Heart Aerospace X1 Akhirnya Mengudara, Pesawat Listrik Terbesar Dunia Sukses Terbang Perdana

X1 terbang selama 27 menit dengan baterai dan membuka jalan menuju pengembangan pesawat hibrida listrik ES-30.

- Jurnalis

Minggu, 23 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Heart Aerospace X1 Akhirnya Mengudara, Pesawat Listrik Terbesar Dunia Sukses Terbang Perdana. (Foto: Heart Aerospace/metrotvnews)

Heart Aerospace X1 Akhirnya Mengudara, Pesawat Listrik Terbesar Dunia Sukses Terbang Perdana. (Foto: Heart Aerospace/metrotvnews)

Intiperistiwa.com – Heart Aerospace sukses menerbangkan X1, pesawat bertenaga baterai terbesar di dunia. X1 memiliki rentang sayap 32,3 meter dan panjang 23,1 meter. Selain itu, bobot pesawat tersebut kira-kira menyamai sebuah bus sekolah kosong. Heart Aerospace merancang X1 dengan kapasitas sebanyak 30 kursi.

Pesawat itu lepas landas dari bandara regional di utara New York. X1 kemudian terbang selama 27 menit dengan tenaga baterai. Selama penerbangan, pesawat mencapai ketinggian sekitar 335 meter. Namun, X1 hanya membawa seorang pilot tanpa penumpang pada penerbangan tersebut.

Uji coba tersebut menjadi bagian dari ambisi Heart Aerospace mengembangkan pesawat hibrida listrik ES-30. Perusahaan menargetkan ES-30 mulai beroperasi pada 2031. Sementara itu, United dan Air Canada sudah menunjukkan ketertarikan terhadap pesawat tersebut. Potensi biaya operasional lebih rendah menjadi salah satu daya tarik model itu.

X1 Buka Jalan Menuju Pesawat Hibrida ES-30

Pendiri sekaligus CEO Heart Aerospace, Anders Forslund, menyoroti arti penerbangan pertama tersebut. “Dengan penerbangan pertama X1, Heart Aerospace mendemonstrasikan penerbangan listrik pada skala pesawat komersial,” kata Forslund. Heart Aerospace mengawali perjalanannya di Gothenburg, Swedia. Namun, perusahaan memindahkan basisnya ke Los Angeles pada April 2025.

Pesawat bertenaga baterai menawarkan alternatif lebih bersih dibandingkan penggunaan bahan bakar jet. Sektor penerbangan menyumbang sekitar 2,5 persen emisi karbon dioksida global. Selain itu, pesawat juga menghasilkan emisi pemerangkap panas seperti nitrogen oksida. Karena itu, penerbangan listrik berpotensi membantu mengurangi sebagian emisi tersebut.

Teknologi listrik juga menawarkan peluang penghematan biaya bagi maskapai penerbangan. Pesawat listrik tidak membutuhkan bahan bakar fosil ketika mengandalkan baterai. Selain itu, motor listrik memiliki lebih sedikit komponen bergerak. Kondisi tersebut dapat menurunkan kebutuhan perawatan dan perbaikan.

Baca Juga :  TCL Masuk Pasar Monitor Gaming Premium, OLED+ Pro X3B Usung Layar 4K 240Hz dan Dual Mode 480Hz

Heart mengklaim ES-30 kelak memiliki biaya operasional 40 persen lebih rendah daripada pesawat konvensional sekelasnya. Perusahaan juga mengklaim seluruh uji terbang listrik penuh X1 hanya memakai listrik senilai USD 5. Namun, angka tersebut hanya mencakup biaya energi mentah. Perhitungan itu belum memasukkan seluruh biaya operasional pesawat.

Biaya kru dan bandara belum masuk dalam angka USD 5 tersebut. Selain itu, Heart belum memasukkan biaya perawatan dan penurunan kemampuan baterai. Berbagai pengeluaran operasional lainnya juga belum masuk dalam perhitungan. Karena itu, angka USD 5 tidak menggambarkan seluruh biaya penerbangan X1.

Bobot Baterai Masih Jadi Tantangan

Heart Aerospace bukan satu-satunya perusahaan yang mengembangkan pesawat listrik. Rolls-Royce juga membuat pesawat balap kecil dengan tenaga listrik penuh. Sementara itu, Harbour Air mengembangkan pesawat amfibi listrik dengan kapasitas enam kursi. Joby Aviation dan Archer Aviation juga membawa pesawat listrik VTOL menyerupai helikopter ke pasar.

Namun, produsen masih menghadapi tantangan besar untuk memperluas jangkauan pesawat listrik. Pesawat berukuran lebih besar membutuhkan baterai dengan kapasitas lebih besar. Sementara itu, baterai memiliki bobot tinggi dan dapat mengurangi kapasitas penumpang serta kargo. Karena itu, teknologi baterai masih membatasi pengembangan pesawat listrik untuk penerbangan regional.

Baterai juga mempertahankan berat yang sama sejak pesawat lepas landas hingga mendarat. Sebaliknya, pesawat konvensional semakin ringan ketika mesin menghabiskan bahan bakar. Kondisi tersebut membuat baterai tetap menjadi beban selama seluruh penerbangan. Akibatnya, produsen harus menyeimbangkan jangkauan, kapasitas penumpang, kargo, dan berat baterai.

Heart mencoba mengatasi keterbatasan tersebut melalui pendekatan hibrida pada ES-30. Dengan baterai saja, pesawat tersebut memiliki jarak tempuh maksimal sekitar 200 kilometer. Namun, jarak itu belum cukup untuk banyak perjalanan regional sekaligus cadangan daya darurat. Karena itu, Heart menambahkan mesin pembakaran untuk memperpanjang jangkauan.

Baca Juga :  ITB Kembangkan Teknologi Deteksi Kelelahan Masinis, Cegah Kecelakaan Kereta

Tambahan mesin pembakaran dapat memperluas jarak tempuh ES-30 hingga mendekati 800 kilometer. Jarak tersebut lebih dari cukup untuk penerbangan regional jarak pendek. Selain itu, sistem hibrida mengurangi ketergantungan penuh pada kemampuan baterai. Heart Aerospace berharap ES-30 mulai beroperasi pada 2031. (iD/*)


FAQ

Apa itu Heart Aerospace X1?

Heart Aerospace X1 merupakan pesawat bertenaga baterai dengan kapasitas rancangan 30 kursi. Pesawat ini memiliki rentang sayap 32,3 meter. Selain itu, panjang badan X1 mencapai 23,1 meter. Heart mengembangkan X1 sebagai bagian dari program menuju pesawat hibrida ES-30.

Berapa lama X1 terbang dalam penerbangan perdananya?

X1 terbang menggunakan tenaga baterai selama 27 menit. Pesawat tersebut mencapai ketinggian sekitar 335 meter. Namun, X1 tidak membawa penumpang dalam penerbangan itu. Hanya seorang pilot berada di dalam pesawat.

Benarkah uji terbang X1 hanya membutuhkan listrik USD 5?

Heart mengklaim seluruh uji terbang listrik penuh X1 memakai listrik senilai USD 5. Namun, angka tersebut hanya menghitung biaya energi mentah. Biaya kru, bandara, perawatan, serta penurunan kemampuan baterai belum masuk hitungan. Karena itu, USD 5 bukan total biaya operasional pesawat.

Berapa jarak tempuh pesawat ES-30?

ES-30 dapat menempuh sekitar 200 kilometer ketika hanya memakai tenaga baterai. Namun, Heart menambahkan mesin pembakaran untuk memperpanjang jangkauan. Dengan sistem hibrida, pesawat dapat menempuh jarak mendekati 800 kilometer. Heart menargetkan ES-30 mulai beroperasi pada 2031.

Berita Terkait

Rekomendasi Laptop Lenovo Tipis dan Ringan 2026, Cocok untuk Kerja, Kuliah, dan Mobilitas Tinggi
Huawei Pura 90s Pro Max Siap Masuk Indonesia, Kamera Telephoto 200 MP Bisa Zoom hingga 20x
Sinyal 5G Hilang Saat Masuk Rumah atau Gedung? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
Huawei Pura X View Resmi Meluncur dengan Desain Unik, Usung Layar Lebar Pertama di Dunia
Qualcomm Siapkan Snapdragon C untuk Laptop Murah, Performa Diklaim Lampaui Intel N250
Robot Superman Buatan China Makin Canggih, Bisa Lari 45,6 Km/Jam dan Lompat 2 Meter
Harga GPU Nvidia Meroket, RTX Pro 6000 Kini Tembus Rp285 Juta
Komdigi Minta Apple dan Google Hapus Aplikasi Hornet dari Indonesia, Ini Alasannya
Berita ini 7 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 21:00 WIB

Rekomendasi Laptop Lenovo Tipis dan Ringan 2026, Cocok untuk Kerja, Kuliah, dan Mobilitas Tinggi

Minggu, 23 Agustus 2026 - 11:00 WIB

Huawei Pura 90s Pro Max Siap Masuk Indonesia, Kamera Telephoto 200 MP Bisa Zoom hingga 20x

Minggu, 23 Agustus 2026 - 09:00 WIB

Heart Aerospace X1 Akhirnya Mengudara, Pesawat Listrik Terbesar Dunia Sukses Terbang Perdana

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 23:00 WIB

Sinyal 5G Hilang Saat Masuk Rumah atau Gedung? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 13:00 WIB

Huawei Pura X View Resmi Meluncur dengan Desain Unik, Usung Layar Lebar Pertama di Dunia

Berita Terbaru