Intiperistiwa.com – Pemerintah Iran menegaskan Selat Hormuz masih akan tetap di tutup menyusul eskalasi konflik di Lebanon selatan. Keputusan tersebut muncul bersamaan dengan berlangsungnya perundingan antara Iran dan Amerika Serikat di Swiss. Kedua negara sebelumnya menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) sebagai langkah menuju penyelesaian konflik yang berkepanjangan.
Kantor berita Tasnim melaporkan bahwa Iran belum berencana membuka kembali jalur pelayaran tersebut. Media itu mengutip sumber pejabat Iran yang mengetahui proses negosiasi antara Teheran dan Washington. Menurut sumber tersebut, Iran akan mempertahankan penutupan Selat Hormuz selama pihak-pihak terkait belum menghormati gencatan senjata di Lebanon.
Selain itu, sumber yang sama menyebut Iran juga menunggu penerbitan izin yang memungkinkan ekspor minyak negara tersebut berjalan kembali. Karena itu, pemerintah Iran belum mengambil langkah untuk membuka akses pelayaran di kawasan strategis tersebut.
Garda Revolusi Belum Beri Izin Kapal Melintas
Laporan serupa juga datang dari kantor berita Fars. Media itu mengutip sumber militer yang menyatakan bahwa Selat Hormuz masih berada dalam status penutupan. Hingga saat ini, Angkatan Laut Garda Revolusi Iran belum memberikan izin kepada kapal mana pun untuk melintasi jalur tersebut.
Pihak militer menyatakan kebijakan itu tetap berlaku sampai ada pemberitahuan lanjutan. Dengan demikian, aktivitas pelayaran di salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia masih menghadapi ketidakpastian.
Sebelumnya, Iran dan Amerika Serikat telah menyepakati gencatan senjata selama 60 hari. Kesepakatan itu bertujuan membuka ruang negosiasi menuju perdamaian yang lebih permanen. Namun, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Sabtu lalu mengumumkan penutupan Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon.
IRGC menilai serangan tersebut bertentangan dengan kesepakatan yang telah di capai antara Iran dan Amerika Serikat. Oleh karena itu, mereka mengambil langkah yang di anggap sebagai bentuk respons terhadap perkembangan situasi di kawasan.
Klaim Iran di Bantah Amerika Serikat
Meski demikian, militer Amerika Serikat membantah pernyataan mengenai terganggunya lalu lintas pelayaran. Pihak militer AS menyatakan aktivitas kapal di kawasan itu masih berlangsung sebagaimana mestinya.
Di sisi lain, seorang pejabat Amerika Serikat mengungkapkan bahwa Israel dan Hizbullah telah menyepakati gencatan senjata pada Jumat, 19 Juni 2026. Kesepakatan tersebut muncul setelah rangkaian serangan udara Israel di Lebanon selatan yang menewaskan 47 orang.
Menurut laporan BBC, upaya penghentian pertempuran itu berlangsung di tengah kekhawatiran meningkatnya konflik regional. Sejumlah pihak menilai bentrokan yang terus berlanjut dapat mengganggu proses perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat.
Kekhawatiran tersebut semakin menguat setelah serangan Hizbullah di laporkan menewaskan empat tentara Israel di wilayah Lebanon. Insiden itu memicu ketegangan baru meski berbagai pihak sedang mendorong proses diplomasi.
Militer Israel mengonfirmasi bahwa gencatan senjata telah mulai berlaku. Namun, tidak lama setelah pengumuman tersebut, juru bicara militer Israel menegaskan pasukannya tetap akan bergerak menghadapi setiap ancaman yang muncul secara langsung.
Sementara itu, Hizbullah belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait kesepakatan gencatan senjata tersebut. Meski begitu, Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassem, menyatakan bahwa upaya untuk menghancurkan Hizbullah tidak berhasil. (id/*)










Komentar