Ciri-ciri Ginjal Bermasalah yang Perlu Diwaspadai, dari Urine Berubah hingga Kaki Bengkak

Kenali perubahan tubuh yang dapat berkaitan dengan gangguan fungsi ginjal dan langkah pemeriksaannya.

- Jurnalis

Sabtu, 12 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ciri-ciri Ginjal Bermasalah yang Perlu Diwaspadai, dari Urine Berubah hingga Kaki Bengkak. (Gambar: Ilustrasi AI)

Ciri-ciri Ginjal Bermasalah yang Perlu Diwaspadai, dari Urine Berubah hingga Kaki Bengkak. (Gambar: Ilustrasi AI)

Intiperistiwa.com — Mengenali ciri-ciri ginjal bermasalah penting karena gangguan organ ini sering tidak menimbulkan gejala awal. Ginjal menyaring limbah dari darah serta mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit. Selain itu, organ ini membantu tubuh menjaga tekanan darah. Ketika fungsi ginjal menurun, berbagai proses penting tersebut dapat ikut terganggu.

Masalah ginjal tidak selalu berarti seseorang mengalami gagal ginjal. Diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, infeksi, dan batu ginjal dapat memengaruhi fungsi organ tersebut. Namun, beberapa masalah kesehatan lain juga dapat menimbulkan keluhan serupa. Karena itu, dokter perlu melakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebab secara tepat.

Ciri-ciri Ginjal Bermasalah yang Perlu Diwaspadai

1. Mudah Lelah dan Lemah

Penyakit ginjal yang berkembang dapat membuat seseorang lebih mudah lelah. Salah satu penyebabnya berkaitan dengan anemia akibat gangguan fungsi ginjal. Ginjal menghasilkan hormon eritropoietin yang membantu tubuh membentuk sel darah merah. Namun, penurunan fungsi ginjal dapat mengganggu produksi hormon tersebut.

Anemia dapat membuat tubuh terasa lemah dan cepat lelah. Selain itu, seseorang dapat mengalami kesulitan berkonsentrasi. Beberapa orang juga dapat merasakan sesak napas. Karena itu, keluhan berkepanjangan perlu mendapat perhatian, terutama jika muncul bersama gejala lainnya.

2. Perubahan pada Urine

Perubahan urine dapat menjadi salah satu ciri-ciri ginjal bermasalah. Seseorang mungkin mengalami urine berbusa terus-menerus atau melihat warna kemerahan maupun kecokelatan. Selain itu, gangguan ginjal dapat memengaruhi frekuensi buang air kecil. Namun, perubahan tersebut tidak selalu menunjukkan penyakit ginjal.

Urine berbusa dapat berkaitan dengan albumin atau protein dalam urine. Ginjal yang mengalami kerusakan dapat kehilangan kemampuan menahan protein dalam darah. Akibatnya, protein dapat keluar bersama urine. Meski demikian, urine berbusa sesekali tidak otomatis menandakan penyakit ginjal.

3. Kulit Kering dan Gatal

Kulit sangat gatal tanpa penyebab jelas dapat muncul pada penyakit ginjal yang lebih lanjut. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan penumpukan zat sisa dalam tubuh. Selain itu, gangguan keseimbangan mineral juga dapat memengaruhi kondisi kulit. Namun, rasa gatal memiliki banyak kemungkinan penyebab lain.

Alergi, penyakit kulit, dan penggunaan obat tertentu juga dapat menyebabkan keluhan tersebut. Karena itu, seseorang sebaiknya tidak langsung menyimpulkan gangguan ginjal hanya berdasarkan rasa gatal. Dokter dapat menilai keluhan berdasarkan gejala lain dan riwayat kesehatan. Pemeriksaan menjadi penting jika rasa gatal berlangsung lama.

4. Kaki, Pergelangan Kaki, atau Wajah Membengkak

Ginjal membantu tubuh membuang kelebihan cairan dan garam. Ketika fungsinya menurun, tubuh dapat menyimpan cairan secara berlebihan. Akibatnya, pembengkakan dapat muncul pada kaki, pergelangan kaki, tangan, atau bagian tubuh lain. Selain itu, sebagian orang dapat mengalami wajah yang terlihat lebih sembap.

Dokter menyebut penumpukan cairan tersebut sebagai edema. Namun, penyakit lain juga dapat menyebabkan pembengkakan serupa. Karena itu, seseorang tidak dapat memakai edema sebagai satu-satunya tanda gangguan ginjal. Pemeriksaan medis dapat membantu menentukan penyebab pembengkakan.

Baca Juga :  5 Makanan Ini Sebaiknya Jangan Disimpan dalam Wadah Plastik

5. Nyeri pada Area Pinggang

Nyeri punggung atau pinggang dapat berkaitan dengan masalah tertentu pada sistem kemih. Batu ginjal dan infeksi ginjal termasuk kondisi yang dapat memicu keluhan tersebut. Selain itu, nyeri akibat batu ginjal dapat menjalar menuju perut bawah atau selangkangan. Rasa sakit pada kondisi tersebut juga dapat terasa cukup kuat.

Namun, penyakit ginjal kronis tidak selalu menyebabkan nyeri pinggang. Banyak kondisi lain juga dapat memicu sakit pada area tersebut. Karena itu, seseorang sebaiknya tidak langsung mengaitkan setiap sakit pinggang dengan gangguan ginjal. Dokter dapat menentukan penyebab melalui pemeriksaan yang sesuai.

6. Mual, Muntah, dan Nafsu Makan Menurun

Penurunan fungsi ginjal yang signifikan dapat meningkatkan penumpukan zat sisa dalam darah. Kondisi tersebut dapat memicu mual, muntah, dan kehilangan nafsu makan. Selain itu, sebagian orang dapat mengalami penurunan berat badan. Pada tahap lanjut, perubahan rasa makanan juga dapat muncul.

Seseorang perlu memperhatikan keluhan jika gejala tersebut muncul bersama perubahan urine. Pembengkakan dan kelelahan berkepanjangan juga perlu mendapat perhatian. Namun, mual dan muntah dapat muncul akibat berbagai kondisi kesehatan. Karena itu, dokter perlu menilai seluruh gejala secara menyeluruh.

7. Sesak Napas atau Sulit Tidur

Penyakit ginjal lanjut dapat menyebabkan sesak napas pada sebagian pasien. Penumpukan cairan dalam tubuh dapat menjadi salah satu penyebabnya. Selain itu, anemia akibat gangguan ginjal dapat memperberat rasa lelah dan sesak. Gangguan tidur juga dapat muncul pada sebagian penderita penyakit ginjal kronis.

Namun, sesak napas memiliki banyak penyebab selain penyakit ginjal. Karena itu, seseorang perlu memperhatikan tingkat keparahan dan gejala penyerta. Segera cari pertolongan medis jika sesak muncul tiba-tiba atau terasa berat. Terlebih lagi, jangan menunda bantuan jika sesak muncul bersama nyeri dada.

Cara Mengetahui Kondisi Ginjal

Gejala saja tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami penyakit ginjal. Bahkan, penyakit ginjal kronis sering tidak menimbulkan keluhan pada tahap awal. Karena itu, dokter menggunakan pemeriksaan darah dan urine untuk menilai fungsi ginjal. Pemeriksaan juga membantu dokter melihat kondisi secara lebih objektif.

Dokter dapat memeriksa kadar kreatinin melalui tes darah. Selanjutnya, dokter dapat memperkirakan estimated glomerular filtration rate atau eGFR. Angka tersebut membantu menilai kemampuan ginjal dalam menyaring darah. Selain itu, dokter dapat memeriksa albumin atau protein melalui sampel urine.

Dokter kemudian menilai hasil pemeriksaan bersama kondisi dan faktor risiko pasien. Diabetes dan tekanan darah tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit ginjal. Selain itu, penyakit jantung dan riwayat keluarga gagal ginjal juga meningkatkan risiko. Karena itu, kelompok tersebut perlu berkonsultasi mengenai pemeriksaan ginjal yang sesuai.

Cara Menangani Ginjal Bermasalah

Penanganan gangguan ginjal berbeda pada setiap orang. Dokter menentukan terapi berdasarkan penyebab dan tingkat kerusakan ginjal. Selain itu, kondisi kesehatan lain juga memengaruhi pilihan pengobatan. Karena itu, pasien sebaiknya mengikuti evaluasi dan anjuran tenaga kesehatan.

Baca Juga :  Arab Saudi menganugerahi Malaysia Sebagai Penyelenggara Haji Terbaik 2026

Mengendalikan Penyebab dan Faktor Risiko

Pengendalian tekanan darah menjadi bagian penting dalam penanganan penyakit ginjal kronis. Langkah tersebut dapat membantu memperlambat perkembangan penyakit. Sementara itu, penderita diabetes perlu menjaga kadar gula sesuai target tenaga kesehatan. Pengendalian kondisi pemicu dapat membantu melindungi fungsi ginjal.

Menyesuaikan Pola Makan

Pola makan dapat menjadi bagian dari penanganan penyakit ginjal. Namun, setiap pasien memiliki kebutuhan yang berbeda. Dokter atau ahli gizi dapat mengatur kebutuhan garam, protein, kalium, fosfor, dan cairan. Karena itu, pasien sebaiknya tidak melakukan pembatasan ekstrem tanpa arahan tenaga kesehatan.

Stadium penyakit dan hasil pemeriksaan menentukan kebutuhan pembatasan makanan. Selain itu, kondisi masing-masing pasien juga memengaruhi pola makan. Pasien tidak perlu menerapkan larangan makanan yang sama dengan pasien lainnya. Dengan demikian, konsultasi gizi dapat membantu menentukan pola makan yang sesuai.

Menggunakan Obat Sesuai Resep

Dokter dapat memberikan obat untuk mengontrol tekanan darah atau menangani komplikasi. Beberapa pasien juga memerlukan terapi untuk anemia atau albumin dalam urine. Selain itu, dokter dapat menggunakan ACE inhibitor atau ARB pada kondisi tertentu. Obat tersebut dapat membantu memperlambat penyakit ginjal pada pasien dengan albuminuria.

Namun, pasien perlu menghindari penggunaan obat atau suplemen secara sembarangan. Obat antiinflamasi nonsteroid dapat membahayakan ginjal pada kondisi tertentu. Ibuprofen dan naproxen termasuk dalam kelompok obat tersebut. Karena itu, pasien dengan faktor risiko perlu berkonsultasi sebelum menggunakan obat secara rutin.

Dialisis atau Transplantasi pada Gagal Ginjal

Pasien dapat memerlukan terapi pengganti jika fungsi ginjal menurun sangat berat. Pilihannya mencakup hemodialisis, dialisis peritoneal, dan transplantasi ginjal. Namun, gagal ginjal tidak selalu membuat seseorang langsung membutuhkan dialisis. Tim medis menentukan keputusan berdasarkan fungsi ginjal, gejala, komplikasi, dan kondisi pasien.

Pasien perlu menjalani evaluasi sebelum dokter menentukan terapi lanjutan. Selain itu, dokter mempertimbangkan kondisi kesehatan secara keseluruhan. Setiap pilihan terapi memiliki pertimbangan yang berbeda bagi setiap pasien. Karena itu, pasien perlu mendiskusikan pilihan bersama tim medis.

Jangan Mengandalkan Gejala Saja

Mengenali ciri-ciri ginjal bermasalah dapat membantu seseorang lebih peka terhadap perubahan tubuh. Namun, seseorang sebaiknya tidak melakukan diagnosis sendiri hanya berdasarkan gejala. Pemeriksaan menjadi semakin penting jika keluhan menetap atau semakin berat. Terlebih lagi, diabetes dan hipertensi meningkatkan risiko gangguan ginjal.

Selain menjaga kesehatan, seseorang juga dapat mempersiapkan perlindungan finansial untuk kebutuhan medis. Peserta BPJS Kesehatan perlu memenuhi kewajiban iuran sesuai ketentuan kepesertaan. Namun, perlindungan finansial tidak menggantikan pemeriksaan dan pengobatan medis. Karena itu, jangan menunda pemeriksaan ketika gejala mengarah pada masalah kesehatan serius. (iD/*)

Berita Terkait

Mimpi Saat Demam Terasa Aneh dan Menakutkan? Pakar Jelaskan Penyebabnya
Pasta Gigi SLS atau Non-SLS, Mana yang Lebih Baik untuk Gigi dan Mulut?
Mau Iuran BPJS Ditanggung Pemerintah? Ini Syarat dan Cara Pindah dari BPJS Mandiri ke PBI
Kencing Tak Tuntas Jangan Diabaikan, Dokter Ingatkan Dampaknya terhadap Fungsi Ginjal
Waktu Tidur Ideal Tak Selalu 8 Jam, Studi Ungkap Kebutuhan Tiap Orang Berbeda-beda
BPJS Kesehatan dan Asuransi Komersial Kini Bisa Dipakai Bersamaan, Begini Mekanismenya
2 Rumah Sakit, 21 Puskesmas, dan 1 Labkesda di Kerinci Berstatus BLUD, Layanan Lebih Fleksibel
Bahaya Asap Karhutla, Kemenkes Ingatkan Risiko Gangguan Pernapasan hingga Jantung
Berita ini 6 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 22:00 WIB

Ciri-ciri Ginjal Bermasalah yang Perlu Diwaspadai, dari Urine Berubah hingga Kaki Bengkak

Kamis, 10 September 2026 - 19:00 WIB

Mimpi Saat Demam Terasa Aneh dan Menakutkan? Pakar Jelaskan Penyebabnya

Kamis, 10 September 2026 - 11:00 WIB

Pasta Gigi SLS atau Non-SLS, Mana yang Lebih Baik untuk Gigi dan Mulut?

Senin, 7 September 2026 - 13:00 WIB

Mau Iuran BPJS Ditanggung Pemerintah? Ini Syarat dan Cara Pindah dari BPJS Mandiri ke PBI

Minggu, 6 September 2026 - 07:00 WIB

Kencing Tak Tuntas Jangan Diabaikan, Dokter Ingatkan Dampaknya terhadap Fungsi Ginjal

Berita Terbaru