk. Akibatnya, jutaan penduduk kehilangan sumber penghasilan dan kesulitan memperoleh pangan. Oleh karena itu, negara-negara Afrika mencari solusi yang mampu memberi manfaat jangka panjang.

Baca Juga :  Ramadan Tanpa Malam di Kanada, Muslim Inuvik Berpuasa di Bawah Matahari 24 Jam

Restorasi Alam dan Ketahanan Pangan

Great Green Wall menggabungkan berbagai langkah restorasi dalam satu program. Tim pelaksana memperbaiki kualitas tanah, mengelola sumber air, serta menghidupkan kembali vegetasi asli. Di samping itu, mereka membantu masyarakat mengembangkan sistem pertanian yang lebih berkelanjutan. Dengan demikian, proyek ini memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Program tersebut juga menjadi salah satu proyek restorasi lingkungan terbesar di dunia. Hingga 2030, pelaksana menargetkan pemulihan 100 juta hektare lahan yang rusak. Selain itu, proyek ini menargetkan penyerapan sekitar 250 juta ton karbon dioksida dari atmosfer. Bahkan, Great Green Wall juga menargetkan penciptaan 10 juta lapangan kerja hijau di berbagai negara Afrika.

Pohon Memberikan Manfaat Jangka Panjang

Sejumlah negara mulai merasakan dampak positif dari program tersebut. Kawasan yang sebelumnya tandus kini kembali dipenuhi vegetasi. Sementara itu, lahan pertanian kembali menghasilkan panen yang lebih baik. Perubahan itu membantu masyarakat meningkatkan ketahanan pangan dan sumber pendapatan.

Baca Juga :  Pesawat Latih T-34 Taiwan Jatuh Saat Latihan, Dua Pilot Tewas

Pepohonan juga memberikan manfaat penting bagi lingkungan. Akar pohon menjaga tanah tetap kokoh sehingga mengurangi erosi. Selain itu, tajuk pohon menurunkan suhu permukaan dan menjaga kelembapan tanah. Bahkan, pepohonan menyediakan habitat bagi berbagai satwa liar yang hidup di kawasan tersebut.

Simbol Perlawanan terhadap Krisis Iklim

Great Green Wall kini menjadi simbol restorasi alam berskala besar. Program ini tidak hanya memulihkan lahan yang rusak. Namun, proyek tersebut juga memperkuat ketahanan pangan, menciptakan lapangan kerja, dan membantu masyarakat menghadapi perubahan iklim. Karena itu, banyak pihak menilai inisiatif ini sebagai salah satu proyek iklim paling ambisius di dunia.

Meski menghadapi tantangan pendanaan, keamanan, dan cuaca ekstrem, negara-negara peserta terus melanjutkan proyek tersebut. Selain itu, mereka tetap mengejar target yang telah ditetapkan hingga 2030. Jika seluruh target tercapai, Great Green Wall berpeluang mengubah wajah kawasan Sahel. Dengan demikian, proyek ini dapat menjadi contoh nyata solusi berbasis alam untuk menghadapi krisis iklim global. (iD/*)

Berita Terkait

Final Piala Dunia 2026 Berakhir Ricuh, Suporter Argentina Bentrok dengan Polisi
China Selangkah Lagi Wujudkan ‘Matahari Buatan’, Target Hasilkan Listrik Fusi pada 2030
Harga Minyak Dunia Melonjak, Ketegangan Iran-AS Kembali Picu Kekhawatiran Pasokan
Sangat Unik! Warga Pulau Ini Berkomunikasi dengan Cara Bersiul
Topan Besar Bavi Ancam Jepang hingga China, Penerbangan Dibatalkan, Warga Tingkatkan Kewaspadaan
Terbongkar! Eks Wamen Sembunyikan Uang Korupsi dalam Galon Air, Nilainya Capai Ratusan Miliar Rupiah
Iran Siapkan Aturan Baru, Kapal yang Melintas di Selat Hormuz Akan Dikenakan Biaya
China Uji Rudal Strategis dari Kapal Selam Nuklir di Pasifik, Australia Langsung Layangkan Kritik

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 20 Juli 2026 - 23:00 WIB

Final Piala Dunia 2026 Berakhir Ricuh, Suporter Argentina Bentrok dengan Polisi

Selasa, 14 Juli 2026 - 13:00 WIB

China Selangkah Lagi Wujudkan ‘Matahari Buatan’, Target Hasilkan Listrik Fusi pada 2030

Senin, 13 Juli 2026 - 21:00 WIB

Harga Minyak Dunia Melonjak, Ketegangan Iran-AS Kembali Picu Kekhawatiran Pasokan

Minggu, 12 Juli 2026 - 11:00 WIB

Sangat Unik! Warga Pulau Ini Berkomunikasi dengan Cara Bersiul

Sabtu, 11 Juli 2026 - 23:00 WIB

Topan Besar Bavi Ancam Jepang hingga China, Penerbangan Dibatalkan, Warga Tingkatkan Kewaspadaan

Berita Terbaru