Intiperistiwa.com – Indonesia masuk dalam daftar negara dengan emisi metana terbesar dari tempat pembuangan sampah. Data terbaru menempatkan Indonesia pada peringkat kedua dunia. Selain itu, TPST Bantargebang di Bekasi menjadi sumber utama emisi tersebut. Temuan ini berasal dari penelitian University of California Los Angeles (UCLA) Emmet Institute.
UCLA mempublikasikan data itu melalui STOP Methane Project pada April 2026. Selanjutnya, tim peneliti memanfaatkan satelit Tanager-1 dan instrumen EMIT milik NASA. Teknologi tersebut memetakan lebih dari 2.900 semburan metana di 707 lokasi dunia. Carbon Mapper kemudian menganalisis seluruh data untuk menentukan tingkat emisi setiap lokasi.
Bantargebang Masuk Peringkat Kedua Dunia
Hasil penelitian mencatat 25 lokasi pembuangan sampah dengan emisi metana terbesar di dunia. Indonesia menempati posisi kedua melalui TPST Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat. Selain itu, Carbon Mapper memperkirakan Bantargebang menghasilkan lebih dari 6,3 ton metana setiap jam. Angka tersebut hanya berada di bawah Campo de Mayo, Argentina.
Direktur Eksekutif UCLA Emmet Institute, Cara Horowitz, menyebut metana selama ini menjadi polutan yang sulit terpantau. Namun, teknologi satelit kini mampu mengungkap sumber emisi secara lebih akurat. Karena itu, dunia dapat memanfaatkan data tersebut sebagai peringatan dini terhadap ancaman perubahan iklim. Menurutnya, temuan ini membuka peluang untuk mempercepat langkah perlindungan lingkungan.
Daftar Penghasil Emisi Metana Terbesar
Berikut 10 lokasi dengan emisi metana tertinggi dari tempat pembuangan sampah:
- Campo de Mayo, Argentina: 7,6 ton per jam.
- Bantargebang, Indonesia: 6,3 ton per jam.
- Jeram, Malaysia: 6 ton per jam.
- Secunderabad, India: 5,9 ton per jam.
- Tiltile, Chili: 5,5 ton per jam.
- Talagante, Chili: 5,2 ton per jam.
- Riyadh, Arab Saudi: 5,1 ton per jam.
- Kamphaeng Saen, Thailand: 5 ton per jam.
- Penco, Chili: 5 ton per jam.
- Fazenda Rio Grande, Brasil: 4,9 ton per jam.
Pemprov DKI Jakarta Kelola TPST Bantargebang
TPST Bantargebang memang berada di wilayah Bekasi, Jawa Barat. Namun, fasilitas tersebut menampung sebagian besar sampah dari Jakarta. Selain itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengelola kawasan itu melalui Unit Pengelola Sampah Terpadu Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta.
Anggota DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth, mendorong perubahan besar dalam sistem pengelolaan sampah. Menurutnya, pemerintah perlu mengurangi sampah sejak dari sumbernya. Selain itu, pemerintah harus memperkuat pemilahan sampah rumah tangga, meningkatkan daur ulang, dan memanfaatkan teknologi pengolahan yang ramah lingkungan. Langkah tersebut dinilai mampu menekan emisi secara berkelanjutan.
Metana Jadi Ancaman Serius bagi Iklim
Pakar biorefinery limbah hayati Universitas Gadjah Mada, Hanifrahmawan Sudibyo, menjelaskan proses terbentuknya gas metana. Sampah organik akan membusuk secara alami di lingkungan yang lembap dan minim oksigen. Selanjutnya, mikroorganisme arkea menguraikan limbah tersebut dan menghasilkan gas metana. Kondisi seperti itu banyak ditemukan di gunungan sampah Bantargebang.
Hanif menilai tingginya emisi metana menjadi peringatan serius bagi lingkungan. Selain itu, metana memiliki kemampuan memerangkap panas jauh lebih kuat dibandingkan karbon dioksida dalam periode tertentu. Karena itu, pengendalian emisi metana menjadi bagian penting dalam upaya mengatasi perubahan iklim.
Lokasi tempat pembuangan sampah umumnya berada dekat kawasan permukiman. Akibatnya, emisi metana tidak hanya memengaruhi iklim global. Gas tersebut juga berpotensi menimbulkan risiko bagi kesehatan masyarakat sekitar. Oleh karena itu, pemerintah dan pengelola TPST perlu segera memperkuat sistem pengelolaan sampah agar dampaknya dapat ditekan. (iD/*)











Komentar