UGM Kembangkan Pertanian Cerdas Berbasis IoT dan Panel Surya

Teknologi agrovoltaic dari UGM memadukan energi surya dan pertanian demi efisiensi serta pemberdayaan masyarakat.

- Jurnalis

Senin, 15 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

UGM Kembangkan Pertanian Cerdas Berbasis IoT dan Panel Surya. (Foto: AI)

UGM Kembangkan Pertanian Cerdas Berbasis IoT dan Panel Surya. (Foto: AI)

Intiperistiwa.com – Pemanfaatan teknologi di sektor pertanian terus mengalami perkembangan. Kebutuhan pangan yang meningkat mendorong lahirnya berbagai inovasi baru.

Selain itu, efisiensi energi kini menjadi perhatian utama. Karena itu, banyak pihak mulai mengadopsi energi terbarukan untuk mendukung aktivitas pertanian.

Salah satu inovasi tersebut hadir melalui konsep agrovoltaic. Sistem ini menggabungkan produksi listrik dan budidaya tanaman dalam satu lahan.

Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi salah satu pelopornya. Tim peneliti kampus itu menerapkan teknologi PLTS Hybrid Agrovoltaic di Desa Pandowoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Program tersebut menjadi bagian dari pengembangan smart farming. BUMDes Amarta bersama Kelompok Wanita Tani Wastajap Bersinar turut mengelolanya.

Gabungkan Pertanian dan Energi Surya

Ketua tim peneliti UGM, Ahmad Agus Setiawan, menjelaskan tujuan utama program tersebut. Tim ingin mendorong terbentuknya desa berbasis energi terbarukan.

Selain menyediakan teknologi, program ini juga menitikberatkan pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian, warga dapat mengelola sistem secara mandiri.

“Program ini dilaksanakan sebagai upaya pengembangan desa berbasis energi terbarukan melalui penerapan teknologi PLTS Hybrid dan konsep agrivoltaic yang terintegrasi dengan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga :  Kementerian HAM Buka 200 Formasi Penggerak HAM 2026, Catat Syarat dan Jadwal Seleksinya

Agus menjelaskan teknologi agrovoltaic memungkinkan lahan memiliki dua fungsi sekaligus. Lahan dapat menghasilkan listrik sekaligus mendukung pertanian.

Di Desa Pandowoharjo, sistem tersebut mendukung operasional greenhouse. Selain itu, petani menggunakannya untuk membudidayakan berbagai komoditas.

Komoditas tersebut meliputi melon, cabai, pepaya, jagung, kacang tanah, ubi jalar, talas, hingga terong. Karena itu, pemanfaatan lahan menjadi lebih optimal.

PLTS Hybrid Dinilai Lebih Efisien

Tim peneliti memilih sistem PLTS Hybrid dalam proyek tersebut. Sistem ini menggabungkan jaringan listrik dengan penyimpanan energi melalui baterai.

Menurut tim, model tersebut menawarkan efisiensi yang lebih baik. Sistem tidak sepenuhnya bergantung pada baterai maupun jaringan listrik.

Pakar agrometeorologi dan inovasi smart farming Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho, menjelaskan manfaatnya.

Cadangan energi dari baterai dapat menekan konsumsi listrik harian. Akibatnya, biaya operasional menjadi lebih terkendali.

“Cadangan baterai pada PLTS Hybrid membantu menekan biaya konsumsi listrik karena hanya menyerap listrik ketika daya baterai habis,” jelas Bayu.

IoT Permudah Pengelolaan Lahan

Program ini juga memanfaatkan teknologi Internet of Things atau IoT. Teknologi tersebut membantu petani memantau kondisi lahan secara real time.

Baca Juga :  Gerhana Bulan Parsial 27–28 Agustus 2026 Tutupi 96 Persen Permukaan Bulan, Apakah Bisa Dilihat dari Indonesia?

Sensor yang terpasang mampu membaca kondisi tanah dan cuaca. Selanjutnya, data tersebut membantu pengambilan keputusan di lapangan.

Petani dapat menentukan waktu penyiraman dengan lebih tepat. Mereka juga dapat mengantisipasi perubahan cuaca lebih cepat.

Dengan demikian, produktivitas lahan berpeluang meningkat. Sementara itu, penggunaan sumber daya menjadi lebih efisien.

Libatkan Warga demi Keberlanjutan

Tim peneliti tidak bekerja sendiri dalam menjalankan program tersebut. Mereka melibatkan berbagai unsur masyarakat setempat.

BUMDes Amarta, kelompok tani, serta pemuda karang taruna ikut berpartisipasi. Mereka terlibat sejak proses perakitan hingga penyusunan prosedur operasional.

Bayu menilai kolaborasi tersebut sangat penting. Keberlanjutan program bergantung pada kemampuan masyarakat mengelola teknologi.

“Kita mengikutsertakan BUMDes Amarta dalam penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) sederhana, sehingga keberlanjutan program dapat terjamin,” paparnya.

Selain meningkatkan efisiensi, integrasi PLTS dan agrovoltaic juga menjadi langkah adaptasi terhadap perubahan iklim. Oleh karena itu, inovasi seperti ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam membangun pertanian modern yang ramah lingkungan sekaligus memberdayakan masyarakat.(id/*)

Berita Terkait

Belum Terdaftar Bansos? Ini Cara Mengusulkan Diri Jadi Penerima Bansos
ATR/BPN Targetkan Balik Nama Sertifikat Tanah Selesai 10 Hari, Kenali Tahapan dan Persyaratan untuk Ahli Waris
Benarkah dari NIK Bisa Mengetahui Seseorang Bermain Judi Online? Ini Penjelasannya
Mentan Ungkap 25 Merek Beras Fortifikasi Diduga Palsu, Taksir Kerugian Konsumen Rp89 Triliun
Tak Perlu Datang ke Dukcapil, Data Pendidikan di KK Kini Bisa Diubah Secara Online, Ini Cara dan Syaratnya
Tidak Semua Dokumen Kependudukan Boleh Mencantumkan Gelar, Simak Aturan dan Cara Menambahkannya
Pemerintah Siapkan Bansos Tunai hingga Rp5,4 Juta per Keluarga, Uji Coba Dimulai Kuartal I-II 2027
Sebelum Memberi Nama pada Anak, Kenali Nama yang Tidak Boleh Dicantumkan dalam KK, Akta, dan KTP
Berita ini 7 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 13:00 WIB

Belum Terdaftar Bansos? Ini Cara Mengusulkan Diri Jadi Penerima Bansos

Sabtu, 19 September 2026 - 07:00 WIB

ATR/BPN Targetkan Balik Nama Sertifikat Tanah Selesai 10 Hari, Kenali Tahapan dan Persyaratan untuk Ahli Waris

Jumat, 18 September 2026 - 22:00 WIB

Benarkah dari NIK Bisa Mengetahui Seseorang Bermain Judi Online? Ini Penjelasannya

Rabu, 16 September 2026 - 19:00 WIB

Mentan Ungkap 25 Merek Beras Fortifikasi Diduga Palsu, Taksir Kerugian Konsumen Rp89 Triliun

Selasa, 15 September 2026 - 07:00 WIB

Tak Perlu Datang ke Dukcapil, Data Pendidikan di KK Kini Bisa Diubah Secara Online, Ini Cara dan Syaratnya

Berita Terbaru