BI Mendadak Naikkan Suku Bunga Menjadi 5,5 Persen, Ada Apa dengan Rupiah?

Bank Indonesia mengambil langkah cepat untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global.

- Jurnalis

Kamis, 11 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

BI Naikkan Suku Bunga Menjadi 5,5 Persen, Ada Apa dengan Rupiah?.(Foto: rri)

BI Naikkan Suku Bunga Menjadi 5,5 Persen, Ada Apa dengan Rupiah?.(Foto: rri)

Intiperistiwa.com – Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuan pada Juni 2026. Keputusan tersebut mengejutkan pelaku pasar karena di umumkan di luar jadwal rapat bulanan.

Melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) mingguan pada Selasa, 9 Juni 2026, Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin. Dengan penyesuaian itu, suku bunga acuan kini berada di level 5,5 persen.

Selain BI Rate, Bank Indonesia juga menaikkan suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility. Masing-masing instrumen naik 25 basis poin.

Karena itu, suku bunga Deposit Facility kini menjadi 4,5 persen. Sementara itu, Lending Facility meningkat menjadi 6,25 persen.

Rupiah Jadi Perhatian Utama

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menjelaskan alasan utama di balik kebijakan tersebut. Menurutnya, bank sentral perlu memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.

Selain itu, gejolak global masih memberi tekanan besar terhadap pasar keuangan. Kondisi tersebut semakin terasa setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

“Langkah ini merupakan lanjutan kebijakan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah,” ujar Perry.

Menurut Bank Indonesia, tekanan terhadap rupiah berlangsung lebih kuat dari perkiraan sebelumnya. Karena itu, otoritas moneter memandang perlu mengambil langkah tambahan.

Baca Juga :  Harga Emas Antam, UBS dan Galeri 24 Kembali Merosot, Cek Daftar Terbarunya

Menjaga Inflasi Tetap Terkendali

Selain menjaga kurs rupiah, Bank Indonesia juga berupaya mengendalikan inflasi. Kebijakan suku bunga yang lebih tinggi di harapkan mampu menjaga stabilitas harga dalam jangka menengah.

Bank sentral menargetkan inflasi tetap berada dalam kisaran 2,5 persen dengan toleransi satu persen. Target tersebut berlaku untuk periode 2026 hingga 2027.

Di sisi lain, kenaikan suku bunga juga bertujuan memperkuat daya tarik aset keuangan domestik. Dengan demikian, investor global memiliki alasan lebih besar untuk menempatkan dananya di Indonesia.

Perry menilai peningkatan imbal hasil dapat mendorong masuknya kembali investasi portofolio asing. Arus modal tersebut di nilai penting untuk memperkuat pasar keuangan nasional.

Tekanan Global Picu Arus Modal Keluar

Dalam evaluasi sejak RDG bulanan pada 19-20 Mei 2026, Bank Indonesia mencatat pelemahan rupiah yang cukup signifikan. Kondisi itu terjadi seiring berlanjutnya ketidakpastian ekonomi global.

Selain faktor eksternal, permintaan valuta asing di dalam negeri juga meningkat. Akibatnya, tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin besar.

Baca Juga :  Kode Redeem FF Terbaru 12 Juli 2026, Buruan Klaim Diamond, Bundle, dan Skin Gratis

Di saat yang sama, sebagian investor asing menarik dana dari pasar keuangan Indonesia. Arus keluar modal tersebut turut memperlemah pergerakan rupiah dalam beberapa pekan terakhir.

Karena itu, Bank Indonesia memilih memperkuat instrumen kebijakan moneter. Langkah tersebut di harapkan mampu menjaga stabilitas pasar dan meningkatkan kepercayaan investor.

RDG Mingguan Sesuai Ketentuan

Bank Indonesia menegaskan bahwa RDG mingguan bukan hal baru. Forum tersebut rutin berlangsung setiap hari Selasa sesuai ketentuan yang berlaku.

Melalui rapat itu, Bank Indonesia mengevaluasi pelaksanaan berbagai kebijakan yang telah di putuskan dalam RDG bulanan. Hasil evaluasi kemudian menjadi dasar pengambilan langkah lanjutan apabila di perlukan.

Menurut Perry, kebijakan terbaru ini tidak hanya berfokus pada stabilitas rupiah. Bank Indonesia juga ingin menjaga ketahanan sektor eksternal ekonomi nasional.

Selain itu, otoritas moneter berharap kebijakan tersebut mampu mendukung stabilitas makroekonomi. Dengan kondisi yang lebih terjaga, ekonomi Indonesia di harapkan tetap mampu menghadapi tekanan global yang masih berlangsung.(id/*)

Berita Terkait

Harga Emas Antam Hari Ini 23 Juli 2026 Naik Tajam, Buyback Pegadaian Ikut Melonjak
Promo Indomaret Hari Ini 18 Juli 2026, Minyak Goreng hingga Produk Segar Diskon Besar
Kabar Baik! Pertamina Turunkan Harga Bright Gas 5,5 Kg dan 12 Kg
Cara Cek PKH Juli 2026 Online Lewat Website dan Aplikasi, Cukup Pakai NIK
Cara Cek Desil Kemensos Juli 2026 Lewat Web Online, Ketahui Status Penerima PKH, BPNT, dan BPJS PBI
Harga Minyak Dunia Melonjak, Ketegangan Iran-AS Kembali Picu Kekhawatiran Pasokan
PKH Tahap 3 Juli 2026 Mulai Cair, Cek Jadwal, Nominal Bantuan, dan Status Penerima
Nilai Tukar Rupiah Kembali Melemah, Dolar AS Terus Menguat
Berita ini 6 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Kamis, 23 Juli 2026 - 14:00 WIB

Harga Emas Antam Hari Ini 23 Juli 2026 Naik Tajam, Buyback Pegadaian Ikut Melonjak

Sabtu, 18 Juli 2026 - 15:00 WIB

Promo Indomaret Hari Ini 18 Juli 2026, Minyak Goreng hingga Produk Segar Diskon Besar

Rabu, 15 Juli 2026 - 19:00 WIB

Kabar Baik! Pertamina Turunkan Harga Bright Gas 5,5 Kg dan 12 Kg

Rabu, 15 Juli 2026 - 09:00 WIB

Cara Cek PKH Juli 2026 Online Lewat Website dan Aplikasi, Cukup Pakai NIK

Selasa, 14 Juli 2026 - 07:00 WIB

Cara Cek Desil Kemensos Juli 2026 Lewat Web Online, Ketahui Status Penerima PKH, BPNT, dan BPJS PBI

Berita Terbaru