Intiperistiwa.com – Selama bertahun-tahun, konsumen terbiasa melihat harga perangkat elektronik semakin murah. Pola tersebut berlaku hampir pada semua produk teknologi. Namun, kondisi itu kini berubah cukup drastis. Bahkan, sejumlah perangkat lama justru dijual dengan harga lebih tinggi.
Beberapa perusahaan teknologi mulai menaikkan harga produknya. Langkah tersebut terlihat pada Apple, Microsoft, Nintendo, hingga Valve. Kenaikan itu tidak hanya terjadi pada perangkat terbaru. Produk yang sudah beredar selama beberapa tahun juga mengalami penyesuaian harga.
Raksasa Teknologi Kompak Naikkan Harga
Perusahaan teknologi menyebut kenaikan biaya produksi sebagai alasan utama. Mereka mengaku harus menghadapi lonjakan harga berbagai komponen penting. Karena itu, harga jual perangkat ikut meningkat. Kondisi tersebut akhirnya memengaruhi pasar global.
Mengutip laporan BBC, lonjakan kebutuhan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menjadi faktor terbesar. Permintaan chip meningkat sangat cepat. Sementara itu, kapasitas produksi belum mampu mengimbanginya. Akibatnya, harga komponen terus bergerak naik.
Berikut perubahan harga sejumlah produk teknologi dalam beberapa waktu terakhir.
| Produk | Perubahan Harga | Keterangan |
|---|---|---|
| Microsoft Xbox Series S/X | Naik minimal USD100 atau sekitar Rp1,7 juta | Kenaikan ketiga dalam setahun, sekitar 30–40 persen lebih mahal dibanding tahun lalu. |
| Apple MacBook dan iPad | Naik hampir 20 persen | Berlaku pada lini laptop dan tablet. |
| Valve Steam Deck | Naik sekitar 40 persen | Steam Machine juga dibanderol lebih mahal dari perkiraan awal. |
| Nintendo Switch 2 | Naik di berbagai negara | Harga baru mulai berlaku pada September mendatang. |
Fenomena Ramageddon Picu Lonjakan Harga RAM
Lonjakan harga perangkat tidak terlepas dari meningkatnya kebutuhan pusat data AI. Infrastruktur tersebut membutuhkan chip dalam jumlah sangat besar. Karena itu, produsen chip lebih banyak memenuhi permintaan sektor AI. Dampaknya langsung terasa pada pasar elektronik.
Banyak pengamat menyebut situasi ini sebagai fenomena “Ramageddon”. Harga Random Access Memory atau RAM melonjak tajam dalam waktu singkat. Padahal, komponen tersebut sebelumnya mudah diperoleh dengan harga terjangkau. Kini, kondisinya berubah cukup signifikan.
Danni Hewson, Kepala Analisis Keuangan AJ Bell, menjelaskan bahwa persaingan membangun pusat data AI mendorong permintaan chip secara besar-besaran. Situasi tersebut memberi ruang bagi produsen seperti TSMC untuk menaikkan harga. Banyak perusahaan teknologi kemudian berebut kapasitas produksi. Akibatnya, biaya komponen semakin tinggi.
Data Counterpoint Research menunjukkan kenaikan harga RAM DDR5 terus berlanjut.
- Kuartal III 2025: 32GB DDR5 seharga USD94.
- Kuartal IV 2025: naik menjadi USD127.
- Kuartal I 2026: melonjak menjadi USD282 atau sekitar 122 persen.
Selain RAM, harga chip DRAM dan NAND Flash juga terus meningkat. Tren tersebut masih berlangsung hingga sekarang. Karena itu, produsen perangkat menghadapi biaya produksi yang lebih besar. Pada akhirnya, konsumen ikut menanggung kenaikan harga.
Geopolitik Ikut Menambah Tekanan
Kenaikan harga perangkat elektronik tidak hanya dipicu AI. Sejumlah persoalan ekonomi global ikut memperburuk situasi. Inflasi masih memberi tekanan pada industri teknologi. Selain itu, ketidakpastian geopolitik juga memengaruhi rantai pasok.
Analis Senior Teknologi RSM UK, James Bull, memperkirakan empat perusahaan teknologi terbesar Amerika Serikat akan menggelontorkan investasi ratusan miliar dolar untuk pusat data AI sepanjang 2026. Besarnya belanja tersebut membuat produsen chip lebih mengutamakan pesanan industri AI. Akibatnya, pasokan bagi perangkat elektronik konsumen semakin terbatas.
James Bull juga menilai laptop yang digunakan masyarakat kini bersaing memperoleh chip memori yang sama dengan pusat data AI. Kondisi itu membuat kebutuhan konsumen berada di posisi kurang menguntungkan. Oleh sebab itu, harga berbagai perangkat terus mengalami kenaikan.
Di sisi lain, kondisi geopolitik ikut memperbesar tekanan biaya produksi. Sony sebelumnya juga mengaitkan kenaikan harga PlayStation 5 dengan tantangan ekonomi global. Selain itu, konflik di Iran serta gangguan pelayaran di Selat Hormuz diperkirakan meningkatkan biaya logistik industri semikonduktor. Dampaknya kemudian menjalar hingga harga perangkat elektronik yang beredar di pasaran. (iD/*)











Komentar