Intiperistiwa.com – Sebuah akun TikTok bernama @nia.hajar_s menjadi perhatian publik dalam beberapa hari terakhir. Banyak pengguna media sosial mengira sosok perempuan berhijab di akun tersebut merupakan seorang ustazah. Namun, sejumlah warganet kemudian mengungkap bahwa karakter tersebut sepenuhnya merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Hingga Kamis (25/6/2026), akun tersebut telah mengumpulkan lebih dari 920 ribu pengikut dan 10,4 juta tanda suka. Dalam setiap unggahannya, sosok perempuan itu tampil mengenakan hijab sambil menyampaikan ceramah di depan mikrofon. Penampilannya yang sangat realistis membuat banyak pengguna sulit membedakannya dengan manusia asli.
Warganet Soroti Akuntabilitas Konten AI
Kemunculan sosok yang dikenal sebagai “Ustazah Hajar” memicu beragam tanggapan di media sosial. Salah satunya datang dari akun X @MiskinTV_ yang mempertanyakan kejelasan identitas pembuat konten tersebut. Selain itu, akun tersebut juga menyoroti potensi dampak apabila materi yang disampaikan mengandung kekeliruan.
Menurut sejumlah warganet, visual dan suara yang sangat alami membuat banyak penonton percaya bahwa ceramah tersebut disampaikan oleh manusia. Karena itu, muncul kekhawatiran mengenai siapa yang bertanggung jawab apabila terjadi kesalahan informasi atau penafsiran dalam isi ceramah.
Pakar Sebut Intonasi Menjadi Salah Satu Ciri AI
Pemerhati budaya dan komunikasi digital, Firman Kurniawan, memastikan sosok “Ustazah Hajar” merupakan karakter hasil teknologi AI. Ia menjelaskan, masyarakat sebenarnya masih dapat mengenali beberapa ciri khas video yang dihasilkan kecerdasan buatan. Salah satunya terlihat dari pola suara yang terlalu konsisten.
Menurut Firman, suara AI umumnya memiliki intonasi yang sangat rapi dan stabil. Sebaliknya, manusia biasanya berbicara dengan jeda, perubahan tempo, maupun ekspresi spontan. Perbedaan tersebut menjadi salah satu petunjuk untuk mengenali konten buatan AI.
“Intonasinya sangat teratur dan runtut. Manusia biasanya memiliki jeda saat berbicara. Pola seperti itu menunjukkan hasil fabrikasi AI,” ujarnya.
Teknologi AI Semakin Mudah Diakses
Firman menilai perkembangan konten AI berlangsung sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, ada tiga faktor utama yang mendorong tren tersebut. Ketiga faktor itu membuat semakin banyak orang memanfaatkan AI untuk membuat berbagai jenis konten.
Pertama, biaya penggunaan teknologi AI kini semakin terjangkau. Bahkan, sejumlah platform menyediakan layanan gratis bagi pengguna. Selain itu, kemudahan akses membuat siapa pun dapat mencoba teknologi tersebut.
Kedua, proses pembuatan konten AI semakin sederhana. Seseorang cukup mempelajari tutorial di internet atau mencoba berbagai aplikasi yang tersedia. Dengan cara itu, pengguna sudah mampu menghasilkan video yang tampak meyakinkan.
Ketiga, kualitas hasil AI meningkat sangat pesat. Visual, suara, hingga ekspresi karakter kini terlihat semakin alami. Akibatnya, masyarakat sering kesulitan membedakan konten AI dengan rekaman asli.
Pengamat Ingatkan Pentingnya Transparansi
Pengamat digital Alfons Tanujaya menyampaikan pandangan serupa mengenai perkembangan AI. Menurutnya, teknologi saat ini mampu menghasilkan gambar, video, dan suara yang sangat menyerupai manusia. Bahkan, fenomena tersebut mulai memengaruhi industri kreator konten dan dunia pemodelan digital.
Alfons menjelaskan, sebagian masyarakat masih belum memahami perkembangan teknologi AI. Karena itu, banyak pengguna langsung mempercayai konten tersebut sebagai karya manusia. Padahal, sumber konten perlu diketahui agar publik dapat menilai kredibilitas informasi.
Ia menegaskan, risiko terbesar muncul ketika identitas pembuat konten tidak jelas. Kondisi tersebut menyulitkan pihak berwenang melakukan penelusuran apabila muncul pelanggaran. Selain itu, penggunaan avatar yang berbeda dengan identitas asli juga memerlukan tanggung jawab secara etis. (iD/*)











Komentar