Intiperistiwa.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi terus meningkat. Puncak musim kemarau dan pengaruh El Nino memperbesar risiko munculnya kebakaran. Karena itu, tim gabungan lintas instansi mendirikan 81 posko siaga di kawasan rawan karhutla. Langkah tersebut bertujuan mempercepat pencegahan sekaligus penanganan kebakaran.
Setiap posko menjadi pusat pemantauan titik api di wilayah masing-masing. Personel berasal dari TNI, Polri, BPBD, BNPB, Manggala Agni, dan relawan Masyarakat Peduli Api (MPA). Masing-masing posko diperkuat sedikitnya 10 personel beserta peralatan pendukung. Seluruh tim bekerja untuk mencegah kebakaran meluas.
“Kami membuat 81 posko yang tersebar di seluruh wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan untuk mengantisipasi terjadinya karhutla,” kata Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi, Bachyuni Deliansyah, Minggu (5/7/2026).
Posko Siaga Perkuat Pengawasan
Bachyuni menjelaskan setiap posko menjalankan berbagai tugas di lapangan. Petugas melakukan patroli rutin dan mengawasi kawasan rawan kebakaran. Selain itu, mereka mengedukasi masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Petugas juga melaporkan setiap temuan titik api secara cepat.
Selanjutnya, petugas meneruskan seluruh laporan ke Posko Induk di Korem 042/Garuda Putih. Petugas juga mengirim laporan ke Posko Udara di Bandara Sultan Thaha Jambi. Kedua posko tersebut menjadi pusat pengendalian operasi karhutla. Dengan begitu, tim dapat merespons setiap kejadian lebih cepat.
Ribuan Titik Panas Sudah Terdeteksi
BPBD memperkirakan puncak musim kemarau mulai berlangsung pada Juli. Fenomena El Nino diperkirakan bertahan hingga akhir September. Bahkan, kondisi tersebut berpotensi berlanjut sampai Oktober 2026. Akibatnya, ancaman karhutla diprediksi semakin meningkat.
Data BPBD menunjukkan kondisi tersebut mulai terlihat. Satelit Aqua Terra dan Suomi NPP mendeteksi 1.463 titik panas sejak 1 Januari hingga 29 Juni 2026. Kabupaten Tanjung Jabung Barat mencatat 451 titik panas. Muaro Jambi menyusul dengan 339 titik panas.
Sarolangun mencatat 199 titik panas. Merangin memiliki 138 titik panas. Tanjung Jabung Timur mencatat 99 titik panas. Tebo memiliki 84 titik panas, Batang Hari 71 titik, Bungo 53 titik, Kerinci 21 titik, Kota Jambi tujuh titik, dan Sungai Penuh satu titik.
Sementara itu, luas lahan terbakar selama semester pertama 2026 mencapai 137,72 hektare. Sarolangun mencatat kebakaran terluas mencapai 44,90 hektare. Batang Hari menyusul dengan 36,42 hektare. Tanjung Jabung Barat mencatat 33,40 hektare, Tanjung Jabung Timur 18,80 hektare, Tebo 2,50 hektare, dan Muaro Jambi 1,70 hektare.
BPBD Ajak Masyarakat Berperan Aktif
BPBD menilai pencegahan karhutla membutuhkan dukungan masyarakat. Karena itu, warga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar. Selain itu, masyarakat diharapkan segera melaporkan asap atau titik api kepada petugas. Langkah cepat akan memudahkan tim mengendalikan kebakaran sebelum meluas. (iD/*)











Komentar