Anak Remaja Mulai Menjaga Jarak? Psikolog Ungkap Cara Tepat Membangun Komunikasi Yang Baik

Orang tua perlu membangun kedekatan sebelum mengajak anak berbicara tentang masalahnya

- Jurnalis

Kamis, 2 Juli 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Anak Remaja Mulai Menjaga Jarak? Psikolog Ungkap Cara Tepat Membangun Komunikasi Yang Baik. (Foto: iStock/parapuan)

Anak Remaja Mulai Menjaga Jarak? Psikolog Ungkap Cara Tepat Membangun Komunikasi Yang Baik. (Foto: iStock/parapuan)

Intiperistiwa.comMenghadapi remaja yang mulai menjaga jarak sering membuat orang tua merasa khawatir. Anak biasanya menjadi lebih pendiam dan enggan berbagi cerita. Bahkan, komunikasi di dalam keluarga bisa semakin renggang jika kondisi tersebut terus berlangsung. Karena itu, orang tua perlu memilih pendekatan yang tepat agar hubungan kembali membaik.

Psikolog Pritta Tyas mengingatkan orang tua agar tidak terburu-buru mendesak anak untuk terbuka. Ia menyampaikan hal tersebut dalam acara Panduan Tenang Keluarga bersama Grab melalui layanan GrabKeluarga di Bale Nusa, Jakarta, Selasa (30/6/2026). Menurutnya, orang tua sebaiknya memulai dengan mengevaluasi sikap dan cara berkomunikasi selama ini.

Mulai dari Refleksi Diri

Pritta menjelaskan bahwa refleksi diri menjadi langkah awal yang penting. Orang tua perlu menilai apakah ucapan atau tindakan selama ini membuat anak merasa tidak nyaman. Dengan begitu, penyebab renggangnya komunikasi dapat dikenali lebih awal.

Ia menilai sikap yang terlalu menghakimi sering membuat anak memilih memendam perasaan. Selain itu, kebiasaan menyalahkan atau mengambil keputusan sepihak mengenai pergaulan juga dapat mengurangi kepercayaan anak. Karena itu, orang tua sebaiknya mengurangi kebiasaan tersebut agar hubungan tetap terjaga.

Baca Juga :  Pencairan JHT BPJS Ketenagakerjaan Kena Pajak? Menkeu Purbaya Akhirnya Buka Suara

Bangun Kedekatan Lewat Aktivitas Sederhana

Pritta menyarankan orang tua lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak. Namun, kebersamaan itu tidak perlu selalu membahas persoalan yang sedang dihadapi. Justru, suasana santai dapat membantu anak merasa lebih nyaman.

Orang tua dapat mengajak anak bersepeda, berjalan santai saat akhir pekan, atau sekadar menikmati makanan bersama. Aktivitas sederhana tersebut mampu mempererat hubungan emosional. Setelah rasa nyaman tumbuh, anak biasanya mulai bercerita tanpa paksaan.

Ketika komunikasi mulai terbangun, orang tua bisa mengajukan pertanyaan ringan. Misalnya, tanyakan hobi, aktivitas, atau hal yang sedang menarik perhatian anak. Dengan cara itu, percakapan berkembang secara alami tanpa memberikan tekanan.

Kenali Tanda Gangguan Kesehatan Mental

Selain menjaga komunikasi, orang tua juga perlu mengenali tanda awal gangguan kesehatan mental pada remaja. Menurut Pritta, perubahan rutinitas harian menjadi indikator yang paling mudah diamati. Pola makan dan pola tidur biasanya menunjukkan perubahan lebih dulu.

Baca Juga :  Rekomendasi 6 Tablet Rp2 Jutaan Terbaik 2026, Cocok Untuk Kerja Dan Kuliah

Orang tua perlu memperhatikan jika nafsu makan anak menurun drastis atau justru meningkat saat mengalami stres. Selain itu, sulit tidur, sering terbangun pada malam hari, atau mengalami mimpi buruk berulang juga perlu menjadi perhatian. Kondisi tersebut dapat menjadi sinyal awal yang memerlukan penanganan.

Perubahan minat terhadap aktivitas favorit juga patut diwaspadai. Anak yang sebelumnya aktif berolahraga atau mengikuti kegiatan seni bisa tiba-tiba kehilangan semangat. Jika perubahan itu berlangsung terus-menerus, orang tua sebaiknya segera mencari penyebabnya.

Jangan Terburu-buru Menyimpulkan

Pritta mengingatkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu menandakan gangguan kesehatan mental. Orang tua perlu melihat apakah kondisi tersebut berlangsung lebih dari dua hingga tiga minggu. Selain itu, mereka juga perlu mempertimbangkan adanya perubahan besar dalam kehidupan anak.

Apabila berbagai tanda terus muncul, orang tua sebaiknya tidak membuat diagnosis sendiri. Sebaliknya, konsultasi dengan psikolog menjadi langkah yang lebih tepat. Menurut Pritta, pemeriksaan kesehatan mental juga penting sebagai upaya pencegahan, sama seperti pemeriksaan kesehatan fisik secara berkala. (iD/*)

Berita Terkait

Kulit Telur Rebus Susah Dikupas? Coba Metode 10-5-10 yang Sedang Viral
Anak Terlambat Bicara? Kenali Tanda Speech Delay dan Cara Tepat Mengatasinya
MPLS Ramah 2026 Segera Dimulai, Begini Cara Daftar Cek Kesehatan Gratis untuk Siswa Baru
Riset Terbaru Ungkap Durasi Jalan Kaki yang Efektif, Risiko Penyakit Jantung Bisa Turun Drastis
Program MBG Kembali Disalurkan Mulai 13 Juli 2026, BGN Pastikan Distribusi Berjalan Lancar
Masih Sering Masukkan Makanan Panas ke Kulkas? Ketahui Risikonya Sebelum Terlambat
Banyak yang Tidak Tahu! Ternyata Makan Labu Siam Terlalu Banyak Bisa Memicu Efek Samping
Waspada! Wabah Salmonella di 14 Negara Eropa Diduga Berasal dari Mie Instan Rasa Ayam

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:00 WIB

Kulit Telur Rebus Susah Dikupas? Coba Metode 10-5-10 yang Sedang Viral

Rabu, 15 Juli 2026 - 11:00 WIB

Anak Terlambat Bicara? Kenali Tanda Speech Delay dan Cara Tepat Mengatasinya

Selasa, 14 Juli 2026 - 11:00 WIB

MPLS Ramah 2026 Segera Dimulai, Begini Cara Daftar Cek Kesehatan Gratis untuk Siswa Baru

Senin, 13 Juli 2026 - 23:00 WIB

Riset Terbaru Ungkap Durasi Jalan Kaki yang Efektif, Risiko Penyakit Jantung Bisa Turun Drastis

Senin, 13 Juli 2026 - 20:00 WIB

Program MBG Kembali Disalurkan Mulai 13 Juli 2026, BGN Pastikan Distribusi Berjalan Lancar

Berita Terbaru