Di Tempat Ini, Hujan Turun Puluhan Tahun Sekali, Tapi yang Turun Malah Bukan Air

Titan memiliki siklus cuaca unik dengan hujan metana yang muncul setelah jeda puluhan tahun.

- Jurnalis

Rabu, 12 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Di Tempat Ini, Hujan Turun Puluhan Tahun Sekali, Tapi yang Turun Malah Bukan Air. (Foto: SpaceDaily/achmadnurhidayat)

Di Tempat Ini, Hujan Turun Puluhan Tahun Sekali, Tapi yang Turun Malah Bukan Air. (Foto: SpaceDaily/achmadnurhidayat)

Intiperistiwa.com – Bayangkan sebuah dunia yang tidak mengalami hujan selama puluhan tahun. Namun, ketika hujan datang, badai dahsyat justru dapat menyertai fenomena tersebut. Kondisi unik itu kemungkinan terjadi di Titan, satelit alami terbesar Saturnus. Penelitian terbaru menunjukkan wilayah khatulistiwa Titan ternyata masih mengalami hujan.

Hujan di wilayah tersebut memiliki perbedaan besar dari hujan di Bumi. Metana menggantikan air dalam siklus cuaca Titan. Zat tersebut dapat membentuk awan, sungai, danau, hingga hujan. Bahkan, hujan metana dapat muncul setelah jeda puluhan tahun.

Suhu Ekstrem Membuat Metana Menggantikan Air

Titan memiliki suhu permukaan sekitar minus 179 derajat Celsius. Pada kondisi tersebut, air membeku dengan tingkat kekerasan seperti batu. Sebaliknya, metana tetap dapat berbentuk cair dalam lingkungan Titan. Karena itu, metana menjalankan peran penting dalam siklus cuaca satelit tersebut.

Titan menjadi satu-satunya benda langit selain Bumi yang memiliki siklus cuaca lengkap. Di Bumi, air menguap lalu membentuk awan sebelum turun sebagai hujan. Sementara itu, Titan menjalankan proses serupa menggunakan metana. Dengan demikian, metana membentuk pola cuaca yang menyerupai siklus air Bumi.

Cassini Temukan Jejak Hujan Metana

Salah satu bukti hujan Titan muncul pada September 2010. Saat itu, wahana Cassini milik NASA mengamati perubahan wilayah khatulistiwa Titan. Area tersebut berubah lebih gelap hanya dalam beberapa hari. Para ilmuwan kemudian menghubungkan perubahan itu dengan hujan metana.

Baca Juga :  8 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 26 Juli 2026, Peluang Dapat Pemain OVR 115-118

Hujan tersebut membasahi hamparan bukit pasir yang sebelumnya kering. Para ilmuwan kemudian mengenal fenomena itu dengan nama Arrow Storm. Temuan tersebut mengubah pemahaman ilmuwan mengenai iklim Titan. Selain itu, pengamatan Cassini memberikan petunjuk penting tentang pola hujan satelit tersebut.

Sebelumnya, model iklim menunjukkan sebagian besar hujan terjadi di wilayah kutub Titan. Kawasan tersebut memiliki konsentrasi danau serta lautan metana yang lebih tinggi. Sementara itu, wilayah khatulistiwa cenderung sangat kering. Hujan hanya muncul sesekali setelah melewati interval waktu yang sangat panjang.

Perubahan Musim Memengaruhi Hujan Titan

Ilmuwan atmosfer Tetsuya Tokano mengaitkan hujan khatulistiwa dengan perubahan musim Titan. Menurutnya, pergantian musim kemungkinan memengaruhi munculnya hujan di kawasan tersebut. “Curah hujan di wilayah khatulistiwa kemungkinan besar terjadi di sekitar periode ekuinoks,” kata Tokano.

SpaceDaily mengutip pernyataan Tokano tersebut pada Senin (10/8/2026). Ia juga menjelaskan bahwa sabuk hujan Titan tidak menetap pada satu wilayah. “Sabuk hujan, meski muncul secara berkala, bergerak dari kutub selatan ke kutub utara. Artinya, setiap wilayah di Titan berpeluang mengalami hujan selama satu tahun Titan,” imbuhnya.

Baca Juga :  QS WUR 2027 Rilis, Ini 20 Kampus Terbaik di Indonesia dan Peringkat Dunianya

Satu tahun di Titan berlangsung sekitar 29,5 tahun dalam hitungan waktu Bumi. Akibatnya, perubahan musim di Titan berjalan sangat lambat. Sebuah wilayah dapat menunggu puluhan tahun sebelum kembali mengalami hujan. Karena itu, pola hujan Titan berbeda jauh dari siklus hujan yang manusia kenal di Bumi.

Badai Metana Ikut Membentuk Lanskap Titan

Meskipun jarang muncul, badai metana kemungkinan memiliki kekuatan cukup besar. Badai tersebut dapat membentuk berbagai bentang alam di permukaan Titan. Hasil pengamatan Cassini menunjukkan keberadaan lembah sungai dan pola erosi. Temuan tersebut memperlihatkan pengaruh hujan terhadap permukaan satelit Saturnus.

Dengan demikian, hujan metana tetap memainkan peran penting dalam perubahan lanskap Titan. Bahkan, hujan yang jarang muncul mampu meninggalkan jejak pada permukaannya. Kondisi tersebut membantu ilmuwan memahami dinamika lingkungan Titan. Pada akhirnya, penelitian ini memperluas pengetahuan tentang cuaca di dunia selain Bumi. (iD/*)

Berita Terkait

IGIC 2026 di Masjid Istiqlal Perkuat Solidaritas Palestina dan Perdamaian Dunia
Di Indonesia Ikan Nila Banyak Dicari, tapi Spesies Ini Jadi Ancaman di Negara Tetangga, Ada Apa?
Gurun Mesir Ternyata Pernah Jadi Laut, Fosil Hiu Purba Ungkap Kehidupan Jutaan Tahun Lalu
Kylian Mbappe Masuk Daftar 26 Target Jaringan Kriminal di Prancis, Diduga Jadi Sasaran Penculikan
Pulau Misterius di Danau Williston Sempat Hilang, Muncul Lagi 32 Kilometer dari Lokasi Awal
Banjir Bandang Dahsyat di Nepal Terjadi Tanpa Hujan Deras, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Karhutla Dunia Hanguskan 112,3 Juta Hektare Lahan, Negara Mana yang Paling Terdampak?
Ethel Caterham Genap 117 Tahun, Orang Tertua di Dunia yang Masih Hidup
Berita ini 22 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 07:00 WIB

IGIC 2026 di Masjid Istiqlal Perkuat Solidaritas Palestina dan Perdamaian Dunia

Sabtu, 19 September 2026 - 19:00 WIB

Di Indonesia Ikan Nila Banyak Dicari, tapi Spesies Ini Jadi Ancaman di Negara Tetangga, Ada Apa?

Minggu, 6 September 2026 - 11:00 WIB

Gurun Mesir Ternyata Pernah Jadi Laut, Fosil Hiu Purba Ungkap Kehidupan Jutaan Tahun Lalu

Jumat, 4 September 2026 - 21:00 WIB

Kylian Mbappe Masuk Daftar 26 Target Jaringan Kriminal di Prancis, Diduga Jadi Sasaran Penculikan

Kamis, 3 September 2026 - 23:00 WIB

Pulau Misterius di Danau Williston Sempat Hilang, Muncul Lagi 32 Kilometer dari Lokasi Awal

Berita Terbaru