Remaja Ini Pecahkan Rekor 300 Tahun, Kini Jadi Profesor Termuda Dunia

Nathan Thomas mencetak rekor dunia setelah menjadi profesor pada usia 18 tahun 346 hari.

- Jurnalis

Senin, 3 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Remaja Ini Pecahkan Rekor 300 Tahun, Kini Jadi Profesor Termuda Dunia. (Foto: guinnessworldrecords/kompas)

Remaja Ini Pecahkan Rekor 300 Tahun, Kini Jadi Profesor Termuda Dunia. (Foto: guinnessworldrecords/kompas)

Intiperistiwa.comNathan Thomas mencetak sejarah sebagai profesor termuda dunia pada usia 18 tahun dan 346 hari. Ia memecahkan rekor yang bertahan selama lebih dari tiga abad. Thomas meraih pencapaian itu setelah bergabung dengan Miami Dade College, Amerika Serikat. Ia mulai mengajar sebagai profesor luar biasa bidang teknik pada Agustus 2023.

Sebelumnya, matematikawan Skotlandia Colin Maclaurin memegang rekor profesor termuda dunia. Maclaurin hidup pada 1698-1746 dan menjadi profesor ketika berusia 19 tahun. Menurut Guinness World Records, Thomas juga mengungguli pencapaian Alia Sabur. Thomas mencatat usia 16 hari lebih muda saat Sabur meraih rekor profesor perempuan termuda pada 2008.

Kini, Thomas berusia 21 tahun dan mengajar mata kuliah teknik. Ia mengajar di School of Engineering, Technology & Design, Miami Dade College Kampus Kendall. Manny Perez, Dekan School of Engineering, Technology & Design, mengapresiasi kehadiran Thomas. “Saya bangga memilikinya sebagai bagian dari staf kami,” kata Manny Perez.

Usia Tak Menghalangi Thomas Mengajar

Thomas mengaku tidak menghadapi kendala saat mengajar mahasiswa yang hampir sebaya dengannya. Menurutnya, ruang kelas menyatukan semua orang melalui tujuan belajar yang sama. “Begitu di ruang kelas, semua orang ada di sana dengan alasan yang sama, yaitu belajar,” ungkapnya kepada Guinness World Records. Karena itu, Thomas memilih fokus menjalankan tugas dan membantu mahasiswa.

“Faktor usia sebenarnya tidak berpengaruh. Saya hanya fokus menjalankan tugas dengan baik dan membantu mahasiswa dengan cara apa pun yang saya bisa. Jika seseorang bersedia berusaha keras, itu lebih dari cukup,” imbuhnya. Thomas menilai kemauan untuk berusaha menjadi hal yang penting. Selain itu, ia berusaha membantu mahasiswa sesuai kebutuhan mereka.

Thomas tumbuh dari keluarga yang memiliki latar belakang teknik. Kedua orang tuanya berprofesi sebagai insinyur dan mengenalkannya pada bidang STEM sejak kecil. Ibunya turut membentuk cara Thomas memahami berbagai persoalan rumit. “Ibu punya cara untuk membuat hal-hal terasa sederhana bahkan ketika sebenarnya rumit,” ujarnya.

Baca Juga :  Rahasia di Balik Film Warkop DKI Terbaru, Falcon Pictures Gandeng Penulis Thailand untuk Perkuat Cerita

Thomas mulai menjalani homeschooling ketika berusia lima tahun. Kemudian, keluarganya menjadikan perjalanan ke lebih dari 20 negara sebagai kesempatan belajar. Mereka memanfaatkan museum, situs bersejarah, dan tempat umum sebagai ruang pembelajaran. Dengan cara tersebut, Thomas mendapat pengalaman pendidikan di luar lingkungan sekolah.

Matematika Membuka Jalan Thomas ke STEM

Matematika menjadi pelajaran pertama yang menarik perhatian Thomas. Ketertarikan itu kemudian mendorong kecintaannya terhadap sains, teknologi, teknik, dan matematika. Pada usia 10 tahun, Thomas mengikuti kuliah ganda di Miami Dade College. Empat tahun kemudian, ia meraih gelar sarjana muda matematika.

Pencapaian tersebut menjadikan Thomas lulusan termuda Miami Dade College. Rekor itu bertahan hingga April 2025. Kemudian, adiknya, Noah, memecahkan rekor tersebut dengan lulus tiga bulan lebih muda. Prestasi tersebut menambah catatan akademik keluarga Thomas.

Thomas kemudian menyelesaikan gelar sarjana dan magister teknik elektro. Ia meraih kedua gelar tersebut dengan predikat with honors dari Florida International University. Thomas menyelesaikan pendidikan itu sebelum berusia 19 tahun. Selanjutnya, ia kembali ke Miami Dade College pada Agustus 2023.

Di kampus tersebut, Thomas mengajar sebagai profesor luar biasa bidang teknik. Posisi itu membuatnya menjadi profesor termuda dalam sejarah institusi tersebut. Usianya kemudian membuat banyak mahasiswa terkejut. Mahasiswa yang lebih muda merasa takjub karena usia profesor mereka hampir sama.

Sementara itu, mahasiswa yang lebih tua terkadang bergurau mengenai usia Thomas. Mereka bercanda bahwa usia Thomas cukup muda untuk menjadi anak mereka. Namun, Thomas tetap menjalankan tugas mengajar seperti biasa. Ia tidak membiarkan perbedaan usia mengganggu proses pembelajaran.

Baca Juga :  PIP Juni 2026 Mulai Disalurkan, Begini Cara Cek Nama Penerima dan Besaran Dananya

Thomas Mengajar Sambil Kuliah Hukum

Dikutip detikINET dari VNExpress, Thomas menyusun metode perkuliahan secara kolaboratif. Ia menerapkan pendekatan tersebut dalam proses mengajar mahasiswa. Menurut Thomas, pengalaman paling berharga muncul ketika mahasiswa memahami konsep sulit. Karena itu, ia menikmati momen ketika mahasiswa akhirnya memahami materi.

Saat ini, Thomas mengajar secara online sembari menjalani kuliah hukum. Ia menempuh pendidikan tersebut di University of Miami School of Law. Selanjutnya, Thomas berencana mengambil spesialisasi hukum kekayaan intelektual. Ia ingin memusatkan bidang tersebut pada hal-hal yang berkaitan dengan STEM.

Di luar kegiatan akademik, Thomas juga memiliki sejumlah kegemaran. Ia menyukai basket, tenis, dan golf. Selain itu, ia menikmati permainan piano klasik. Berbagai kegiatan tersebut melengkapi rutinitas akademiknya.

Meski meraih pencapaian besar sejak muda, Thomas mengajak orang lain fokus pada perjalanan masing-masing. Ia meminta orang lain tidak terus membandingkan pencapaian mereka. Menurutnya, setiap orang perlu menemukan jalur yang sesuai dengan dirinya. Selain itu, konsistensi dapat membantu seseorang mencapai tujuan.

“Menurut pendapat saya, jauh lebih baik menemukan apa yang benar-benar cocok untuk Anda dan konsisten dengannya, bahkan ketika terasa lambat. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi saya benar-benar percaya semua itu akan datang seiring berjalannya waktu jika Anda terus berjuang dan berusaha keras,” pungkasnya.

Perjalanan Thomas memperlihatkan konsistensi dalam pendidikan sejak usia dini. Namun, ia tetap mengajak orang lain menjalani proses sesuai kemampuan masing-masing. Baginya, seseorang tidak perlu mengejar pencapaian orang lain. Ia percaya usaha konsisten dan kerja keras akan membawa hasil. (iD/*)

Berita Terkait

Daftar 10 Negara dengan Sistem Pendidikan Terburuk di Dunia, Bagaimana Posisi Indonesia?
5 Negara yang Berencana Pindahkan Ibu Kota, Indonesia Salah Satunya
2 Negara dengan Program Makan Bergizi Gratis Terbaik di Dunia, Sudah Berjalan Puluhan Tahun
Indonesia Masuk 10 Besar Destinasi Wisata Kuliner Terbaik Dunia 2026, Ungguli Thailand hingga Singapura
University of Silicon Valley di AS Buka Beasiswa Khusus Gamers 2026, Tertarik Mendaftar?
10 Negara Ini Tidak Memungut Pajak Penghasilan Pribadi dari Warganya, Bagaimana dengan Indonesia?
Tarif Baru Trump untuk 60 Negara Resmi Berlaku, Indonesia Kena 10%
Final Piala Dunia 2026 Berakhir Ricuh, Suporter Argentina Bentrok dengan Polisi
Berita ini 9 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 3 Agustus 2026 - 23:00 WIB

Remaja Ini Pecahkan Rekor 300 Tahun, Kini Jadi Profesor Termuda Dunia

Minggu, 2 Agustus 2026 - 09:00 WIB

Daftar 10 Negara dengan Sistem Pendidikan Terburuk di Dunia, Bagaimana Posisi Indonesia?

Minggu, 2 Agustus 2026 - 07:00 WIB

5 Negara yang Berencana Pindahkan Ibu Kota, Indonesia Salah Satunya

Rabu, 29 Juli 2026 - 17:00 WIB

2 Negara dengan Program Makan Bergizi Gratis Terbaik di Dunia, Sudah Berjalan Puluhan Tahun

Selasa, 28 Juli 2026 - 07:00 WIB

Indonesia Masuk 10 Besar Destinasi Wisata Kuliner Terbaik Dunia 2026, Ungguli Thailand hingga Singapura

Berita Terbaru