Intiperistiwa.com — Dalam forum keagamaan, cara penceramah menyampaikan pesan ikut memengaruhi bagaimana jemaah menerima dakwah. Humor dapat membantu mencairkan suasana, tetapi bahan candaan tetap perlu mempertimbangkan martabat orang yang hadir. Ucapan yang menyasar perempuan karena usia atau penampilan berisiko menggeser perhatian dari pesan keagamaan menuju persoalan kesantunan. Karena itu, polemik ceramah Habib Alwi Assegaf menyentuh tanggung jawab penceramah di ruang publik. Persoalan ini tidak berhenti pada perdebatan di media sosial. Penilaian terhadap ucapan juga perlu berpijak pada rekaman serta konteks yang memadai, bukan hanya potongan yang beredar.
Pada saat yang sama, pemberitaan perlu membedakan isi ucapan dalam video, identitas sosok yang tampil, dan tanggapan tokoh atau lembaga. Pembedaan ini membantu mencegah kritik publik berkembang menjadi kesimpulan yang melampaui bukti. Rekaman tersebut membahas honor ceramah, santriwati, dan jemaah perempuan lanjut usia. Sementara itu, komentar KH M Cholil Nafis menunjukkan respons seorang pimpinan MUI terhadap materi yang menjadi sorotan. Dengan memisahkan kedua unsur itu, pembaca bisa memahami alasan polemik sekaligus melihat batas informasi yang sudah terkonfirmasi.
Cholil Nafis Minta Umat Tak Lagi Mengundang Habib Alwi Assegaf
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, meminta umat Islam tidak lagi menghadiri majelis atau mengundang Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf sebagai penceramah. Ia menyampaikan seruan tersebut setelah potongan video ceramah menuai kritik di media sosial.
Dalam artikel resmi MUI, Cholil menilai materi ceramah tersebut tidak mencerminkan etika dan keteladanan seorang dai. Ia juga menilai ucapan itu berpotensi merusak citra dakwah Islam serta moral masyarakat.
Melalui akun X pribadinya, @cholilnafis, Cholil menyampaikan imbauan pada Ahad, 18 Oktober 2026. Ia menulis:
“Sodare-sodare, jangan undang lagi dan tak usah diikuti majelisnya orang model gini ya,”
Cholil, yang juga menjabat Rais Syuriah PBNU, menegaskan bahwa status sosial atau latar belakang penceramah tidak membenarkan ucapan yang mengabaikan kesantunan. Ia kemudian menyampaikan kritik lebih lanjut terhadap isi ceramah tersebut.
“Seperti ceramahnya asli ini. Begini ini mau apapun statusnya tak layak menjadi penceramah. Bikin rusak agama dan manusia dengan ceramah model gini. Boro-boro menyebarkan Islam, malah ini yang merusak Islam,”
Isi Video Ceramah Habib Alwi Assegaf yang Memicu Kritik
Menurut artikel resmi MUI, warganet mengidentifikasi sosok dalam rekaman sebagai Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf melalui komentar di berbagai platform digital. Rekaman tersebut memuat pembicaraan tentang tarif ceramah dan sejumlah candaan mengenai perempuan.
Dalam video itu, penceramah mengklaim tarif ceramah terendahnya mencapai Rp75 juta. Setelah membicarakan honorarium, ia meminta santri perempuan keluar dengan alasan ingin mencari calon istri keempat.
Pernyataan tersebut muncul dalam kutipan berikut:
“Keluarkan santri-santri perempuan. Santri laki-laki gue udah eneg. Perempuan, keluarin ane mau pilih. Mudah-mudahan ada santri perempuan yang mau saya jadiin istri keempat,”
Rekaman yang sama juga memuat ucapan mengenai jemaah perempuan lanjut usia. Naskah sumber menyebut bahwa komentar tersebut menyasar emak-emak berusia di atas 60 tahun yang menghadiri majelisnya.
Penceramah itu kemudian melontarkan pernyataan berikut:
“Enggak ada pahalanya ceramah depan emak-emak, ngotor-ngotorin mata. Tapi kalau perawan seger. Maaf-maaf nih, ane begini, aye tukang becanda,”
Ucapan tersebut memicu kritik karena menjadikan santriwati dan perempuan lanjut usia sebagai sasaran candaan. Sementara itu, Cholil Nafis menilai materi tersebut tidak mencerminkan keteladanan seorang dai. Polemik ini menyoroti pentingnya menjaga kesantunan ketika penceramah menyampaikan pesan keagamaan di hadapan jemaah. (iD/*)











Komentar