Pasta Gigi SLS atau Non-SLS, Mana yang Lebih Baik untuk Gigi dan Mulut?

Banyak busa bukan ukuran kebersihan, sementara fluoride tetap menjadi kandungan penting dalam pasta gigi.

- Jurnalis

Kamis, 10 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pasta Gigi SLS atau Non-SLS, Mana yang Lebih Baik untuk Gigi dan Mulut? (Gambar: Ilustrasi AI)

Pasta Gigi SLS atau Non-SLS, Mana yang Lebih Baik untuk Gigi dan Mulut? (Gambar: Ilustrasi AI)

Intiperistiwa.com – Perdebatan mengenai pasta gigi SLS atau Non-SLS sering membuat masyarakat bingung menentukan pilihan. Beragam informasi bahkan memunculkan anggapan bahwa salah satu jenis selalu lebih baik. Namun, jawabannya tidak sesederhana menganggap SLS buruk dan Non-SLS lebih unggul. Sebab, kondisi mulut dan kenyamanan setiap orang dapat memengaruhi pilihan pasta gigi.

Kedua jenis pasta gigi memiliki formulasi yang berbeda. Selain itu, jumlah busa pada pasta gigi tidak menentukan tingkat kebersihan gigi. Gerakan menyikat membersihkan permukaan gigi secara mekanis. Sementara itu, bahan aktif seperti fluoride membantu memberikan perlindungan terhadap karies.

Pasta Gigi SLS atau Non-SLS, Apa Perbedaannya?

Sodium Lauryl Sulfate atau SLS merupakan surfaktan yang membantu membentuk busa saat seseorang menyikat gigi. Zat tersebut juga membantu menyebarkan bahan aktif secara merata. Karena itu, pasta gigi yang mengandung SLS biasanya menghasilkan busa lebih banyak. Namun, busa yang melimpah tidak otomatis membuat proses pembersihan gigi menjadi lebih efektif.

Gerakan sikat tetap memegang peran penting dalam membersihkan permukaan gigi. Di sisi lain, fluoride membantu melindungi gigi dari karies. Karena itu, pasta gigi berbusa banyak belum tentu bekerja lebih baik. Sebaliknya, busa yang sedikit juga tidak menunjukkan bahwa pasta gigi kurang efektif.

Apa Itu Pasta Gigi Non-SLS?

Pasta gigi Non-SLS tidak menggunakan Sodium Lauryl Sulfate dalam formulanya. Namun, produk tersebut tidak selalu berarti bebas busa. Produsen masih dapat menggunakan surfaktan lain, termasuk cocoamidopropyl betaine atau CAPB. Karena itu, pasta gigi Non-SLS tetap dapat menghasilkan busa dengan karakter berbeda.

Jumlah busa juga dapat berbeda antara satu formula dengan formula lainnya. Selain itu, setiap orang dapat merasakan tingkat kenyamanan yang berbeda saat menggunakannya. Label Non-SLS hanya menunjukkan bahwa produk tidak memakai SLS. Jadi, label tersebut tidak otomatis menunjukkan efektivitas perlindungan gigi yang lebih tinggi.

Apakah SLS Berbahaya?

Bagi kebanyakan orang, SLS umumnya aman. Namun, sebagian orang dapat mengalami sensitivitas atau iritasi pada area mulut. Salah satu kondisi yang muncul dalam pembahasan ini ialah sariawan berulang atau recurrent aphthous stomatitis (RAS). Meski demikian, penelitian yang tersedia belum memberikan bukti kuat dan konsisten.

Alli, Erinoso, dan Olawuyi meninjau empat studi kecil pada 2019 dalam Journal of Oral Pathology & Medicine. Kajian tersebut mencakup total 124 orang. Hasilnya menunjukkan kecenderungan pasta gigi bebas SLS mengurangi jumlah, durasi, dan rasa sakit sariawan. Namun, peneliti masih menghadapi keterbatasan pada bukti yang tersedia.

Baca Juga :  Hasil Bosnia Vs Qatar Piala Dunia 2026: Bosnia Menang 3-1, Harapan ke 32 Besar Masih Menyala

Bagian utama temuan tersebut hanya melibatkan 66 orang dari dua studi. Selain itu, kualitas studi yang tersedia belum ideal. Studi lain yang melibatkan Healy dan rekan-rekan justru tidak menemukan perbedaan. Karena itu, penelitian yang lebih besar masih perlu memperkuat temuan tersebut.

Apakah Pasta Gigi Non-SLS Lebih Baik?

Pasta gigi Non-SLS belum tentu menjadi pilihan terbaik bagi semua orang. Namun, pengguna dengan riwayat sariawan berulang dapat mempertimbangkannya jika merasa lebih nyaman. Sebagian orang juga mungkin lebih menyukai sensasi formula tanpa SLS. Meski begitu, kenyamanan tetap menjadi pertimbangan pribadi dalam pemakaian rutin.

Label “SLS-free” juga tidak otomatis berarti pasta gigi lebih efektif mencegah karies. Selain itu, pengguna tetap perlu memperhatikan bahan aktif lain dalam formulanya. Fluoride menjadi salah satu kandungan penting yang perlu mendapat perhatian. Karena itu, pasta gigi SLS atau Non-SLS tidak sebaiknya dinilai hanya dari surfaktannya.

Jangan Lupakan Kandungan Fluoride

Fluoride berperan penting dalam membantu mencegah karies. Karena itu, keberadaan fluoride menjadi perhatian utama saat memilih pasta gigi. Sementara itu, ada atau tidaknya SLS bukan satu-satunya faktor yang menentukan pilihan. Kebiasaan setelah menyikat gigi juga dapat memengaruhi fluoride yang tersisa di permukaan gigi.

Terlalu banyak berkumur dengan air dapat membilas fluoride setelah seseorang menyikat gigi. Karena itu, pengguna dapat meludahkan sisa pasta gigi tanpa langsung berkumur memakai banyak air. Langkah tersebut membantu mempertahankan fluoride yang masih tersisa pada permukaan gigi. Dengan demikian, kebiasaan setelah menyikat turut menjadi bagian penting dalam perawatan gigi.

Pertanyaan penting bukan sekadar memilih pasta gigi dengan busa sedikit atau banyak. Sebaliknya, pengguna perlu memperhatikan kandungan fluoride dan kenyamanan selama pemakaian rutin. Busa banyak tidak otomatis membuat gigi lebih bersih. Begitu pula, busa sedikit tidak berarti pasta gigi memberikan perlindungan lebih rendah.

Jadi, SLS atau Non-SLS?

Tidak ada satu jawaban yang berlaku untuk semua orang. Jika pasta gigi ber-SLS terasa nyaman, pengguna tidak perlu langsung menganggapnya buruk. Sebaliknya, orang dengan sariawan berulang dapat mempertimbangkan Non-SLS jika merasa lebih nyaman. Namun, bukti ilmiah mengenai manfaat tersebut masih awal dan terbatas.

Baca Juga :  Stres Bisa Bikin Berat Badan Melonjak, Dokter Ungkap Bahaya Stress Eating

SLS berfungsi sebagai surfaktan pembentuk busa dan umumnya aman bagi kebanyakan orang. Meski demikian, sebagian pengguna dapat mengalami sensitivitas pada area mulut. Sementara itu, Non-SLS hanya menunjukkan bahwa formula tidak menggunakan SLS. Karena itu, Non-SLS tidak otomatis berarti lebih sehat atau lebih efektif.

Pada akhirnya, pasta gigi SLS atau Non-SLS tidak bisa dinilai hanya berdasarkan banyaknya busa. Pengguna tetap perlu memperhatikan fluoride dan kenyamanan pemakaian rutin. Jadi, busa banyak bukan berarti gigi menjadi lebih bersih. Sebaliknya, busa sedikit juga bukan tanda bahwa pasta gigi kurang efektif. (iD/*)


FAQ

Apa fungsi SLS dalam pasta gigi?

SLS merupakan surfaktan yang membantu menghasilkan busa saat seseorang menyikat gigi. Zat tersebut juga membantu menyebarkan bahan aktif secara merata. Karena itu, pasta gigi ber-SLS biasanya menghasilkan lebih banyak busa. Namun, banyaknya busa tidak menjadi ukuran kebersihan gigi.

Apakah pasta gigi Non-SLS benar-benar tidak berbusa?

Tidak selalu, karena produsen dapat memakai surfaktan selain SLS. Salah satu contohnya ialah cocoamidopropyl betaine atau CAPB. Karena itu, produk Non-SLS masih dapat menghasilkan busa. Namun, jumlah dan karakter busanya dapat berbeda.

Apakah SLS menyebabkan sariawan?

Sejumlah studi kecil menunjukkan kemungkinan hubungan dengan sariawan berulang pada sebagian orang. Namun, bukti penelitian tersebut masih terbatas. Studi lain bahkan tidak menemukan perbedaan antara formula SLS dan bebas SLS. Karena itu, penelitian yang lebih besar masih diperlukan.

Apakah pasta gigi Non-SLS selalu lebih baik?

Tidak, karena kebutuhan dan kenyamanan setiap pengguna dapat berbeda. Sebagian orang dengan sariawan berulang mungkin merasa lebih nyaman memakai Non-SLS. Namun, label bebas SLS tidak otomatis membuat produk lebih efektif. Pengguna tetap perlu memperhatikan kandungan lain, terutama fluoride.

Mana yang lebih penting, busa atau fluoride?

Busa tidak menentukan tingkat kebersihan gigi. Sebaliknya, gerakan menyikat membersihkan permukaan gigi secara mekanis. Fluoride juga berperan membantu mencegah karies. Karena itu, kandungan fluoride dan kenyamanan pemakaian lebih penting daripada banyaknya busa.

Berita Terkait

Mimpi Saat Demam Terasa Aneh dan Menakutkan? Pakar Jelaskan Penyebabnya
Mau Iuran BPJS Ditanggung Pemerintah? Ini Syarat dan Cara Pindah dari BPJS Mandiri ke PBI
Kencing Tak Tuntas Jangan Diabaikan, Dokter Ingatkan Dampaknya terhadap Fungsi Ginjal
Waktu Tidur Ideal Tak Selalu 8 Jam, Studi Ungkap Kebutuhan Tiap Orang Berbeda-beda
BPJS Kesehatan dan Asuransi Komersial Kini Bisa Dipakai Bersamaan, Begini Mekanismenya
2 Rumah Sakit, 21 Puskesmas, dan 1 Labkesda di Kerinci Berstatus BLUD, Layanan Lebih Fleksibel
Bahaya Asap Karhutla, Kemenkes Ingatkan Risiko Gangguan Pernapasan hingga Jantung
Kasus Kanker pada Usia Muda Semakin Meningkat, 11 Jenis Ini Perlu Jadi Perhatian
Berita ini 14 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 19:00 WIB

Mimpi Saat Demam Terasa Aneh dan Menakutkan? Pakar Jelaskan Penyebabnya

Kamis, 10 September 2026 - 11:00 WIB

Pasta Gigi SLS atau Non-SLS, Mana yang Lebih Baik untuk Gigi dan Mulut?

Senin, 7 September 2026 - 13:00 WIB

Mau Iuran BPJS Ditanggung Pemerintah? Ini Syarat dan Cara Pindah dari BPJS Mandiri ke PBI

Minggu, 6 September 2026 - 07:00 WIB

Kencing Tak Tuntas Jangan Diabaikan, Dokter Ingatkan Dampaknya terhadap Fungsi Ginjal

Sabtu, 5 September 2026 - 22:00 WIB

Waktu Tidur Ideal Tak Selalu 8 Jam, Studi Ungkap Kebutuhan Tiap Orang Berbeda-beda

Berita Terbaru