Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini 8 Juni 2026 Tembus Rp 18.132

Penguatan dolar AS berlanjut pada perdagangan 8 Juni 2026 dan mendorong rupiah ke level terendah baru.

- Jurnalis

Senin, 8 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini 8 Juni 2026 Tembus Rp 18.132. (Foto: Liputan6.com/Andri Wiranuari)

Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini 8 Juni 2026 Tembus Rp 18.132. (Foto: Liputan6.com/Andri Wiranuari)

Intiperistiwa.comNilai tukar dolar Amerika Serikat kembali mencatat penguatan terhadap rupiah pada perdagangan Senin, 8 Juni 2026. Tren kenaikan yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir masih terus berlanjut.

Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS naik 0,44 persen pada awal perdagangan. Kenaikan tersebut membawa mata uang Amerika Serikat ke level Rp18.114,5.

Selanjutnya, penguatan dolar terus berlanjut pada sesi pagi. Hingga pukul 09.11 WIB, dolar AS mencapai Rp18.132 atau naik 0,53 persen dibandingkan posisi sebelumnya.

Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan yang masih membayangi rupiah. Selain itu, pelaku pasar juga terus mencermati berbagai sentimen ekonomi global yang memengaruhi nilai tukar.

Bergerak Lebih Tinggi dari Penutupan Sebelumnya

Pada perdagangan sebelumnya, dolar AS ditutup di level Rp18.036. Namun, pembukaan pasar hari ini langsung menunjukkan penguatan yang cukup signifikan.

Bloomberg memperkirakan dolar AS bergerak dalam rentang Rp18.104,5 hingga Rp18.116,5 sepanjang hari. Meski demikian, kurs dolar sudah melampaui kisaran tersebut pada perdagangan pagi.

Kondisi ini menunjukkan tingginya permintaan terhadap dolar AS. Di sisi lain, rupiah masih menghadapi tekanan dari berbagai faktor eksternal.

Baca Juga :  BSI Scholarship Afirmasi 2026 Resmi Dibuka, Mahasiswa D3-S1 Bisa Dapat UKT Rp3 Juta

Penguatan Dolar Capai 8,60 Persen Sepanjang 2026

Sepanjang tahun 2026, dolar AS mencatat kinerja yang cukup kuat terhadap rupiah. Hingga awal Juni, mata uang tersebut sudah menguat sekitar 8,60 persen.

Meski demikian, pergerakan dolar tidak seragam terhadap mata uang utama dunia. Beberapa mata uang justru mampu menahan laju penguatan dolar AS.

Perbedaan arah pergerakan ini mencerminkan beragam kondisi ekonomi di masing-masing negara. Karena itu, investor global terus memantau perkembangan pasar keuangan internasional.

Dolar Melemah terhadap Euro dan Poundsterling

Di tengah penguatannya terhadap rupiah, dolar AS justru melemah terhadap sejumlah mata uang utama. Salah satunya euro yang mencatat penguatan tipis terhadap dolar.

Data perdagangan menunjukkan dolar AS melemah 0,01 persen terhadap euro. Selain itu, dolar juga turun 0,10 persen terhadap poundsterling Inggris.

Pergerakan tersebut menandakan bahwa tekanan terhadap dolar tidak terjadi secara merata. Faktor ekonomi regional turut memengaruhi arah perdagangan mata uang global.

Menguat atas Yen dan Franc Swiss

Sementara itu, dolar AS menunjukkan kinerja yang lebih kuat terhadap beberapa mata uang lainnya. Salah satunya yen Jepang yang mencatat pelemahan tipis.

Baca Juga :  Penumpang Wajib Tahu! Mulai 1 September 2026, Garuda Indonesia Ubah Aturan Bagasi Gratis

Dolar AS menguat 0,04 persen terhadap yen. Selain itu, mata uang Amerika Serikat juga naik 0,21 persen terhadap franc Swiss.

Tidak hanya itu, dolar AS turut mencatat penguatan sebesar 0,10 persen terhadap dolar Kanada. Namun, terhadap dolar Australia, mata uang tersebut melemah 0,07 persen.

Pasar Masih Menanti Sentimen Global

Pelaku pasar masih menunggu sejumlah data ekonomi penting dalam beberapa waktu mendatang. Berbagai indikator tersebut berpotensi memengaruhi arah pergerakan dolar AS dan mata uang lainnya.

Selain itu, kebijakan suku bunga bank sentral global masih menjadi perhatian utama investor. Karena itu, volatilitas pasar valuta asing diperkirakan tetap tinggi dalam waktu dekat.

Di tengah kondisi tersebut, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada sentimen global dan kondisi ekonomi domestik. Oleh sebab itu, pelaku pasar terus mencermati perkembangan terbaru untuk menentukan langkah investasi yang tepat.(id/*)

Berita Terkait

Regulasi Makin Ketat, Bitcoin Depot Tutup Jaringan ATM Bitcoin di Tiga Negara
Tak Perlu BI Checking, Kini Riwayat Utang Bisa Dicek Sendiri secara Online lewat SLIK OJK
Mulai 15 September, Beli BBM Subsidi Tertentu Wajib Tunjukkan STNK, Begini Aturannya
Pemerintah Siapkan Skema Bansos Baru, Apa Saja yang Akan Berubah?
Daftar Harga BBM Pertamina se-Indonesia 1 September 2026, Pertamax Turbo dan Dex Series Naik
9 Ulama Terpilih Jadi Anggota AHWA Muktamar ke-35 NU, Siap Tentukan Rais ‘Aam PBNU
Apakah Sawit Bisa Menggantikan Hutan? Pakar Jelaskan Fakta dan Dampaknya
DPR Soroti Data Desil DTSEN, Ketidakakuratan Bisa Hambat KIP Kuliah
Berita ini 8 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 13:00 WIB

Regulasi Makin Ketat, Bitcoin Depot Tutup Jaringan ATM Bitcoin di Tiga Negara

Rabu, 9 September 2026 - 07:00 WIB

Tak Perlu BI Checking, Kini Riwayat Utang Bisa Dicek Sendiri secara Online lewat SLIK OJK

Sabtu, 5 September 2026 - 13:00 WIB

Mulai 15 September, Beli BBM Subsidi Tertentu Wajib Tunjukkan STNK, Begini Aturannya

Jumat, 4 September 2026 - 09:00 WIB

Pemerintah Siapkan Skema Bansos Baru, Apa Saja yang Akan Berubah?

Selasa, 1 September 2026 - 11:00 WIB

Daftar Harga BBM Pertamina se-Indonesia 1 September 2026, Pertamax Turbo dan Dex Series Naik

Berita Terbaru