Intiperistiwa.com – Bank Indonesia (BI) terus memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi internasional. Setelah menjalin kerja sama dengan China dan Hong Kong, kini sejumlah negara mulai menunjukkan ketertarikan untuk mengikuti langkah serupa.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengungkapkan respons negara-negara mitra terhadap skema Local Currency Settlement (LCS) sangat positif. Menurutnya, kerja sama yang terjalin dengan bank sentral China dan Hong Kong memunculkan perhatian besar dari kawasan.
Destry menjelaskan banyak negara melihat kesepakatan tersebut sebagai langkah strategis. Karena itu, sejumlah mitra dagang Indonesia mulai membuka pembahasan terkait penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral.
Kerja sama antara BI, People’s Bank of China (PBoC), dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA) dinilai memberi dampak signifikan. Selain memperkuat hubungan ekonomi, kesepakatan itu juga membuka peluang kerja sama baru dengan negara lain.
India Masuk Tahap Pembahasan
Destry mengatakan India menjadi salah satu negara yang menunjukkan minat tinggi terhadap skema LCS. Saat ini, kedua negara masih membahas berbagai aspek teknis sebelum mencapai kesepakatan resmi.
Menurutnya, proses penyusunan nota kesepahaman membutuhkan waktu. Sebab, setiap negara memiliki aturan dan mekanisme yang berbeda dalam pelaksanaan transaksi lintas negara.
Meski demikian, pembicaraan antara Indonesia dan India terus berjalan. Karena itu, BI optimistis kerja sama tersebut dapat segera memasuki tahap berikutnya.
Selain India, BI juga memperluas komunikasi dengan beberapa negara lain. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi memperkuat penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional.
Korea Selatan, UEA, dan Arab Saudi Jadi Target Berikutnya
BI juga menyiapkan kerja sama serupa dengan Korea Selatan, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. Saat ini, pembahasan dengan negara-negara tersebut masih terus berlangsung.
Destry menilai keberhasilan kerja sama dengan China dan Hong Kong menjadi faktor pendorong utama. Akibatnya, sejumlah negara mulai mempercepat pembahasan kerja sama dengan Indonesia.
Menurutnya, Korea Selatan sudah masuk dalam daftar prioritas pengembangan LCS. Sementara itu, Uni Emirat Arab dan Arab Saudi juga menunjukkan minat untuk memperkuat transaksi menggunakan mata uang lokal.
BI berharap perluasan kerja sama tersebut mampu meningkatkan efisiensi transaksi internasional. Selain itu, langkah tersebut juga dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat.
Nilai Transaksi Indonesia-China Tembus Rp392 Triliun
Destry sebelumnya mengungkapkan nilai transaksi LCS antara Indonesia dan China mencapai sekitar US$9 miliar pada Mei 2026. Dengan asumsi kurs Rp17.835 per dolar AS, nilainya setara sekitar Rp160,52 triliun.
Sementara itu, total transaksi sepanjang Januari hingga Mei 2026 mencapai sekitar US$22 miliar. Nilai tersebut setara dengan sekitar Rp392,37 triliun.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan penggunaan rupiah dan renminbi memberikan manfaat besar bagi kedua negara. Salah satunya yaitu mengurangi kebutuhan penggunaan dolar dalam transaksi perdagangan dan investasi.
Selain itu, BI akan terus mendorong sektor perbankan dan pelaku usaha untuk memanfaatkan skema tersebut. Dengan demikian, penggunaan mata uang lokal dapat semakin luas dalam transaksi internasional. (iD/*)










Komentar