Intiperistiwa.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akhirnya buka suara terkait pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS naik 77 poin hingga menyentuh Rp18.044.
Meski begitu, Purbaya tetap menunjukkan sikap tenang menghadapi kondisi tersebut. Ia menilai Bank Indonesia masih mampu menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.
Menurut Purbaya, pengendalian nilai tukar rupiah memang menjadi kewenangan penuh Bank Indonesia. Karena itu, pemerintah belum melihat kebutuhan mendesak untuk menggelar rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan.
“Nanti Anda lihat saya panik. Padahal, semuanya masih terkendali,” ujar Purbaya di Kompleks DPR RI, Jakarta, Kamis, 4 Juni 2026.
Ia juga menegaskan Bank Indonesia masih menjalankan tugas dengan baik. Karena itu, ia memilih menyerahkan pengelolaan rupiah kepada otoritas moneter.
Pelemahan Rupiah Pengaruhi Beban Utang
Di sisi lain, Purbaya mengakui pelemahan rupiah dapat menambah tekanan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Sebab, nilai pembayaran dalam rupiah ikut meningkat saat kurs dolar menguat.
Menurut dia, bunga atau kupon utang sebenarnya tetap. Namun, pemerintah tetap membutuhkan rupiah lebih besar untuk membayar kewajiban dalam dolar AS.
“Kuponnya tetap, tetapi pembayaran dalam rupiah ikut naik saat kurs melemah,” jelas Purbaya.
Walaupun begitu, pemerintah masih menganggap kondisi tersebut aman. Pemerintah sebelumnya sudah menghitung berbagai kemungkinan saat menyusun APBN.
Pemerintah Klaim APBN Masih Aman
Purbaya menjelaskan pemerintah memakai asumsi kurs Rp16.500 saat menyusun APBN. Namun, pemerintah juga menyiapkan simulasi terhadap berbagai risiko ekonomi global.
Selain pelemahan rupiah, pemerintah turut menghitung potensi kenaikan harga energi dan gejolak pasar internasional. Karena itu, pemerintah mengklaim kondisi saat ini masih berada dalam batas perhitungan.
Ia bahkan menilai fundamental rupiah sebenarnya masih cukup kuat. Menurutnya, nilai rupiah seharusnya lebih baik dibanding posisi saat ini.
“Fundamental rupiah sebenarnya lebih kuat dari level sekarang,” kata Purbaya.
Pemerintah Intervensi Pasar Obligasi
Selain menjaga APBN, pemerintah juga bergerak di pasar surat utang negara. Langkah itu dilakukan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.
Purbaya mengungkapkan pemerintah sudah melakukan intervensi lebih dari Rp8 triliun di pasar obligasi. Intervensi tersebut bertujuan menahan gejolak sekaligus menjaga kepercayaan investor.
Menurut dia, langkah itu mulai menunjukkan hasil positif. Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun kini cenderung stabil bahkan perlahan menurun.
“Mungkin lebih dari Rp8 triliun di obligasi. Dampaknya mulai terlihat pada surat utang kita,” tutup Purbaya. (id/*)










Komentar