Intiperistiwa.com – Indonesia memiliki karya sastra yang sangat panjang bernama Sureq Galigo atau La Galigo. Karya tersebut lahir dari tradisi masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan. Berbeda dari anggapan umum, mahakarya ini tidak berasal dari Yunani atau India. La Galigo justru tumbuh dari tradisi sastra masyarakat Bugis.
Panjang La Galigo membuat karya tersebut mendapat perhatian dalam dunia sastra. Bahkan, ukurannya melampaui sejumlah epos besar yang muncul sepanjang sejarah manusia. Karena itu, La Galigo memiliki posisi penting dalam khazanah sastra Nusantara. Karya tersebut juga memperlihatkan kekayaan tradisi tulis masyarakat Bugis.
La Galigo memiliki skala naskah yang sangat besar jika dibandingkan dengan karya sastra terkenal lainnya. Salah satu pembandingnya ialah Mahabharata dari India yang memiliki jumlah baris sangat banyak. Namun, data mengenai jumlah bait menunjukkan angka berbeda pada La Galigo. Perbandingan tersebut membantu pembaca memahami ukuran karya sastra dari tradisi Bugis ini.
Mahabharata dari India memiliki sekitar 100.000 hingga 200.000 baris sajak. Sementara itu, La Galigo dari Indonesia diperkirakan mencapai 300.000 bait. Jumlah tersebut setara sekitar 6.000 hingga 30.000 halaman folio. Dengan angka tersebut, La Galigo memiliki cakupan cerita yang sangat panjang.
Lebih Panjang dari Mahabharata
Berdasarkan perbandingan tersebut, jumlah bait La Galigo melampaui angka yang tercantum untuk Mahabharata. Bahkan, panjangnya juga berkali-kali lipat dibandingkan Iliad dan Odyssey karya Homer. Kedua karya tersebut berasal dari tradisi Yunani Kuno. Karena itu, La Galigo menjadi salah satu karya sastra dengan cakupan cerita yang sangat besar.
Meski begitu, La Galigo bukan sekadar naskah dengan jumlah halaman yang panjang. Karya tersebut menyimpan berbagai cerita mengenai kehidupan dan tradisi masyarakat Bugis. Selain itu, kisahnya memperlihatkan kekayaan budaya yang berkembang di Nusantara. Karena itu, La Galigo memiliki nilai penting dari sisi sastra, sejarah, dan kebudayaan.
Ditulis Menggunakan Aksara Lontara
Masyarakat Bugis menulis La Galigo menggunakan aksara kuno yang dikenal sebagai Lontara. Karya tersebut menjadi salah satu rekaman penting mengenai peradaban Bugis sebelum abad ke-14. Isinya mencakup asal-usul manusia dan berbagai petualangan para pahlawan. Selain itu, cerita tersebut menggambarkan tatanan suci dalam kehidupan masyarakat maritim Nusantara.
Pada awalnya, masyarakat mewariskan kisah La Galigo melalui tradisi lisan yang dinyanyikan. Kemudian, masyarakat menuangkan kisah tersebut dalam bentuk teks tertulis. Kini, naskah La Galigo menjadi sumber pengetahuan yang sangat berharga. Keberadaannya juga membantu masyarakat memahami kekayaan tradisi literasi Nusantara.
UNESCO Mengakui La Galigo
Nilai sejarah dan sastra La Galigo mendapat pengakuan internasional. Pada 2011, UNESCO memasukkan La Galigo ke dalam Memory of the World. Program tersebut merupakan daftar Warisan Dokumenter Dunia. Pengakuan tersebut memperkuat posisi La Galigo sebagai warisan dokumenter yang penting.
Selain itu, pengakuan UNESCO menunjukkan nilai penting manuskrip La Galigo bagi dunia. Karya tersebut memperlihatkan kemampuan intelektual masyarakat Bugis pada masa lalu. Tradisi literasi tersebut juga menunjukkan kekayaan budaya tulis Nusantara. Dengan demikian, La Galigo memiliki arti penting dalam sejarah literasi Indonesia.
Menjaga Warisan Literasi Indonesia
Mempelajari La Galigo dapat memperluas pemahaman mengenai akar literasi Indonesia. Warisan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara memiliki tradisi tulis yang panjang. Karena itu, generasi muda perlu mengenal karya sastra dan budaya dari berbagai daerah. Pemahaman tersebut juga dapat memperkuat penghargaan terhadap identitas bangsa.
Bagi pemustaka di Perpustakaan Labschool, mengenal La Galigo dapat menjadi pengalaman berharga. Karya tersebut memperlihatkan kekayaan pengetahuan yang berkembang sejak masa lampau. Selain itu, kisahnya menunjukkan tradisi masyarakat yang kaya dengan bahasa dan budaya. Warisan tersebut menjadi bukti penting mengenai kekuatan literasi leluhur Nusantara. (iD/*)
Sumber
- ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia). La Galigo: The Epic Literary Heritage of the Bugis. Sumber tersebut tersedia melalui Portal Memory of the World Indonesia.
- UNESCO. La Galigo. Memory of the World Register.
- Kern, R.A. (1939). Catalogus van de Boegineesche handschriften van het Legatum Warnerianum. Studi mengenai manuskrip Bugis.











Komentar