4 Ucapan Orang Tua yang Sebaiknya Anda Hindari saat Berbicara dengan Anak

Bangun komunikasi yang mendukung kepercayaan diri, minat, dan tanggung jawab anak.

- Jurnalis

Rabu, 16 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

4 Ucapan Orang Tua yang Sebaiknya Anda Hindari saat Berbicara dengan Anak. (Gambar: Ilustrasi AI)

4 Ucapan Orang Tua yang Sebaiknya Anda Hindari saat Berbicara dengan Anak. (Gambar: Ilustrasi AI)

Intiperistiwa.comUcapan orang tua dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya. Anak menyerap kata-kata yang mereka dengar selama proses tumbuh kembang, terutama ungkapan yang terus berulang. Karena itu, orang tua perlu memperhatikan pilihan kalimat dalam percakapan sehari-hari. Dukungan, penghargaan terhadap proses, dan penerimaan emosi membantu anak merasa berharga serta berani mencoba hal baru.

Margot Machol Bisnow, penulis dan pakar pengasuhan asal Amerika Serikat, mewawancarai 70 orang tua yang membesarkan anak hingga sukses. Dari wawancara tersebut, ia menemukan peran besar komunikasi dalam membentuk perkembangan anak. Menurut Bisnow, orang tua dalam wawancaranya tidak pernah menggunakan empat ungkapan berikut. Temuan itu menyoroti cara mereka memberikan dukungan dan mengenalkan tanggung jawab kepada anak.

1. Ucapan Orang Tua yang Menunjukkan Ketidakpercayaan

“Ayah/ibu tidak percaya kamu, jadi ayah/ibu mengecek PR kamu dan memperbaiki kalau ada yang salah.”

Orang tua perlu mengenalkan tanggung jawab sejak anak berusia dini. Anak membutuhkan kesempatan untuk menghadapi persoalan dan belajar dari kesalahannya sendiri. Karena itu, berikan kepercayaan ketika anak berusaha menyelesaikan masalah. Dengan begitu, anak dapat membangun rasa percaya diri seiring pertambahan usia.

Pengalaman John Arrow, pemilik perusahaan teknologi Mutual Mobile, menggambarkan pentingnya kepercayaan tersebut. Saat kelas lima, John bersama teman-temannya menulis surat kabar sekolah yang langsung habis terjual. Namun, mereka tidak melakukan pengecekan fakta sebelum menerbitkannya. Kepala sekolah marah, dan teman-teman John menghadapi masalah dengan orang tua masing-masing.

Sebaliknya, orang tua John tertawa dan meminta putranya memperbaiki kesalahan tersebut. John mengaku dukungan itu mendorongnya bekerja lebih keras. Ia ingin menunjukkan bahwa orang tuanya telah mengambil keputusan tepat dengan mempercayainya. “Mengetahui orang tua saya akan mendukung saya, bahkan ketika pihak sekolah menentang saya, membuat saya bekerja lebih keras untuk menunjukkan kepada mereka bahwa mereka sudah membuatkan keputusan yang benar karena mempercayai saya,” kata John.

Baca Juga :  Waris Tanpa Anak, Siapa yang Berhak Menerima Harta Peninggalan?

2. Melarang Bermain sampai Nilai Meningkat

“Tidak boleh main sepulang sekolah sampai nilai kamu meningkat”

Sebagian orang tua memaksakan harapan akademis tanpa memahami keinginan dan cita-cita anak. Padahal, tidak semua anak menempatkan pencapaian akademis sebagai minat utamanya. Aktivitas bermain memberi anak kesempatan belajar bersosialisasi, menyusun aturan, dan membuat kesepakatan. Karena itu, dukungan terhadap minat anak perlu mencakup kesempatan bermain yang membantu mereka belajar mengambil keputusan.

3. Menawarkan Uang untuk Memenuhi Semua Keinginan

“Ayah/ibu memberi tambahan uang saku supaya kamu bisa membeli apapun yang kamu mau.”

Ucapan orang tua yang menjanjikan pemenuhan seluruh keinginan dapat mengurangi kesempatan anak belajar tanggung jawab. Selain itu, kebiasaan memanjakan anak dengan uang berisiko melemahkan motivasi dan memicu kemarahan ketika keinginannya tidak terpenuhi. Pola tersebut dapat menghambat kematangan emosi serta kemampuan menghadapi masalah saat dewasa. Karena itu, jelaskan kegunaan uang saku dan sediakan fasilitas yang membantu anak menabung.

4. Menjadikan Uang Jajan sebagai Imbalan Nilai Bagus

“Ayah-ibu akan kasih uang jajan kalau kamu mendapat nilai bagus.”

Bisnow menyarankan orang tua menghindari pemberian uang sebagai imbalan nilai bagus atau penyelesaian tugas sekolah. Fokus berlebihan pada nilai dapat membuat orang tua mengabaikan potensi anak dalam bidang lain. Meski demikian, nilai dan prestasi sekolah tetap memiliki peran penting dalam perkembangan anak. Orang tua perlu mendukung berbagai aspek kehidupan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang utuh dan positif.

Baca Juga :  Air Dispenser Panas Semua? Kenali Penyebab dan Cara Memperbaikinya

Ucapan orang tua sebaiknya memberi ruang bagi anak untuk belajar, mencoba, dan bertanggung jawab. Ungkapan buruk dapat membuat anak minder dan meninggalkan luka emosional. Sebaliknya, penghargaan terhadap proses, penerimaan emosi, dan dukungan terhadap minat membantu anak membangun kepercayaan diri. Orang tua dapat menggunakan percakapan sehari-hari untuk menunjukkan dukungan sekaligus mengenalkan tanggung jawab kepada anak. (iD/*)


FAQ

1. Mengapa ucapan orang tua penting bagi perkembangan anak?

Anak menyerap kata-kata yang mereka dengar dalam keseharian. Ucapan orang tua dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya dan lingkungan. Karena itu, dukungan serta penghargaan terhadap proses memiliki peran dalam membangun rasa berharga. Penerimaan emosi juga membantu anak mengembangkan kepercayaan diri dan keberanian mencoba hal baru.

2. Bagaimana orang tua menyikapi kesalahan anak?

Berikan kesempatan kepada anak untuk memahami dan memperbaiki kesalahannya. Orang tua tetap perlu menekankan tanggung jawab sejak dini. Selain itu, tunjukkan kepercayaan ketika anak berusaha menyelesaikan masalah. Pengalaman tersebut memberi anak kesempatan belajar dan membangun rasa percaya diri.

3. Bagaimana orang tua mengenalkan tanggung jawab melalui uang saku?

Jelaskan kegunaan uang saku kepada anak. Hindari kebiasaan memberikan tambahan uang untuk memenuhi seluruh keinginannya. Selanjutnya, sediakan fasilitas yang membantu anak menabung. Langkah tersebut memberi anak kesempatan mempelajari kegunaan uang dan tanggung jawab.

Berita Terkait

Waris Tanpa Anak, Siapa yang Berhak Menerima Harta Peninggalan?
9 Cara Sederhana Membuat Kamar Sejuk Tanpa AC
Cara Mengusir Semut di Rumah Secara Alami, Kenali Penyebab dan Langkah Pencegahannya
7 Cara Mendidik Anak Laki-Laki agar Mandiri, Tangguh, dan Mampu Mengendalikan Emosi
Cara Membagi Rumah Warisan Jika Ahli Waris Lebih dari Satu, Ini Aturan yang Perlu Dipahami
Bantal Menguning karena Keringat? Begini Cara Membersihkannya
Tagihan Listrik Bisa Naik karena Pemanas Air? Begini Cara Memilih Sistem yang Lebih Efisien
Air Dispenser Panas Semua? Kenali Penyebab dan Cara Memperbaikinya
Berita ini 14 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 13:00 WIB

Waris Tanpa Anak, Siapa yang Berhak Menerima Harta Peninggalan?

Rabu, 16 September 2026 - 10:00 WIB

4 Ucapan Orang Tua yang Sebaiknya Anda Hindari saat Berbicara dengan Anak

Rabu, 16 September 2026 - 07:00 WIB

9 Cara Sederhana Membuat Kamar Sejuk Tanpa AC

Minggu, 13 September 2026 - 22:00 WIB

Cara Mengusir Semut di Rumah Secara Alami, Kenali Penyebab dan Langkah Pencegahannya

Rabu, 9 September 2026 - 19:00 WIB

7 Cara Mendidik Anak Laki-Laki agar Mandiri, Tangguh, dan Mampu Mengendalikan Emosi

Berita Terbaru

Cara Anjing dan Kucing Melihat Warna, Benarkah Mereka Buta Warna? (Foto: Getty Images/manchestereveningnews)

Pendidikan

Cara Anjing dan Kucing Melihat Warna, Benarkah Mereka Buta Warna?

Minggu, 20 Sep 2026 - 13:00 WIB