Intiperistiwa.com — SMP Negeri 13 Kerinci terus mendorong inovasi melalui teknologi pendidikan. Terbaru, sekolah menciptakan kartu presensi pintar untuk memantau kehadiran siswa secara langsung. Selain itu, sistem menghubungkan data kehadiran dengan gawai orang tua dan pihak sekolah. Dengan demikian, orang tua dapat mengetahui kehadiran anak melalui perangkat mereka.
Kepala SMP Negeri 13 Kerinci, Liza Azoni, M.Pd., menjelaskan awal munculnya inovasi tersebut. Ide itu berasal dari seorang guru coding yang melihat masih ada siswa bolos atau jarang hadir. Kemudian, sekolah mengembangkan gagasan tersebut melalui pembelajaran coding dan kegiatan ekstrakurikuler. Para siswa juga terlibat langsung dalam pembuatan serta perakitan alat.
“Idenya dari guru, kemudian pembuatan atau perakitan alat tersebut dilaksanakan oleh para murid,” ujar Liza. Menurut Liza, keterlibatan siswa menjadi bagian penting dalam pengembangan inovasi tersebut. Selain belajar teori, siswa juga memperoleh pengalaman langsung melalui proses perakitan. Karena itu, kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang belajar teknologi bagi para siswa.
Kartu Presensi Pintar Terhubung dengan Gawai Orang Tua
Menurut Liza, sekolah telah menguji kartu presensi pintar tersebut untuk melihat efektivitasnya. Hasil uji coba menunjukkan alat itu membantu sekolah memantau kehadiran siswa. Selain itu, data kehadiran dapat terhubung langsung dengan gawai orang tua dan pihak sekolah. Dengan demikian, kedua pihak dapat memantau kehadiran siswa secara langsung.
Sekolah mengemas alat presensi dalam bentuk kartu yang sekaligus berfungsi sebagai identitas siswa. Karena itu, siswa dapat memakai satu kartu untuk dua kebutuhan sekaligus. Selain lebih praktis, bentuk kartu memudahkan siswa membawanya dalam aktivitas sehari-hari. Inovasi tersebut juga memadukan fungsi presensi dengan identitas siswa.
Biaya Perakitan dan Pengadaan Kartu
Liza menjelaskan sekolah membutuhkan biaya lebih dari Rp300 ribu untuk bahan perakitan. Namun, pengadaan kartu memerlukan biaya lebih besar secara keseluruhan. Setiap kartu berharga sekitar Rp5 ribu. Selanjutnya, sekolah menyesuaikan kebutuhan kartu dengan jumlah seluruh siswa.
“Untuk bahan-bahan perakitannya sekitar Rp300 ribu lebih. Tetapi yang cukup banyak menghabiskan biaya adalah pembelian kartunya, sekitar Rp5 ribu per kartu, dikalikan dengan jumlah murid yang ada di sekolah,” jelasnya, Jumat, 4 September 2026. Menurut Liza, kartu menjadi salah satu komponen utama dalam kebutuhan biaya. Sementara itu, sekolah tetap melanjutkan persiapan penggunaan inovasi tersebut. Proses tersebut berjalan seiring dengan rencana peluncuran resmi.
Menunggu Peluncuran Resmi Pemkab Kerinci
Liza menambahkan sekolah sudah menyampaikan inovasi tersebut kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Kerinci. Selanjutnya, sekolah menunggu Pemerintah Kabupaten Kerinci meluncurkan inovasi itu secara resmi. Menurut Liza, peluncuran resmi akan berlangsung dalam waktu dekat. Setelah peluncuran, sekolah dapat memakai sistem tersebut secara resmi.
Liza berharap kartu presensi pintar dapat membantu meningkatkan kedisiplinan siswa, terutama terkait kehadiran. Selain itu, sistem tersebut memberi kemudahan bagi orang tua dalam memantau anak. Sekolah juga dapat mengetahui data kehadiran secara lebih cepat. Karena itu, inovasi tersebut menjadi salah satu upaya sekolah dalam memanfaatkan teknologi pendidikan.
Sekolah berharap inovasi itu dapat menjadi contoh bagi sekolah lainnya. Selain itu, Liza ingin karya tersebut mengangkat nama SMP Negeri 13 Kerinci. Ia juga berharap inovasi guru dan siswa membawa nama Kabupaten Kerinci melalui bidang pendidikan dan teknologi. Dengan demikian, sekolah ingin terus mendorong kreativitas siswa melalui karya yang bermanfaat. (iD/*)











Komentar