Petani Rugi Besar Gara-Gara AI, 10 Hektar Bibit Wijen Mati

Mengikuti saran chatbot, petani 67 tahun itu kehilangan seluruh bibit wijen di lahan seluas 10 hektar.

- Jurnalis

Sabtu, 15 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Petani Rugi Besar Gara-Gara AI, 10 Hektar Bibit Wijen Mati. (Foto: mundus-agri)

Petani Rugi Besar Gara-Gara AI, 10 Hektar Bibit Wijen Mati. (Foto: mundus-agri)

Intiperistiwa.com – Seorang petani berusia 67 tahun di Chuzhou, China, mengalami kerugian besar setelah mengikuti saran chatbot AI. Ia menggunakan aplikasi tersebut untuk mencari cara mengendalikan gulma dan hama di lahannya. Namun, saran tersebut justru membuat seluruh bibit wijennya mati. Lahan pembibitan wijen itu memiliki luas 10 hektar.

Berdasarkan laporan CTWANT, petani tersebut mendapat instruksi penggunaan campuran beberapa bahan kimia. Campuran itu terdiri dari high-efficiency flupyrimethalin, flusulfasulfaether, thiamethoxazine, dan methyl salt. Petani tersebut kemudian mengikuti instruksi tanpa memeriksa kembali tingkat keamanannya. Setelah itu, ia mencampur seluruh bahan lalu menyemprotkannya ke seluruh area ladang.

Keesokan paginya, petani tersebut melihat kondisi tanamannya. Seluruh bibit wijen di lahannya sudah mati akibat paparan bahan kimia. Ia kemudian kembali membuka chatbot AI untuk mencari penyebab kejadian tersebut. Dari percakapan itu, AI menjelaskan bahwa penggunaan flusulfasulfaether menjadi penyebabnya.

Mengapa Bibit Wijen Bisa Mati?

Flusulfasulfaether merupakan herbisida yang dirancang untuk membasmi gulma berdaun lebar. Bahan tersebut digunakan pada ladang kedelai untuk mengendalikan gulma. Namun, tanaman wijen juga masuk klasifikasi tanaman berdaun lebar secara botani. Karena itu, bahan tersebut ikut membasmi bibit wijen yang terkena semprotan.

Baca Juga :  Harga GPU Nvidia Meroket, RTX Pro 6000 Kini Tembus Rp285 Juta

Selain itu, chatbot menjelaskan cara penggunaan flusulfasulfaether yang tepat. Pengguna seharusnya menyemprotkan bahan tersebut langsung pada area gulma yang terdampak. Petani itu justru menyebarkan campuran bahan kimia ke seluruh penjuru ladang. Akibatnya, seluruh bibit wijen ikut terkena bahan tersebut.

Petani tersebut mengaku marah karena AI tidak memberikan peringatan sejak awal. Menurutnya, aplikasi tersebut tidak menjelaskan bahaya dari saran yang diberikan. Ironisnya, ia sempat meragukan aplikasi AI ketika pertama kali menggunakannya. Namun, beberapa saran sebelumnya terbukti membantu sehingga ia akhirnya memberikan kepercayaan penuh.

Risiko Mengikuti Jawaban AI Mentah-Mentah

Kasus tersebut menunjukkan risiko ketika pengguna langsung mengikuti jawaban AI tanpa pemeriksaan tambahan. Sistem chatbot tidak selalu memahami konteks dunia nyata secara menyeluruh. Selain itu, AI dapat membuat kesalahan atau salah memahami detail tertentu. Sistem juga dapat mengandalkan potongan informasi yang tidak lengkap saat menyusun jawaban.

Peringatan mengenai kemungkinan kesalahan juga tercantum pada layanan ChatGPT. AI dapat memberikan informasi keliru karena salah memahami konteks atau menggunakan informasi yang tidak lengkap. Karena itu, pengguna perlu memeriksa kembali jawaban chatbot. Terutama, pengguna harus berhati-hati saat menggunakan informasi untuk persoalan yang memiliki risiko besar.

Baca Juga :  6 Drama China Terbaru Juli 2026 yang Wajib Ditonton, Dibintangi Esther Yu hingga Zhang Linghe

Kasus petani di China tersebut menambah daftar kerugian akibat pengguna terlalu percaya kepada AI. Tahun lalu, seorang pria berusia 60 tahun juga mengalami bromism. Kondisi tersebut merupakan keracunan bromida kronis setelah ia mencari alternatif garam dapur. Ia kemudian mengikuti saran chatbot mengenai zat pengganti garam.

ChatGPT Pernah Salah Menyarankan Sodium Bromide

Pria tersebut bertanya kepada ChatGPT mengenai zat pengganti garam untuk kebutuhan dietnya. Chatbot kemudian menyarankan sodium bromide sebagai salah satu alternatif. Zat tersebut memang dapat digunakan untuk keperluan tertentu, termasuk proses pembersihan. Namun, sodium bromide bersifat beracun jika seseorang mengonsumsinya sebagai makanan.

Akibatnya, pria tersebut mengalami bromism atau keracunan bromida kronis. Kondisi tersebut bahkan tercatat sebagai kelainan psikiatris langka. Kelainan tersebut jarang ditemukan sejak abad ke-19. Informasi itu dikutip detikINET dari Techspot pada Rabu (12/8/2026).

Dengan demikian, pengguna perlu menyikapi jawaban AI secara lebih hati-hati. Jawaban chatbot tidak selalu mencerminkan kondisi nyata atau kebutuhan spesifik pengguna. Karena itu, pemeriksaan informasi menjadi penting sebelum seseorang mengambil tindakan. Kasus petani tersebut menunjukkan dampak serius ketika seseorang terlalu percaya pada AI. (iD/*)

Berita Terkait

Waspada! Malware Hirudo Mengincar Aplikasi M-Banking, Bisa Curi PIN dan Kuras Saldo Rekening
Lupa Alamat Gmail? Ini 3 Cara Melihat Email Sendiri di HP
Badan Intelijen Bagikan Tips agar HP Tak Dibajak, Rekening Tak Dikuras
151 Hadiah Kendaraan Menanti! Telkomsel Gelar Undian Bagi-Bagi Bahagia, Ini Cara Ikutnya
Komdigi Soroti Kuota Internet Hangus, Ini Skema Perlindungan dari Telkomsel, Indosat, dan XLSMART
Penemu Roket Berbahan Bakar Cair Pertama dan Sejarah Lahirnya Roket Modern
Chat Tak Lagi Harus Instan, Aplikasi Pesan Lambat dengan Merpati Digital Mulai Dilirik Gen Z
Cara Nonton Video di Yandex Tanpa VPN, Ini Panduan dan Tips Amannya
Berita ini 19 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 22:00 WIB

Waspada! Malware Hirudo Mengincar Aplikasi M-Banking, Bisa Curi PIN dan Kuras Saldo Rekening

Selasa, 20 Oktober 2026 - 16:00 WIB

Lupa Alamat Gmail? Ini 3 Cara Melihat Email Sendiri di HP

Minggu, 18 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Badan Intelijen Bagikan Tips agar HP Tak Dibajak, Rekening Tak Dikuras

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 21:00 WIB

151 Hadiah Kendaraan Menanti! Telkomsel Gelar Undian Bagi-Bagi Bahagia, Ini Cara Ikutnya

Kamis, 15 Oktober 2026 - 22:00 WIB

Komdigi Soroti Kuota Internet Hangus, Ini Skema Perlindungan dari Telkomsel, Indosat, dan XLSMART

Berita Terbaru