Intiperistiwa.com – Indonesia menghadapi ancaman silent cognitive burden pada anak. Kondisi ini menggambarkan penurunan kapasitas neurokognitif yang berlangsung perlahan. Selain itu, banyak orang tua tidak menyadari gejalanya karena muncul secara samar. Akibatnya, masyarakat kerap menganggap kondisi tersebut sebagai keluhan kesehatan biasa.
Indonesia Health Development Center (IHDC) mengidentifikasi empat faktor utama yang berkontribusi terhadap kondisi tersebut. Sementara itu, lembaga tersebut mendorong langkah pencegahan sejak usia dini. Karena itu, IHDC mengajak berbagai pihak memperhatikan perkembangan kognitif anak secara lebih menyeluruh.
Direktur Eksekutif IHDC, Dr Ray Wagiu Basrowi, menjelaskan hasil kajian lembaganya melalui pendekatan Community Framework. Menurutnya, model tersebut menggambarkan hubungan antara faktor biologis, kualitas sensorik, fungsi neurokognitif, perilaku, dan lingkungan sosial. Selain itu, model tersebut mendorong pengukuran kapasitas kognitif sejak usia anak. Dengan demikian, anak dapat belajar memetakan imajinasi dan trajektori masa depannya.
“Kajian IHDC ini mengusulkan model Community Framework, yang menjelaskan bahwa perkembangan kapasitas kognitif merupakan hasil interaksi antara faktor biologis, kualitas sensorik, fungsi neurokognitif, perilaku, dan lingkungan sosial, dan sebaiknya mulai diukur sejak usia anak, agar anak bisa belajar memetakan imajinasi dan trajektori masa depannya,” ungkap Direktur Eksekutif IHDC Dr Ray Wagiu Basrowi.
Empat Faktor Penyebab Silent Cognitive Burden
IHDC menempatkan gangguan penglihatan sebagai faktor pertama. Lembaga tersebut memperkirakan lebih dari 8 juta anak berusia 5 hingga 9 tahun mengalaminya. Selain itu, jumlah tersebut setara dengan usia anak sekolah dasar. Kondisi itu sangat memengaruhi proses belajar karena sekitar 90 persen pembelajaran bergantung pada kemampuan visual.
IHDC juga mencatat anak dengan ketajaman penglihatan rendah memiliki risiko 1,68 kali lebih tinggi mengalami keterlambatan literasi. Sementara itu, penelitian di Indonesia menunjukkan gangguan penglihatan dapat menurunkan nilai akademik hingga 4,32 poin. Karena itu, kesehatan mata menjadi bagian penting dalam perkembangan kemampuan belajar anak.
Faktor kedua berkaitan dengan anemia defisiensi zat besi. IHDC memperkirakan sekitar 7,5 juta balita di Indonesia mengalami kondisi tersebut. Selain itu, analisis pada anak sekolah dasar di wilayah perkotaan Jakarta menunjukkan risiko yang lebih besar. Anak dengan defisiensi zat besi memiliki peluang dua hingga tiga kali lebih tinggi mengalami penurunan working memory.
IHDC juga menemukan anak dengan defisiensi zat besi memerlukan waktu lebih lama menyelesaikan tugas yang melibatkan fungsi kognitif. Oleh sebab itu, kecukupan zat besi menjadi bagian penting dalam mendukung perkembangan kemampuan berpikir anak.
Asupan Protein dan Kesehatan Mental
IHDC menempatkan rendahnya asupan protein sebagai faktor ketiga. Lembaga tersebut melaporkan sekitar 58 persen anak Indonesia belum memperoleh protein sesuai kebutuhan. Padahal, protein berperan penting dalam perkembangan otak sejak usia dini. Selain itu, protein mendukung pembentukan neuron, sinaptogenesis, mielinisasi, hingga neuroplastisitas.
Namun, hanya sekitar 40 persen balita memperoleh asupan protein sesuai Angka Kecukupan Gizi (AKG). Karena itu, pemenuhan kebutuhan protein menjadi perhatian penting bagi tumbuh kembang anak.
Faktor terakhir berkaitan dengan kesehatan mental dan perilaku anak. Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 300 ribu anak yang mengalami gangguan kecemasan (anxiety). Selain itu, kondisi tersebut dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan proses belajar.
Sementara itu, Program Cek Kesehatan Gratis mencatat sekitar 338 ribu anak mengalami kecemasan. Program yang sama juga mencatat sekitar 363 ribu anak berpotensi mengalami depresi. Dengan demikian, kondisi kesehatan mental turut memengaruhi perkembangan kapasitas neurokognitif anak.
Ketua Dewan Pembina Indonesia Health Development Center (IHDC) sekaligus Menteri Kesehatan RI periode 2014–2019, Prof Nila Moeloek, mengingatkan pentingnya perhatian terhadap persoalan tersebut. Menurutnya, masyarakat tidak boleh lagi menganggap gangguan penglihatan, anemia, maupun masalah perilaku sebagai persoalan individu. Sebaliknya, berbagai kondisi itu dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia nasional apabila terjadi pada jutaan anak.
“Selama ini kita menganggap gangguan penglihatan, anemia, atau masalah perilaku sebagai persoalan kesehatan individual. Padahal bila terjadi pada jutaan anak Indonesia, dampaknya dapat memengaruhi kualitas modal manusia nasional. Yang hilang bukan hanya nilai rapor, tetapi juga potensi berpikir, berinovasi, dan membangun masa depan,” ujar Prof Nila Moeloek. (iD/*)











Komentar