Intiperistiwa.com – Peru baru saja menggelar pemilihan presiden pada Minggu waktu setempat. Pemungutan suara ini menarik perhatian karena negara tersebut berpotensi memiliki presiden ke-9 dalam kurun 10 tahun terakhir.
Warga Peru menghadapi pilihan penting di tengah situasi politik yang belum stabil. Selain itu, peningkatan angka kejahatan juga menjadi isu utama yang mewarnai kampanye kedua kandidat.
Mengutip laporan DW, putaran kedua Pilpres Peru 2026 mempertemukan Roberto Sanchez dari kubu sosialis demokrat dan Keiko Fujimori dari kubu neoliberal. Keduanya bersaing ketat untuk memimpin negara selama lima tahun ke depan.
Sebanyak 27 juta warga memiliki hak pilih dalam pemungutan suara kali ini. Mereka akan menentukan arah pemerintahan Peru setelah periode panjang ketidakpastian politik.
Profil Kandidat dan Janji Kampanye
Persaingan menuju putaran kedua berlangsung cukup unik. Pada putaran pertama, sebanyak 35 kandidat ikut memperebutkan kursi kepresidenan.
Keiko Fujimori berhasil melaju setelah mengumpulkan sekitar 17 persen suara. Sementara itu, Roberto Sanchez memperoleh sekitar 12 persen suara dan mengamankan tiket ke putaran penentuan.
Keiko merupakan putri mantan Presiden Alberto Fujimori. Dalam pencalonan presiden keempatnya, ia menawarkan pendekatan keamanan yang lebih tegas.
Ia berjanji memperketat sistem pemasyarakatan dan memperluas keterlibatan militer dalam menjaga keamanan nasional. Langkah tersebut menjadi salah satu fokus utama kampanyenya.
Di sisi lain, Roberto Sanchez menonjolkan agenda reformasi pemerintahan. Anggota kongres sekaligus mantan menteri itu mendapat dukungan dari mantan Presiden Pedro Castillo.
Sanchez berkomitmen menjaga stabilitas ekonomi nasional. Selain itu, ia juga menempatkan pemberantasan korupsi sebagai salah satu prioritas utama pemerintahannya.
Sanchez Hadapi Sorotan Hukum Jelang Pemungutan Suara
Menjelang hari pemilihan, Sanchez menghadapi persoalan hukum yang menyita perhatian publik. Seorang hakim pada Jumat lalu membuka jalan bagi proses persidangan terkait dugaan pelanggaran pendanaan kampanye.
Jaksa menilai terdapat ketidaksesuaian dalam laporan keuangan partai yang mendukung Sanchez. Mereka juga menuduh adanya sumbangan bernilai puluhan ribu dolar yang tidak tercantum dalam laporan resmi.
Meski demikian, Sanchez menolak seluruh tuduhan tersebut. Ia menegaskan tidak melakukan pelanggaran seperti yang dituduhkan oleh pihak penegak hukum.
Delapan Presiden Berganti dalam Satu Dekade
Pilpres kali ini berlangsung setelah Peru mengalami pergantian kepemimpinan yang sangat cepat. Situasi tersebut mencerminkan tingginya dinamika politik dalam beberapa tahun terakhir.
Sejak 2016, Peru telah dipimpin oleh delapan presiden berbeda. Pergantian tersebut terjadi akibat krisis politik, konflik kelembagaan, hingga proses pemakzulan.
Berikut daftar presiden Peru dalam satu dekade terakhir:
- Pedro Pablo Kuczynski (Juli 2016–Maret 2018)
- Martin Vizcarra (Maret 2018–November 2020)
- Manuel Merino (10 November 2020–15 November 2020)
- Francisco Sagasti (November 2020–Juli 2021)
- Pedro Castillo (Juli 2021–Desember 2022)
- Dina Boluarte (Desember 2022–Oktober 2025)
- Jose Jeri (Oktober 2025–Februari 2026)
- Jose Maria Balcazar (Februari 2026–sekarang)
Tantangan Besar Menanti Presiden Terpilih
Siapa pun yang memenangkan Pilpres Peru 2026 akan menghadapi tantangan yang tidak ringan. Fragmentasi politik di parlemen masih menjadi hambatan besar bagi pemerintahan mendatang.
Tidak satu pun kandidat memiliki dukungan mayoritas legislatif. Kondisi tersebut meningkatkan risiko tarik-menarik kepentingan politik setelah pemilu berakhir.
Pemenang Pilpres akan menggantikan Presiden sementara Jose Maria Balcazar. Sesuai jadwal, proses pergantian kepemimpinan akan berlangsung pada 28 Juli mendatang.
Perhatian publik kini tertuju pada hasil pemungutan suara. Masyarakat berharap presiden baru mampu membawa stabilitas setelah satu dekade penuh gejolak politik.(id/*)










Komentar