Intiperistiwa.com – Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuan pada Juni 2026. Keputusan tersebut mengejutkan pelaku pasar karena di umumkan di luar jadwal rapat bulanan.
Melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) mingguan pada Selasa, 9 Juni 2026, Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin. Dengan penyesuaian itu, suku bunga acuan kini berada di level 5,5 persen.
Selain BI Rate, Bank Indonesia juga menaikkan suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility. Masing-masing instrumen naik 25 basis poin.
Karena itu, suku bunga Deposit Facility kini menjadi 4,5 persen. Sementara itu, Lending Facility meningkat menjadi 6,25 persen.
Rupiah Jadi Perhatian Utama
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menjelaskan alasan utama di balik kebijakan tersebut. Menurutnya, bank sentral perlu memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.
Selain itu, gejolak global masih memberi tekanan besar terhadap pasar keuangan. Kondisi tersebut semakin terasa setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
“Langkah ini merupakan lanjutan kebijakan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah,” ujar Perry.
Menurut Bank Indonesia, tekanan terhadap rupiah berlangsung lebih kuat dari perkiraan sebelumnya. Karena itu, otoritas moneter memandang perlu mengambil langkah tambahan.
Menjaga Inflasi Tetap Terkendali
Selain menjaga kurs rupiah, Bank Indonesia juga berupaya mengendalikan inflasi. Kebijakan suku bunga yang lebih tinggi di harapkan mampu menjaga stabilitas harga dalam jangka menengah.
Bank sentral menargetkan inflasi tetap berada dalam kisaran 2,5 persen dengan toleransi satu persen. Target tersebut berlaku untuk periode 2026 hingga 2027.
Di sisi lain, kenaikan suku bunga juga bertujuan memperkuat daya tarik aset keuangan domestik. Dengan demikian, investor global memiliki alasan lebih besar untuk menempatkan dananya di Indonesia.
Perry menilai peningkatan imbal hasil dapat mendorong masuknya kembali investasi portofolio asing. Arus modal tersebut di nilai penting untuk memperkuat pasar keuangan nasional.
Tekanan Global Picu Arus Modal Keluar
Dalam evaluasi sejak RDG bulanan pada 19-20 Mei 2026, Bank Indonesia mencatat pelemahan rupiah yang cukup signifikan. Kondisi itu terjadi seiring berlanjutnya ketidakpastian ekonomi global.
Selain faktor eksternal, permintaan valuta asing di dalam negeri juga meningkat. Akibatnya, tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin besar.
Di saat yang sama, sebagian investor asing menarik dana dari pasar keuangan Indonesia. Arus keluar modal tersebut turut memperlemah pergerakan rupiah dalam beberapa pekan terakhir.
Karena itu, Bank Indonesia memilih memperkuat instrumen kebijakan moneter. Langkah tersebut di harapkan mampu menjaga stabilitas pasar dan meningkatkan kepercayaan investor.
RDG Mingguan Sesuai Ketentuan
Bank Indonesia menegaskan bahwa RDG mingguan bukan hal baru. Forum tersebut rutin berlangsung setiap hari Selasa sesuai ketentuan yang berlaku.
Melalui rapat itu, Bank Indonesia mengevaluasi pelaksanaan berbagai kebijakan yang telah di putuskan dalam RDG bulanan. Hasil evaluasi kemudian menjadi dasar pengambilan langkah lanjutan apabila di perlukan.
Menurut Perry, kebijakan terbaru ini tidak hanya berfokus pada stabilitas rupiah. Bank Indonesia juga ingin menjaga ketahanan sektor eksternal ekonomi nasional.
Selain itu, otoritas moneter berharap kebijakan tersebut mampu mendukung stabilitas makroekonomi. Dengan kondisi yang lebih terjaga, ekonomi Indonesia di harapkan tetap mampu menghadapi tekanan global yang masih berlangsung.(id/*)










Komentar