Dokter Harvard Beberkan 6 Makanan yang Berpotensi Meningkatkan Risiko Kanker, Apa Saja?

Pola makan berperan penting dalam menjaga kesehatan dan membantu menekan risiko berbagai jenis kanker

- Jurnalis

Rabu, 1 Juli 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Dokter Harvard Beberkan 6 Makanan yang Berpotensi Meningkatkan Risiko Kanker, Apa Saja? (Foto: AI)

Dokter Harvard Beberkan 6 Makanan yang Berpotensi Meningkatkan Risiko Kanker, Apa Saja? (Foto: AI)

Intiperistiwa.com – Kanker masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia, termasuk Indonesia. Jumlah penderitanya terus bertambah setiap tahun. Karena itu, masyarakat perlu memperkuat upaya pencegahan dan deteksi dini. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, Indonesia mencatat sekitar 400 ribu kasus baru kanker setiap tahun. Sementara itu, angka kematian mencapai sekitar 240 ribu kasus.

Tidak semua kasus kanker dapat dicegah. Namun, perubahan gaya hidup dapat membantu menurunkan risikonya. Selain menghindari rokok, masyarakat perlu rutin berolahraga dan menjaga berat badan ideal. Di samping itu, pola makan juga memegang peran penting dalam menjaga kesehatan tubuh.

Dokter spesialis gastroenterologi lulusan Harvard, dr. Saurabh Sethi, mengingatkan masyarakat agar membatasi beberapa jenis makanan. Menurutnya, sejumlah makanan memiliki kaitan dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker. Penjelasan tersebut ia sampaikan melalui unggahannya yang kemudian dikutip Times of India.

“Beberapa makanan yang sering dikonsumsi sehari-hari ternyata memiliki kaitan ilmiah dengan peningkatan risiko kanker. Karena itu, kurangi bahkan hindari jika ingin menjaga kesehatan jangka panjang,” ujar dr. Saurabh Sethi.

1. Daging Olahan

Daging olahan memang praktis dan mudah ditemukan. Namun, dr. Sethi menyarankan masyarakat agar tidak terlalu sering mengonsumsinya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengelompokkan daging olahan sebagai karsinogen Grup 1. Dengan demikian, bukti ilmiah menunjukkan kaitannya dengan peningkatan risiko kanker, terutama kanker kolorektal.

Menurut dr. Sethi, nitrat dan bahan pengawet dalam daging olahan dapat merusak lapisan usus. Akibatnya, perubahan sel berpotensi berkembang menjadi kanker. Sebagai alternatif, masyarakat dapat memilih ayam tanpa lemak, kacang-kacangan, atau lentil. Selain itu, makanan tersebut mengandung serat dan antioksidan yang baik bagi kesehatan usus.

Baca Juga :  Wanita dari Taiwan Alami Sembelit Selama 23 Tahun, Hasil Rontgen Ungkap Kondisi Usus yang Tidak Biasa

2. Minuman Manis

Minuman berpemanis sering menjadi pilihan untuk mengembalikan energi. Akan tetapi, konsumsi gula berlebihan dapat memicu lonjakan gula darah. Selain itu, kebiasaan tersebut juga meningkatkan risiko peradangan kronis. Kondisi itu berkaitan dengan munculnya berbagai jenis kanker.

Di sisi lain, minuman manis juga meningkatkan risiko obesitas. Padahal, obesitas menjadi faktor risiko kanker payudara, pankreas, dan usus besar. Sebagai pengganti, pilih air putih, air kelapa, atau teh herbal tanpa gula. Dengan begitu, tubuh tetap terhidrasi tanpa tambahan gula berlebih.

3. Makanan yang Digoreng

Banyak orang menyukai makanan yang digoreng. Namun, minyak yang digunakan berulang kali dapat menghasilkan akrilamida. Senyawa tersebut memiliki kaitan dengan peningkatan risiko kanker. Selain itu, konsumsi makanan gorengan secara rutin juga meningkatkan stres oksidatif dan peradangan.

Dr. Sethi menyarankan metode memasak yang lebih sehat. Misalnya, masyarakat dapat memanggang makanan atau menggunakan air fryer. Dengan demikian, penggunaan minyak menjadi lebih sedikit sekaligus membantu menjaga kualitas makanan.

4. Daging yang Gosong

Daging bakar memang memiliki cita rasa khas. Meski begitu, proses pembakaran pada suhu tinggi dapat menghasilkan senyawa heterocyclic amines (HCA) dan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH). Kedua senyawa tersebut dapat merusak DNA. Oleh karena itu, risiko terbentuknya sel kanker dapat meningkat jika paparan berlangsung terus-menerus.

Baca Juga :  Harga Emas Antam Turun Lagi! Cek Harga Terbaru per 1 Juli 2026, Buyback Ikut Melemah

Sebagai alternatif, masak daging dengan suhu yang lebih rendah. Selain merebus, masyarakat juga dapat mengukus atau memanggang secara perlahan. Jika tetap ingin membakar daging, marinasi terlebih dahulu sebelum dimasak. Cara tersebut membantu mengurangi pembentukan senyawa berbahaya.

5. Alkohol

Dr. Sethi juga mengingatkan masyarakat mengenai konsumsi alkohol. Bahkan, konsumsi dalam jumlah sedang tetap memiliki kaitan dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker. Risiko tersebut terutama muncul pada kanker payudara dan kanker hati. Selain itu, alkohol dapat memengaruhi kadar hormon estrogen serta mengganggu penyerapan folat.

Sebagai pilihan yang lebih sehat, masyarakat dapat mengonsumsi jus delima atau minuman fermentasi tanpa alkohol. Dengan demikian, tubuh tetap memperoleh asupan minuman tanpa meningkatkan risiko kesehatan akibat alkohol.

6. Ultra Process Food

Makanan ultra-proses, seperti mi instan, makanan siap saji, dan camilan kemasan, memang menawarkan kepraktisan. Namun, produk tersebut umumnya mengandung gula, garam, dan lemak dalam jumlah tinggi. Selain itu, berbagai bahan tambahan juga banyak ditemukan pada makanan jenis ini. Karena itu, konsumsi berlebihan dapat memicu peradangan kronis tingkat rendah.

Dr. Sethi menyarankan masyarakat memperbanyak konsumsi biji-bijian utuh, sayuran, kacang-kacangan, dan aneka biji-bijian. Menurutnya, makanan tersebut membantu mengurangi peradangan. Di samping itu, tubuh juga memperoleh kebutuhan nutrisi yang lebih seimbang untuk menjaga kesehatan jangka panjang. (iD/*)

Berita Terkait

Kulit Telur Rebus Susah Dikupas? Coba Metode 10-5-10 yang Sedang Viral
Anak Terlambat Bicara? Kenali Tanda Speech Delay dan Cara Tepat Mengatasinya
MPLS Ramah 2026 Segera Dimulai, Begini Cara Daftar Cek Kesehatan Gratis untuk Siswa Baru
Riset Terbaru Ungkap Durasi Jalan Kaki yang Efektif, Risiko Penyakit Jantung Bisa Turun Drastis
Program MBG Kembali Disalurkan Mulai 13 Juli 2026, BGN Pastikan Distribusi Berjalan Lancar
Masih Sering Masukkan Makanan Panas ke Kulkas? Ketahui Risikonya Sebelum Terlambat
Banyak yang Tidak Tahu! Ternyata Makan Labu Siam Terlalu Banyak Bisa Memicu Efek Samping
Waspada! Wabah Salmonella di 14 Negara Eropa Diduga Berasal dari Mie Instan Rasa Ayam

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:00 WIB

Kulit Telur Rebus Susah Dikupas? Coba Metode 10-5-10 yang Sedang Viral

Rabu, 15 Juli 2026 - 11:00 WIB

Anak Terlambat Bicara? Kenali Tanda Speech Delay dan Cara Tepat Mengatasinya

Selasa, 14 Juli 2026 - 11:00 WIB

MPLS Ramah 2026 Segera Dimulai, Begini Cara Daftar Cek Kesehatan Gratis untuk Siswa Baru

Senin, 13 Juli 2026 - 23:00 WIB

Riset Terbaru Ungkap Durasi Jalan Kaki yang Efektif, Risiko Penyakit Jantung Bisa Turun Drastis

Senin, 13 Juli 2026 - 20:00 WIB

Program MBG Kembali Disalurkan Mulai 13 Juli 2026, BGN Pastikan Distribusi Berjalan Lancar

Berita Terbaru