Intiperistiwa.com – Popularitas lagu “Mas Bahlil Ganteng” ternyata tidak hanya ramai di Indonesia. Bahkan, media ternama Singapura turut menyoroti fenomena tersebut karena penyebarannya yang begitu masif di media sosial.
Media Singapura The Straits Times mengulas lagu tersebut dalam artikel berjudul Indonesia’s Latest AI-Generated Earworm Is an Ode to Its Energy Minister. Dalam laporannya, media itu menilai lagu yang dibuat dengan teknologi kecerdasan buatan atau AI tersebut berhasil menarik perhatian publik Indonesia dalam waktu singkat.
Sejak pertengahan Mei 2026, lagu itu terus bermunculan di berbagai platform digital. Mulai dari TikTok, Instagram, hingga grup WhatsApp, pengguna internet membagikan beragam versi kreatif yang membuat popularitasnya semakin meluas.
Bermunculan dalam Berbagai Versi Kreatif
The Straits Times mencatat bahwa lagu “Mas Bahlil Ganteng” memicu lahirnya banyak konten turunan. Pengguna media sosial membuat video tarian, animasi kartun, hingga remix dengan berbagai gaya musik.
Selain itu, sejumlah kreator juga menghadirkan versi berbahasa Inggris dan Mandarin. Sementara itu, pengguna lainnya membuat cover biola, aransemen ska, hingga versi a cappella yang ikut memperkaya variasi konten tersebut.
Fenomena itu menunjukkan bagaimana sebuah karya berbasis AI dapat berkembang melalui kreativitas komunitas digital. Karena itu, lagu tersebut terus beredar dan menjangkau audiens yang lebih luas.
Berawal dari Istilah MBG
Dalam ulasannya, The Straits Times menyebut lagu viral tersebut memiliki kaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut media tersebut, sejumlah pengguna internet kemudian mengubah singkatan MBG menjadi “Mas Bahlil Ganteng”. Dari situlah istilah tersebut berkembang menjadi bahan candaan yang kemudian melahirkan lagu viral.
Meski demikian, hingga kini belum ada informasi pasti mengenai sosok yang pertama kali menciptakan lagu tersebut. Namun, The Straits Times menegaskan bahwa lagu itu tidak muncul dari kampanye politik maupun iklan politik.
Sebaliknya, lagu tersebut diduga lahir dari berbagai komentar warganet mengenai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia. Selanjutnya, teknologi AI menyusun komentar-komentar tersebut menjadi lirik yang dipadukan dengan melodi digital.
Cerminan Gaya Politik Digital Indonesia
Lebih jauh, The Straits Times menilai fenomena “Mas Bahlil Ganteng” tidak sekadar membahas sosok Bahlil Lahadalia. Media itu melihat fenomena tersebut sebagai gambaran khas cara masyarakat Indonesia membicarakan isu politik.
Menurut ulasan tersebut, publik Indonesia kerap mengemas topik politik yang serius melalui humor, budaya populer, serta bahasa internet yang mudah diterima berbagai kalangan. Karena itu, konten politik sering berkembang dalam bentuk yang ringan dan menghibur.
Fenomena “Mas Bahlil Ganteng” pun memperlihatkan bagaimana teknologi AI, kreativitas digital, dan budaya internet dapat berpadu menjadi perbincangan nasional. Bahkan, gaungnya kini mulai menarik perhatian media internasional. (id/*)










Komentar