Satelit Pemantul Cahaya Matahari Picu Kontroversi, Astronom Mulai Khawatir

Teknologi baru Reflect Orbital mendapat sorotan karena berpotensi mengganggu astronomi dan lingkungan malam.

- Jurnalis

Senin, 17 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Satelit Pemantul Cahaya Matahari Picu Kontroversi, Astronom Mulai Khawatir. (Foto: Planet/achmadnurhidayat)

Satelit Pemantul Cahaya Matahari Picu Kontroversi, Astronom Mulai Khawatir. (Foto: Planet/achmadnurhidayat)

Intiperistiwa.com — Federal Communications Commission (FCC) Amerika Serikat menyetujui satelit eksperimental bulan lalu. Startup Reflect Orbital mengembangkan satelit tersebut untuk memantulkan cahaya Matahari menuju Bumi. Teknologi itu akan menerangi lokasi tertentu pada malam hari bagi pelanggan berbayar. Namun, rencana tersebut memicu kekhawatiran dari berbagai pihak.

Reflect Orbital menargetkan teknologi tersebut untuk mendukung pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Dengan pantulan cahaya, PLTS dapat terus menghasilkan listrik setelah malam tiba. Selain itu, sistem tersebut dapat menyediakan penerangan dalam kondisi darurat. Meski begitu, teknologi tersebut juga membawa sejumlah risiko.

Astronom Khawatir Pengamatan Langit Terganggu

Salah satu masalah utama berkaitan dengan tingkat kecerahan satelit tersebut. Cahaya satelit yang sangat terang dapat mengganggu pengamatan luar angkasa. Karena itu, para astronom menyambut rencana tersebut dengan kekhawatiran. FCC bahkan menerima hampir 2.000 komentar publik yang mengkritik proposal tersebut.

Dampaknya tidak hanya menyentuh astronom profesional. Astronom amatir juga menghadapi risiko jika mereka melihat satelit cermin tersebut tanpa sengaja. Bahkan, teleskop berukuran 12 inci dapat memperbesar risiko kerusakan mata. Teleskop itu sendiri umum digunakan oleh para penggemar astronomi.

Paparan cahaya satelit tersebut bahkan dapat menyebabkan kerusakan mata permanen. Risiko semacam itu sebenarnya sudah muncul dalam pembahasan teknologi serupa. Penelitian tahun 2000 dari Royal Astronomical Society of Canada membahas risiko tersebut. Penelitian itu mengulas prototipe satelit cermin Rusia bernama Znamya.

Znamya Pernah Menjadi Eksperimen Serupa

Rusia meluncurkan dua satelit cermin eksperimental Znamya pada dekade 1990-an. Namun, Rusia kemudian menghentikan program tersebut. Menurut penelitian itu, paparan Znamya dapat menyebabkan kerusakan mata. Tingkat kerusakannya setara dengan melihat Matahari saat gerhana total.

Baca Juga :  Thailand memastikan tiket semifinal Piala AFF U-19 2026 usai menaklukkan Malaysia 3-2

Karena itu, sejumlah kritikus sudah memperingatkan regulator mengenai risiko kerusakan mata. Namun, pertimbangan tersebut tidak menjadi faktor utama dalam pemberian izin. Regulator menilai manfaat pengujian teknologi inovatif lebih penting. Kebijakan itu membuka peluang perusahaan Amerika mengembangkan teknologi luar angkasa tersebut.

The Verge juga menyoroti persoalan lain dalam rencana satelit cermin tersebut. Para astronom tidak akan menerima peringatan mengenai waktu lintasan satelit. Mereka juga tidak mengetahui lokasi satelit saat melintasi langit malam. Akibatnya, astronom dapat melihat cahaya satelit tersebut secara tidak sengaja.

Reflect Orbital Berdiskusi dengan Sejumlah Pihak

Juru bicara Reflect Orbital, Christopher Buscombe, memberikan tanggapan terkait rencana tersebut. Menurutnya, perusahaan aktif berdiskusi dengan berbagai pihak. Mereka mencakup ilmuwan, astronom, peneliti lingkungan, dan pemangku kepentingan lainnya. Diskusi tersebut membahas rencana pengembangan teknologi satelit.

Kekhawatiran juga datang dari The Air Line Pilots Association (ALPA). Organisasi tersebut menyoroti pendekatan Reflect Orbital terhadap keselamatan lalu lintas udara. Selain itu, satelit tersebut berpotensi mengganggu pola tidur sejumlah spesies. Dampak tersebut berkaitan dengan ritme sirkadian spesies yang bermigrasi.

Para presiden beberapa asosiasi kronobiologi internasional turut menyampaikan kekhawatiran. Mereka menilai penempatan satelit dapat mengubah kondisi cahaya malam alami. Perubahan tersebut dapat terjadi dalam skala yang sangat luas.

“Skala penempatan orbit yang diusulkan akan menyebabkan perubahan signifikan pada lingkungan cahaya malam alami dalam skala planet,” ungkap para presiden dari beberapa asosiasi kronobiologi internasional dalam pernyataan bersama, dikutip detikINET dari Futurism.

Jumlah Satelit di Orbit Terus Bertambah

Secara umum, keberadaan satelit kini menjadi topik yang semakin kontroversial. Jumlah wahana antariksa di orbit rendah Bumi meningkat selama dekade terakhir. Banyak wahana tersebut beroperasi pada ketinggian yang lebih rendah. Kondisi itu membuat cahaya satelit terlihat jauh lebih terang dari Bumi.

Baca Juga :  Pendaftaran Duta DPD RI 2026 Resmi Dibuka, Simak Syarat, Jadwal, dan Cara Daftarnya

Perkembangan tersebut juga memunculkan kekhawatiran terhadap kondisi langit malam. Wakil Direktur Eksekutif Royal Astronomical Society, Robert Massey, turut menyampaikan pandangannya. Ia menyebut bintang sebagai bagian penting dari warisan umat manusia. Menurutnya, jumlah satelit yang sangat terang dapat mengubah lanskap alam tersebut.

“Bintang-bintang di atas kita adalah bagian berharga dari warisan umat manusia. Menempatkan lebih dari sejuta satelit sangat terang akan benar-benar menghancurkan warisan ini dan meninggalkan luka permanen pada lanskap alam kita,” cetus Wakil Direktur Eksekutif Royal Astronomical Society, Robert Massey.

Perdebatan mengenai satelit pemantul cahaya kini mencakup berbagai aspek. Astronomi, kesehatan mata, keselamatan penerbangan, dan lingkungan malam menjadi perhatian. Di sisi lain, teknologi tersebut memiliki tujuan mendukung PLTS dan penerangan darurat. Perkembangan teknologi satelit pun terus memunculkan perhatian dari berbagai pihak.(iD/*)

Berita Terkait

Samsung Galaxy S26 FE Segera Hadir, Ini Bocoran Spesifikasi Lengkapnya
Hati-Hati! Celah Keamanan Zoom Bisa Dimanfaatkan Hacker untuk Curi Data dan Pasang Malware
Redmagic 11S Pro Resmi Hadir di Indonesia, Bawa Baterai 7.500 mAh dan Kipas 24.000 RPM
Google Pixel 11 Pro Resmi Meluncur, Layar 3.600 Nits dan Kamera Makin Canggih
Ilmuwan Temukan Planet Berlian di Luar Angkasa, Ternyata Bukan Planet Biasa
UGM Kembangkan Riset AI untuk Skrining Kanker Serviks, Sampel Urine Jadi Salah Satu Gagasan
Petani Rugi Besar Gara-Gara AI, 10 Hektar Bibit Wijen Mati
Ingin Tinggal di Bawah Laut Ala Bikini Bottom? Startup Ini Siapkan Habitatnya
Berita ini 6 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 17:00 WIB

Samsung Galaxy S26 FE Segera Hadir, Ini Bocoran Spesifikasi Lengkapnya

Senin, 17 Agustus 2026 - 15:00 WIB

Satelit Pemantul Cahaya Matahari Picu Kontroversi, Astronom Mulai Khawatir

Senin, 17 Agustus 2026 - 13:00 WIB

Hati-Hati! Celah Keamanan Zoom Bisa Dimanfaatkan Hacker untuk Curi Data dan Pasang Malware

Minggu, 16 Agustus 2026 - 21:00 WIB

Redmagic 11S Pro Resmi Hadir di Indonesia, Bawa Baterai 7.500 mAh dan Kipas 24.000 RPM

Minggu, 16 Agustus 2026 - 17:00 WIB

Google Pixel 11 Pro Resmi Meluncur, Layar 3.600 Nits dan Kamera Makin Canggih

Berita Terbaru