Intiperistiwa.com – Tekanan pikiran atau stres dapat memengaruhi pola makan seseorang dengan cara berbeda. Sebagian orang kehilangan nafsu makan ketika menghadapi beban pikiran. Namun, sebagian lainnya justru melampiaskan emosi dengan terus makan atau mengalami stress eating. Akibatnya, stres bikin berat badan naik dan angkanya bahkan dapat melonjak hingga puluhan kilogram.
Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menjelaskan bahwa pelampiasan emosi melalui makanan cukup sering terjadi. Dokter yang akrab dengan sapaan dr Yaze itu menyoroti kenaikan berat badan dalam jumlah besar. Menurutnya, kenaikan hingga puluhan kilogram menjadi alarm bahaya bagi kesehatan tubuh. Bahkan, ia tetap menilai kondisi tersebut berbahaya meski kenaikan berlangsung selama setahun.
“Yang bahaya adalah yang makan terus sampai naik 30 kg. Mau dalam waktu sebulan itu banyak banget, atau dalam waktu setahun pun ini tetap bahaya banget,” ujar dr Yaze dalam live TikTok detikHealth, Kamis (20/8/2026).
Dr Yaze kemudian menyoroti dampak kenaikan berat badan drastis terhadap peradangan tubuh. Menurutnya, kondisi tersebut dapat meningkatkan tingkat inflamasi. Selain itu, kenaikan berat badan berlebihan juga berkaitan dengan perubahan pada sel lemak. Ia pun mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap kenaikan drastis sebagai kondisi ringan.
“Karena berat badan yang naik drastis ini menyebabkan tingkat inflamasi (peradangan) dalam tubuh jadi tinggi,” tambahnya.
Memori Sel Lemak Bisa Membuat Diet Lebih Sulit
Selain meningkatkan peradangan, dr Yaze mengingatkan tentang fenomena yang ia sebut sebagai “memori sel lemak”. Ketika berat badan naik cepat, sel lemak merekam ukuran yang lebih besar. Menurutnya, sel tersebut juga mengingat kebiasaan tubuh menerima asupan kalori berlimpah. Karena itu, seseorang dapat menghadapi tantangan lebih besar ketika mulai mengurangi asupan.
Saat seseorang menjalani diet, dr Yaze menyebut sel lemak dapat mendorong tubuh kembali pada pola makan sebelumnya. Kondisi tersebut kemudian dapat memicu efek yoyo. Berat badan akhirnya lebih mudah naik kembali setelah sempat turun. Selain itu, keinginan terhadap makanan berkalori tinggi juga dapat muncul kembali.
“Sel lemak kamu ini punya memori dan dia akan memaksa kamu untuk balik lagi ke makanan-makanan enak. Dia mikirnya, ‘yang kemarin makanannya banyak dan enak, kok sekarang malah dikurangin?’ Nah, ini yang bikin kamu jadinya susah untuk turun berat badan,” terang dr Yaze.
Ukuran sel lemak yang membesar akibat stress eating juga dapat menyulitkan sirkulasi oksigen pada jaringan tubuh. Dr Yaze kemudian menekankan pentingnya konsistensi ketika seseorang mengubah gaya hidup. Menurutnya, seseorang perlu menjalani gaya hidup sehat setidaknya selama enam bulan. Konsistensi tersebut membantu mengatur ulang “memori” sel lemak agar tubuh tidak kembali pada ukuran sebelumnya.
Mindful Eating untuk Mengendalikan Stress Eating
Dr Yaze menegaskan bahwa setiap manusia dapat mengalami stres. Namun, seseorang perlu mengendalikan respons tubuh ketika menghadapi tekanan tersebut. Karena itu, ia menyarankan mindful eating atau makan dengan kesadaran penuh. Pendekatan ini membantu seseorang memilih makanan dengan lebih terkontrol ketika stres muncul.
Alih-alih memilih gorengan, makanan bertepung, atau makanan tinggi gula, dr Yaze menyarankan pilihan yang lebih sehat. Selain itu, seseorang dapat menyesuaikan makanan berdasarkan rasa atau tekstur yang sedang mereka inginkan. Ia memberikan beberapa contoh pengganti sederhana untuk mengendalikan dorongan makan. Berikut pilihan yang ia sarankan:
- Saat ingin makanan manis: pilih potongan buah segar.
- Saat ingin makanan gurih atau segar: pilih yogurt atau makanan tinggi protein.
- Saat ingin makanan renyah: olah bahan makanan sehat memakai air fryer agar tetap renyah dengan sedikit minyak.
Pilihan makanan tersebut membantu seseorang mengalihkan keinginan tanpa terus mengandalkan makanan tinggi gula atau minyak. Selain itu, dr Yaze menekankan kesadaran saat memilih makanan ketika stres datang. Menurutnya, stres sendiri merupakan kondisi yang wajar. Namun, seseorang tetap perlu mengatur respons terhadap stres melalui pilihan makanan yang lebih baik.
“Jadi kalau stres itu wajar, tapi untuk makanan, ketika stres kita mulai mindful eating. Ganti asupannya ke pilihan yang lebih sehat,” pungkas dr Yaze.
Stress eating dapat membuat seseorang terus makan ketika menghadapi tekanan pikiran. Karena itu, dr Yaze mengingatkan bahaya kenaikan berat badan hingga puluhan kilogram. Selain itu, ia menekankan konsistensi gaya hidup sehat dan penerapan mindful eating. Pilihan makanan yang lebih sehat dapat membantu mengendalikan respons makan ketika stres muncul. (iD/*)
FAQ
Apa itu stress eating?
Stress eating merupakan kebiasaan melampiaskan tekanan atau emosi melalui makanan. Sebagian orang dapat makan lebih banyak ketika mengalami stres. Selain itu, mereka mungkin lebih tertarik pada makanan manis, berlemak, atau bertepung. Kebiasaan tersebut dapat mendorong kenaikan berat badan jika berlangsung terus-menerus.
Mengapa stres bisa membuat berat badan naik?
Stres dapat mengubah pola makan dan mendorong sebagian orang untuk terus makan. Akibatnya, asupan kalori dapat meningkat dalam jumlah besar. Selain itu, kebiasaan tersebut dapat memicu kenaikan berat badan secara drastis. Dr Yaze juga mengaitkan kondisi itu dengan peningkatan peradangan tubuh.
Apa yang dimaksud memori sel lemak?
Dr Yaze memakai istilah “memori sel lemak” untuk menjelaskan respons tubuh setelah berat badan naik drastis. Menurutnya, sel lemak mengingat ukuran besar dan kebiasaan asupan kalori sebelumnya. Karena itu, tubuh dapat mendorong seseorang kembali pada pola makan lama. Kondisi tersebut juga dapat membuat berat badan lebih mudah naik kembali.
Bagaimana cara menerapkan mindful eating saat stres?
Seseorang perlu menyadari dorongan makan yang muncul ketika mengalami stres. Selanjutnya, mereka dapat mengganti makanan tinggi gula atau minyak dengan pilihan lebih sehat. Buah segar, yogurt, dan makanan tinggi protein menjadi beberapa contoh. Selain itu, bahan sehat dapat diolah dengan air fryer ketika menginginkan tekstur renyah.











Komentar